Apa Bedanya Rumah Makan Padang dan Kedai Nasi Kapau?

Kompas.com - 29/07/2015, 19:11 WIB
Sayur dan lauk pauk khas Kapau diletakkan dalam baskom besar. Hasuna Daylailatu / NOVASayur dan lauk pauk khas Kapau diletakkan dalam baskom besar.
EditorNi Luh Made Pertiwi F

NASI Kapau Uni Cah, sesuai nama rumah makannya, pemiliknya memang bernama Uni Cah (60). Di rumah makan dari perempuan yang mempunyai empat anak ini, Anda bisa menyantap beragam menu khas Kapau. Menu rumah makan maupun kedai nasi Kapau sedikit berbeda dari rumah makan Padang, baik secara proses memasak maupun penyajiannya.

Sudah tahu, perbedaan Rumah Makan Padang dan Kedai Nasi Kapau? Rumah makan Padang dan kedai nasi Kapau memiliki menu khas seperti gulai sayur nangka yang biasanya terdiri dari nangka muda, kol, dan rebung.

Menariknya, di rumah makan Padang, sayuran ini dipotong-potong kecil-kecil, sementara pada menu nasi Kapau, sayuran disajikan utuh. Kol, misalnya, disajikan selembar utuh, sementara kacang panjang hanya dibagi 2-3 potong per lonjor.

Menu lain yang menjadi ciri khas nasi Kapau adalah gulai usus sapi yang berisi campuran tahu dan telur ayam yang sudah dihaluskan. Bumbu di rumah makan Padang umumnya ditumis, sementara di rumah makan Kapau tak ada yang ditumis.

“Bumbu di nasi Kapau tidak ‘makan’ minyak. Kalau orang yang tahu, pasti bisa membedakan keduanya,” ujar Uni Cah yang memiliki nama asli Nafsah.

Ia mulanya berjualan nasi Kapau di kaki lima di Pasar Aur Kuning, Bukittinggi, pada 1981. Saat itu, karena keterbatasan modal, kedainya tak menyediakan meja makan. Seperti khas nasi Kapau pada umumnya, setiap menu diletakkan di baskom-baskom besar yang ditata secara berundak di depan penjual.

Ketika pembeli memesan, penjual akan mengambil lauk-pauk dengan sendok sayur bergagang kayu panjang, sehingga bisa menjangkau lauk yang letaknya agak jauh dari jangkauan tangan. Para pembeli biasanya bersantap di depan atau samping menu yang ditata tersebut dengan menggunakan tangan.

Dibantu anak-anak dan suaminya, Uni Cah belajar memasak secara otodidak. Ia memilih memasak menu sedikit demi sedikit, sehingga pembeli selalu mendapatkan masakan yang baru setiap hari.

Rasa masakannya yang lezat di lidah membuat kedainya selalu laris didatangi banyak pengunjung, termasuk dari luar kota. Maklum, Pasar Aur Kuning sehari-harinya menjadi pusat grosir busana seperti Tanah Abang di Jakarta. Tak sedikit pula petani yang sedang menjual hasil buminya di sana menjadi pelanggan Uni Cah.

Nama Uni Cah makin terkenal berkat promosi dari mulut ke mulut. Tak heran, meski hanya berupa warung tenda di kaki lima, pegawainya mencapai 15 orang. Usahanya pun makin meningkat sehingga pada 2002 ia bisa memindahkan usahanya ke sebuah ruko yang dikontraknya di Pasar Aur Kuning.

Halaman:


Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X