Kompas.com - 31/07/2015, 15:03 WIB
Kompleks Candi Arjuna di Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (27/12/2011). Kompleks candi Hindu peninggalan dari abad ke-7 memiliki tujuh candi yaitu Semar, Gatotkaca, Puntadewa, Srikandi, Sembadra, Bima dan Dwarawati. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Kompleks Candi Arjuna di Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (27/12/2011). Kompleks candi Hindu peninggalan dari abad ke-7 memiliki tujuh candi yaitu Semar, Gatotkaca, Puntadewa, Srikandi, Sembadra, Bima dan Dwarawati.
EditorNi Luh Made Pertiwi F

KOMPAS.com - Festival seni budaya di dataran tinggi Dieng, Magelang, Dieng Culture Festival (DCF) akan digelar pada 31 Juli sampai 2 Agustus 2015. Dalam penyelenggaraan yang mengambil tajuk Culture for Harmony ini, beberapa agenda telah disiapkan untuk menghibur pengunjung.

Pada hari pertama, pengunjung akan diajak untuk menikmati panggung musik jazz lewat Jazz Atas Awan. AbsurdNation, Batavicada, HajarBleh, The Lounge, Cadenza dan Jammers Instrumental akan menjadi penampil Jazz Atas Awan tahun ini. Panggung yang akan berdiri di atas kompleks Candi Arjuna ini tidak hanya akan menghibur para pengunjung, tetapi juga bagi penduduk sekitar. Jagung bakar dan minuman khas Dieng, Purwaceng.

Hari kedua akan dimulai dengan ekspedisi Gunung Pangonan. Di sana, peserta diajak untuk menikmati indahnya pemandangan matahari terbit. Satu agenda lain selama ekspedisi ini adalah penanaman pohon.

Acara utama pada hari kedua adalah Festival Lampion. Ribuan lampion akan dilepaskan di kompleks Candi Arjuna dengan selingan tembakan kembang api. Para pengunjung yang memiliki tiket DCF juga mendapat kesempatan untuk menerangkan lampion yang disediakan panitia.

Selain dua acara tadi, hari kedua akan diisi dengan pertunjukan seni dan pemutaran film. Sebelum Sabtu berakhir, pengunjung akan dihibur dengan pertunjukan wayang di timur kompleks Candi Arjuna.

Hari ketiga akan menjadi puncak acara DCF. Agendanya, apalagi kalau bukan Ritual Cukur Rambut Gembel. Pemotongan rambut anak-anak berambut gembel ini memerlukan ritual khusus karena anak berambut gembel dianggap sebagai titisan dewa. Apabila rambut gembel itu dipotong sembarangan, dipercaya bahwa rambut gembelnya akan tumbuh lagi.

Hal menarik lain adalah, prosesi cukur rambut ini hanya bisa dilakukan atas permintaan (atau persetujuan) sang anak, dan apapun permintaan sang anak harus dipenuhi oleh orang tua atau walinya.

Diawali dengan prosesi pembacaan doa, barulah rambut anak gembel dipotong oleh tetua adatatau tokoh masyarakat. Rambut yang sudah dipotong kemudian akan dibacakan doa sebelum akhirnya dilarung atau dibuang.

Ritual ini sangat menarik, dilihat dari bagaimana nilai tradisi masih terus dijaga oleh penduduk Dieng. Prosesi pelarungan rambut ini juga sekaligus menjadi penutup acara DCF yang sebelumnya telah digelar sebanyak lima kali.

DCF digagas oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.  Dalam penyelenggaraannya, Pokdarwis didukung oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta berbagai sponsor pendukung.

(Ilham Bagus Prastiko)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.