Melihat Bedug Pendowo, Bedug Raksasa dari Purworejo

Kompas.com - 28/07/2015, 14:17 WIB
Pengunjung berfoto dengan bedug pendowo di Masjid Darul Muttaqin Purworejo, Jawa Tengah KOMPAS.com/Mentari ChairunisaPengunjung berfoto dengan bedug pendowo di Masjid Darul Muttaqin Purworejo, Jawa Tengah
|
EditorI Made Asdhiana

PURWOREJO, KOMPAS.com - Masjid kerap dijadikan sebagai destinasi wisata bagi para pelancong. Keunikan arsitektur hingga sejarah yang tersimpan dalam rumah ibadah ini menjadi daya tarik tersendiri yang mengundang untuk dikunjungi.

Seperti halnya Masjid Darul Muttaqin Purworejo, Jawa Tengah. Sekilas, tidak ada yang istimewa dari bangunan masjid yang berdiri sejak tahun 1834 tersebut. Namun, saat melangkah ke dalam, pandangan mata akan tertuju pada sebuah bedug raksasa yang berada tepat di sebelah kiri serambi masjid.

KOMPAS.com/Mentari Chairunisa Bedug pendowo merupakan bedug raksasa yang dibuat pada abad ke-18 dan dinobatkan sebagai bedug terbesar di dunia kala itu.

Bedug Pendowo, begitulah bedug ini biasa disebut. Benda berbentuk tabung tersebut memiliki diameter sepanjang rentangan tangan orang dewasa. Tak heran jika bedug pendowo menjadi daya tarik tersendiri bagi masjid yang berada tepat di sebelah barat Alun-alun Purworejo.

Decak kagum kerap terlempar dari para pengunjung masjid saat melihat bedug yang dulunya digadang-gadang sebagai bedug terbesar di dunia. Pemilihan ukuran yang di luar kebiasaan itu bukan tanpa alasan.

Dahulu, Adipati Cokronagoro I selaku Bupati Purworejo kala itu menginginkan Masjid Darul Muttaqin ramai dikunjungi para jamaah. Karena itu dia memerintahkan untuk membuat bedug yang besar agar suaranya juga lantang terdengar hingga kejauhan.

KOMPAS.com/Mentari Chairunisa Masjid Darul Muttaqin, tempat adanya bedug pendowo, terletak di sebelah barat Alun-alun Purworejo

Kayu jati bercabang lima atau biasa disebut sebagai pohon jati pendowo yang berasal dari Desa Pendowo, Kecamatan Purwodadi, Purworejo dipilih sebagai bahan bedug raksasa ini. Sementara untuk bagian tabuhannya terbuat dari kulit banteng.

Selain memiliki ukuran yang besar, bedug pendowo juga memiliki kisah yang menarik dan membuat bedug pendowo istimewa meski usianya hampir dua abad. Sulamtomi (45), pengelola Masjid Darul Muttaqin, ingat betul cerita yang disampaikan para leluhurnya tentang bedug pendowo.

“Susah ini dibuatnya, karena ukurannya juga besar dan alatnya enggak kayak sekarang. Kayunya juga bawanya digelundungin dari desanya sampai ke sini,” ujar pria yang akrab disapa Tomi ini.

Tak hanya proses pembuatannya yang sulit dan memakan waktu hingga tiga tahun, proses perawatan bedug pendowo juga tak bisa dikatakan mudah. Kesulitan dirasa khususnya pada bagian tabuhan bedug. Seringnya bedug ditabuh tentu membuat kulit tabuhannya semakin menipis. Sementara saat ini menurut Tomi cukup sulit menemukan sapi maupun kerbau dengan ukuran sebesar itu.

Seketika Tomi teringat kisah yang biasa ia dengar. Konon, para pengelola masjid dulu tidak perlu repot mencari kulit sapi sebagai pengganti jika bagian tabuhannya rusak atau sobek. Sebab, para sapi tersebut dengan sukarela mendatangi Masjid Darul Muttaqien.

“Dulu sejarahnya ada sapinya dateng sendiri, dia tahu mungkin atau gimana ya?” cerita Tomi.

Kini, untuk menjaga keawetannya, bedug pendowo hanya ditabuh menjelang salat Jumat hingga waktu salat Ashar dan juga hari-hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Sementara, untuk pemakaian harian, tersedia sebuah bedug dengan ukuran yang lebih kecil tepat berada di sebelah kanan serambi masjid.

Meskipun bukan lagi menjadi bedug terbesar, namun bedug pendowo tetap istimewa dan tak pernah sepi dari pengunjung. Tomi pun mengakui ada keistimewaan tersendiri yang tersimpan dalam bedug pendowo yang menurutnya tidak dimiliki bedug lainnya.

“Itu satu pohon enggak ditembel-tembel. Sekarang (bedug) ada yang lebih besar, tapi itu disambung-sambung,” jelas Tomi.

Hal itu lantas membuat diameter kedua sisi bedug pendowo tidak sama lebar. Di bagian depan, diameter bedug pendowo mencapai 194 cm sementara bagian belakang lebih pendek, yakni 180 cm dengan panjang rata-rata 292 cm.

Bedug pendowo menjadi salah satu kebanggaan yang perlu dilestarikan. Pagar kayu setinggi satu meter yang mengelilingi bedug pendowo serta sebuah papan bertuliskan informasi dan imbauan juga dipasang untuk mengingatkan para pengunjung bahwa bedug pendowo merupakan warisan budaya yang patut dijaga dan dirawat dengan baik. 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X