Festival Lembah Baliem yang Mendunia

Kompas.com - 21/08/2015, 10:16 WIB
BARRY KUSUMA Festival Lembah Baliem di Kabupaten Wamena, Papua, berlangsung 6-8 Agustus 2015.
FESTIVAL Lembah Baliem adalah festival budaya yang sudah diadakan lebih dari 25 kali. Festival ini sejak dahulu kala sangat terkenal sehingga turis mancanegara rela berbondong bondong datang ke Papua khusus untuk acara ini saja.

Bagi kita, Festival Lembah Baliem mungkin terdengar asing. Ya wajar sih, karena untuk ke sini saja butuh perjuangan dalam perjalanan yang cukup panjang dan mahal juga tentunya. Tetapi walaupun kita jarang mendengar Festival Lembah Baliem Wamena tetapi turis asing sangat ingin ke sini. Di kalangan turis mancanegara, festival ini sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu.

Festival Lembah Baliem Papua adalah destinasi impian fotografer, begitupun juga saya. Sejak 3 tahun lalu saya sudah lama memimpikan untuk mengunjungi Festival Lembah Baliem di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua.

BARRY KUSUMA Festival Lembah Baliem di Kabupaten Wamena, Papua, berlangsung 6-8 Agustus 2015.
Akhirnya impian itu terwujud pada tahun 2015 ini. Kenapa sih orang begitu tertarik untuk ke Wamena? Karena Lembah Baliem di Wamena terletak di daerah terpencil dan sulit untuk didatangi. Begitu pula dengan kebiasaan Suku Dani yang “maaf” mereka sangat komersial. Suku ini dikenal di kalangan wisatawan dan fotografer jika kita ingin mengambil foto harus membayar sejumlah uang kepada mereka.

Nah, pada saat festival inilah kita bisa memotret dengan bebas penampilan Suku Dani. Lantas, apakah rumor yang mengatakan memotret Suku Dani pada saat hari biasa harus bayar dengan uang? Jawabannya iya. Jika hari biasa kita harus merogoh kocek yang cukup dalam untuk bisa membayar para Suku Dani ini.

Saya tidak tahu "budaya" meminta uang ini muncul dari mana, tetapi dari beberapa sumber yang saya dapatkan kebiasaan ini muncul karena dahulu banyak turis asing dan orang-orang kaya luar negeri yang datang ke Wamena. Mereka kasihan dengan keadaan masyarakat adat yang memang tertinggal, baik ekonomi maupun pendidikan.

Akhirnya, para turis asing dan orang kaya tersebut sehabis memotret membayar mereka dengan uang. Kebiasaan ini menjadi semakin membudaya ketika orang datang dan memotret mereka, dan ujung-ujungnya mereka meminta sejumlah uang.

BARRY KUSUMA Festival Lembah Baliem di Kabupaten Wamena, Papua, berlangsung 6-8 Agustus 2015.
Terlepas dari kebiasaan yang menurut saya buruk tetapi di Lembah Baliem Wamena punya budaya yang mereka jaga sejak dahulu, dan mereka menampilkannya pada Festival Lembah Baliem yang luar biasa dan telah menjadi daya tarik turis sejak dahulu ke Papua.

Festival Lembah Baliem awalnya merupakan acara perang antarsuku Dani, Lani, dan Suku Yali. Pada saat festival kita bisa melihat simulasi perang dan pertunjukan tarian yang mereka perlihatkan. Sebuah festival yang menjadi ajang adu kekuatan antarsuku dan telah berlangsung turun temurun namun tentunya aman untuk dinikmati.

Festival Lembah Baliem berlangsung selama tiga hari dan diselenggarakan setiap bulan Agustus dan biasanya bertepatan dengan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia. Tetapi pada tahun 2015 ini diadakan pada tanggal 6 sampai 8 Agustus.

Ternyata Festival Lembah Baliem sudah diadakan ke 25 kalinya, Awalnya pertama kali digelar tahun 1989. Yang istimewa bahwa festival ini dimulai dengan skenario pemicu perang seperti penculikan warga, pembunuhan anak suku, atau penyerbuan ladang yang baru dibuka.

BARRY KUSUMA Festival Lembah Baliem di Kabupaten Wamena, Papua, berlangsung 6-8 Agustus 2015.
Adanya pemicu ini menyebabkan suku lainnya harus membalas dendam sehingga penyerbuan pun dilakukan. Atraksi ini tidak menjadikan balas dendam atau permusuhan sebagai tema tetapi justru bermakna positif.

Suku-suku di Papua meski mengalami modernisasi tetapi masih memegang teguh adat istiadat dan tradisi mereka. Salah satu yang paling menonjol adalah pakaian pria Suku Dani yang hanya mengenakan penutup kemaluan atau disebut koteka.

