Disiapkan, Destinasi Unggulan Baru

Kompas.com - 19/08/2015, 17:26 WIB
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Wisatawan mancanegara mengunjungi Benteng Tolucco di Ternate, Maluku Utara, Selasa (15/4/2014). Benteng yang dibangun oleh Francisco Serao pada 1540 ini juga sering disebut Benteng Holandia atau Santo Lucas.
JAKARTA, KOMPAS - Indonesia ditargetkan memiliki tambahan tujuh tempat tujuan wisata unggulan hingga 2019 sehingga secara keseluruhan menjadi 10 destinasi wisata unggulan. Hal ini diharapkan mendongkrak devisa dari sektor pariwisata menjadi 20 miliar dollar AS per tahun.

Dengan nilai tukar Rp 13.831 per dollar AS, kemarin, devisa dari sektor pariwisata itu senilai Rp 276 triliun. Pada 2014, sekitar 9 juta wisatawan mancanegara (wisman) menyumbang devisa 10,271 miliar dollar AS atau Rp 142 triliun.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli menggelar rapat koordinasi dengan Kementerian Pariwisata, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Kementerian Perhubungan, Selasa (18/8/2015), di Jakarta.

Seusai rapat, Rizal mengemukakan, pariwisata merupakan sektor yang banyak menyerap tenaga kerja dan menumbuhkan ekonomi rakyat. Selain itu, pariwisata juga turut mengembangkan produk kreatif dan kerajinan yang meningkatkan nilai tambah.

Saat ini, tiga destinasi utama pariwisata adalah Bali dengan kontribusi 41 persen, Jakarta (23 persen), dan Kepulauan Riau. Namun, wisata unggulan di Jakarta masih belum jelas, kuliner atau bisnis. ”Destinasi wisata unggulan belum bisa disebutkan karena berpotensi menaikkan harga tanah. Namun, destinasi wisata itu dipastikan memiliki kejelasan branding,” kata Rizal.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Pelabuhan Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengemukakan, tujuh destinasi wisata unggulan yang disiapkan antara lain Danau Toba (Sumatera Utara), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), dan Borobudur (Jawa Tengah). Destinasi lain masih akan dipilih sesuai kriteria. Pengelolaan destinasi unggulan itu berwujud kawasan ekonomi khusus (KEK).

”Saya yakin, dalam lima tahun ini kita bisa menambah setidaknya 7 destinasi wisata unggulan, di samping tiga destinasi utama yang sudah ada. Dengan demikian, kita punya 10 destinasi utama,” katanya.

Arief menambahkan, upaya menggenjot bisnis pariwisata akan maksimal jika ditopang dengan pengembangan sektor properti. Ia mencontohkan, sektor pariwisata menyumbang 17,5 persen margin, sedangkan sektor properti mendatangkan keuntungan modal 20 persen.

”Bisnis pariwisata yang digabung dengan properti akan sempurna,” ujar Arief.

Kriteria destinasi

Rizal mengemukakan, beberapa kriteria pemilihan destinasi wisata unggulan antara lain lokasi indah dan menarik, memiliki nilai jual, masyarakat lokal yang ramah terhadap wisatawan, serta kesiapan transportasi dan infrastruktur seperti listrik dan air.

Pada 2015, jumlah wisman yang ke Indonesia ditargetkan 10 juta orang. Hingga semester I-2015, kunjungan wisman mencapai 4,6 juta orang. Diharapkan, kunjungan wisman pada semester II-2015 rata-rata 1 juta orang per bulan.

Pada 2016, kunjungan wisman ditargetkan 12 juta orang atau meningkat 20 persen dibandingkan dengan 2015. Hal ini didukung peningkatan anggaran pariwisata sebesar Rp 4 triliun.

KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH Seorang warga melakukan prosesi lompat batu, yakni kegiatan budaya khas Nias di Desa Adat Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (28/3/2015). Kegiatan khas itu disaksikan warga lain dan pengunjung. Nias memiliki potensi budaya yang kental di kawasan Bawomataluo. Namun, infrastruktur jalan, jembatan, penginapan, dan penyambutan masyarakat terhadap wisatawan masih belum ideal. Kementerian Pariwisata berharap pemerintah daerah segera memperbaikinya untuk pengembangan pariwisata.
Rizal menambahkan, pengembangan kawasan wisata membutuhkan penataan dan desain ulang, antara lain mengadopsi manajemen mal, yakni pedagang-pedagang kecil diminta memperdagangkan produk yang bervariasi. Di samping itu, perlu disediakan bandar udara pendukung. Pemerintah akan menggandeng BUMN dan swasta untuk menggarap unit sewa pada kawasan wisata.

Arief menambahkan, salah satu fasilitas dasar yang mendesak diperbaiki adalah toilet umum. Saat ini, fasilitas toilet di sejumlah tempat wisata masih sangat buruk. Terobosan yang akan dilakukan adalah memperlakukan toilet sebagai bagian dari unit bisnis, bukan unit sosial.

”Kondisi toilet sangat memalukan. Nilainya 40 dari skala 100, berdasarkan penilaian World Economic Forum,” katanya.

Pihaknya dan Asosiasi Toilet Indonesia sedang menjajaki rencana mendesain dan membuat toilet umum ukuran 27 meter persegi dan 36 meter persegi untuk dijual dan dikelola UKM. Ditargetkan, sarana toilet umum akan bersih pada 2016. (LKT)



EditorI Made Asdhiana

Close Ads X