Kompas.com - 14/08/2015, 12:03 WIB
Patung Buddha di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYATPatung Buddha di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
|
EditorNi Luh Made Pertiwi F

SEMARANG, KOMPAS.com – Kementerian Pariwisata berupaya menggali jalur-jalur lama yang potensial terkait potensi wisata di tiga daerah, Jogja (Yogyakarta), Solo, dan Semarang (Joglosemar). Tiga daerah itu dianggap mempunyai potensi besar untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Kemarin disepakati namanya Joglosemar, dengan ikon terbesar di Borobudur (Magelang). Target wisatawan dari Jawa Tengah dari jalur itu nanti dua juta wisatawan,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya seusai menghadiri perayaan kedatangan Laksamana Ceng Ho di Semarang, Kamis (13/8/2015).

Beragam potensi wisata yang ada di tiga daerah itu nantinya bisa membawa wisatawan asing masuk. Di Kota Semarang misalnya, dengan terus dipopulerkannya jalur Samudera Ceng Ho, akan menambah wisatawan dari Tiongkok berkunjung ke Semarang. Jalur yang biasa dilalui yakni melalui Yogyakarta.

Arief menambahkan, Kota Semarang diharapkan untuk terus berbenah menghadapi serbuan turis asing yang masuk, terutama dari Tiongkok. Hal tersebut bisa dimulai dari hal kesenian, kuliner, fashion, dan berbagai hal lainnya.

“Kami berharap besar dari Semarang ini, karena kebudayaan Tionghoa masih banyak di sini. Bahkan, nama tempat itu masih ada (banyak) di Semarang, dan itu yang harus dipromosikan,” ujarnya lagi.

Arief mengakui jika saat ini masih kurang wisatawan yang masuk dikarenakan langkah promosi yang tidak berjalan baik. Ia yakin jika promosi dilakukan secara tepat, akan mengundang wisatawan untuk melancong ke Semarang.

Terkait jalur sutera yang dibangun, akan dipromosikan secara intensif. Sepuluh kota di Indonesia akan dibangun pelayaran. Jalur stera yang dipromosikan mulai dari Babel (Bangka Belitung), Palembang, Jakarta, Cirebon, Semarang, Tuban, Surabaya, hingga Bali.

“Jalur itu sudah selesai, jalur yang dilewati Ceng Ho tahun 1405 sampai 1433. Jalur itu sudah dilalui 600 tahun lalu sejak pertama kali datang ke Indonsia tahun 1405,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pariwisata Jateng Prasetyo Ariwibowo mengungkapkan, sinergi Jogya-Solo-Semarang tidak bisa lagi berdiri sendiri. Ketiganya harus dikoordinasikan, tidak dengan saling bersaing.

“Tapi harus bersinergi. Akses besar datang dari Jogja. Pak Menteri (Arief Yahya) sudah menyepakati,” timpalnya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.