Koteka terbuat dari kulit labu air yang dikeringkan dan dilengkapi dengan penutup kepala yang terbuat dari bulu cendrawasih atau kasuari. Sedangkan kaum perempuan Suku Dani mengenakan rok yang terbuat dari rumput atau serat pakis yang disebut sali. Saat membawa babi atau hasil panen ubi, para perempuan membawanya dengan tas tali atau noken yang diikatkan pada kepala mereka.

Suku Dani terbiasa berperang untuk mempertahankan desa mereka atau untuk membalas dendam bagi anggota suku yang tewas. Para ahli antropologi menjelaskan bahwa "Perang Suku Dani" lebih merupakan tampilan kehebatan dan kemewahan pakaian dengan dekorasinya daripada perang untuk membunuh musuh.

Perang bagi Suku Dani lebih menampilkan kompetensi dan antusiasme daripada keinginan untuk membunuh. Senjata yang digunakan adalah tombak panjang berukuran 4,5 meter, busur, dan anak panah. Seringkali, karena perang orang terluka daripada terbunuh, dan yang terluka dengan cepat dibawa keluar arena perang.

Puncak acara adalah pertempuran antara Suku Dani, Yali, dan Lani saat mereka mengirim prajurit terbaiknya ke arena perang mengenakan tanda-tanda kebesaran terbaik mereka. Festival ini dimeriahkan dengan pesta babi yang dimasak di bawah tanah disertai musik dan tari tradisional khas Papua. Ada juga seni dan kerajinan buatan tangan yang dipamerkan atau untuk dijual.

Setiap suku memiliki identitasnya masing-masing dan orang dapat melihat perbedaan yang jelas di antara mereka sesuai dengan kostum dan koteka mereka.

Laki-laki suku Dani biasanya hanya memakai koteka kecil, sedangkan laki-laki suku Lani mengenakan koteka lebih besar, karena tubuh mereka lebih besar daripada rata-rata laki-laki Suku Dani. Sedangkan kaum laki-laki Suku Yali memakai koteka panjang dan ramping yang diikatkan oleh sabuk rotan dan diikat di pinggang.

Menghadiri Festival Lembah Baliem maka Anda akan memiliki kesempatan langka untuk belajar dan bersentuhan langsung dengan beragam tradisi suku-suku setempat yang berbeda-beda tanpa harus mengunjunginya ke pedalaman Papua yang jauh dan berat.

Diperkirakan festival ini diikuti oleh lebih dari 40 suku lengkap dengan pakaian tradisional dan lukisan di wajah mereka.

Yang perlu Anda lakukan selama festival hanya mengamati dan menikmati perang saja sambil memotret. Semakin lama festival ini berlangsung maka suasana perang dengan tombak, parang, dan panah yang menghantam lawan akan semakin dekat dan seru.

Semakin banyak tombak yang meleset maka semakin keras sorakan dari ratusan penonton. Suku-suku ini telah mengikuti festival perang setiap tahun sehingga acaranya semakin menarik tiap tahunnya.

Festival Lembah Baliem memang diadakan selama 3 hari. Anda bisa menyaksikan festival pada saat pembukaan di hari pertama. Karena suasana memang meriah pada saat pembukaan. Pada hari lain anda bisa berjalan jalan sambil memotret keindahan alam Lembah Baliem yang memukau.

Terus terang Lembah Baliem Wamena merupakan destinasi impian saya, sudah 3 tahun saya selalu gagal ke sini dan akhirnya baru kesampaian sekarang karena akses menuju sini sangatlah mahal.

Terbatasnya hotel dan kendaraan yang ada di sini apalagi pada saat festival membuat hotel di Wamena penuh tamu dan sangat susah mencari penginapan. Jika anda ingin mengunjungi Wamena pada saat festival, saya sangat menyarankan untuk ikut trip saja. Jika anda mendadak datang ke sini, saya bisa pastikan susah mendapat penginapan dan kendaraan (mobil saja ke sini diangkut pesawat terbang).

Saya berkesempatan ke Wamena dengan teman baik saya Rizky dari PesonaIndo. Rizky inilah yang mengatur semua kebutuhan serta akomodasi saya dan teman-teman selama di Wamena sehingga saya bisa fokus memotret.

Untuk mengunjungi Wamena lebih baik kita ikut trip bareng dengan tujuan menghemat budget. Silakan yang mau ke Wamena bisa kontak teman baik saya Rizky di 0813-2922-8505 atau membuka www.pesonaindo.com. Selamat menikmati keindahan budaya Indonesia Timur. (BARRY KUSUMA)

Halaman:


EditorI Made Asdhiana

Close Ads X