Kompas.com - 31/08/2015, 12:42 WIB
EditorI Made Asdhiana
BUBUR gudeg Mbok Kedul tersimpan dalam kenangan wong Solo. Nina Akbar Tandjung dan Iga Mawarni, putri-putri Solo yang kini tinggal di Jakarta, masih sering menyantap santapan yang dijual sejak lebih dari 50 tahun silam tersebut. Di tengah banyaknya kuliner di kota itu, Mbok Kedul bertahan dengan keotentikan rasanya.

Nina Akbar Tandjung dan penyanyi Iga Mawarni mengakui punya ikatan emosi dengan rasa bubur gudeg Mbok Kedul di Jalan Slamet Riyadi, sekitar 100 meter ke arah timur, dari Stasiun Kereta Api Purwosari, Solo, Jawa Tengah. Warung Mbok Kedul menghidangkan menu bubur gudeg, nasi gudeg, ketan bubuk/juruh, dan lontong opor dari Mbok Kedul.

”Buburnya gurih, kekentalannya pas, gudegnya tidak terlalu manis, jadi mantap sama buburnya,” begitu memori rasa Iga mencatat bubur gudeg Mbok Kedul.

”Ketan bubuk dele-nya enak banget. Saya suka pesen dan saya bawa ke Jakarta itu masih enak,” kata Nina Akbar Tandjung.

Dulu bubur gudeg, nasi gudeg, ketan, dan lontong opor, dikonsumsi warga sebagai sarapan sehari-hari. Mbok Kedul dulu menjajakan bubur gudeg keliling kampung, dengan menggendong dagangan di punggung. Sampai pada suatu ketika dia manggrok atau menetap di suatu tempat. Tidak diketahui persisnya sejak kapan Warung Mbok Kedul menetap di Jalan Slamet Riyadi, jalan utama di Solo. Yang pasti, Nina Akbar Tandjung (55) sejak kecil sudah sarapan bubur gudeg Mbok Kedul di tempat tersebut.

Yang empunya nama, Mbok Kedul, meninggal tahun 1974. Setelah itu warung dilanjutkan Ibu Latip, yang juga sudah meninggal. Kini pengelolaan usaha ditangani L Sri Untari Widodo (76). ”Saya masuk sini tahun 1963. Saya ini menantu Mbok Kedul. Ibu Latip itu kakak dari suami saya,” kata Untari menjelaskan hubungan kekerabatannya dengan Mbok Kedul.

KOMPAS/FRANS SARTONO Dapur Warung Mbok Kedul, bagian dari otentisitas rasa.
Berganti tiga lapis generasi, Warung Mbok Kedul tetap setia dengan hidangan khasnya. Salah satunya bubur lemu, yaitu bubur dari beras yang dimasak dengan santan. Bubur disajikan bersama gudeg, opor ayam, telur bebek, dan sambal goreng krecek atau cecek, kata wong Solo. ”Saya pakai ayam jawa (kampung), dan telur bebek,” kata Sri Untari.

Nasi gudeg menggunakan kelengkapan serupa bubur. Gudeg Mbok Kedul cenderung gurih. Tidak terlalu manis seperti kesan yang selama ini menempel di gudeg yogya. ”Gudeg solo memang tidak terlalu manis. Gudeg setelah digodok, lalu ditiris dulu, terus di-adang lagi, tanpa santan, tanpa moto (vetsin),” kata Untari.

Lontong opor juga dihidangkan dengan opor ayam, telur bebek, dan sambal goreng krecek, tanpa gudeg tentu. Plus taburan bubuk kedelai. Tentu ada berbagai pilihan cara untuk menikmati bubur gudeg, sesuai selera. Salah satunya adalah bubur disantap panas-panas. Tentu saja dengan terlebih dahulu meniup-niup permukaan bubur agar tidak terlalu mongah-mongah alias terlalu panas di mulut.

Dalam kondisi antara panas dan hangat itulah, bubur gudeg mengeluarkan sensasi rasa gurih-gurih mantap. Sambal goreng krecek yang tidak terlalu pedas memberi sentuhan rasa tajam. Jika ingin mendapat tingkat kepedasan yang lebih tajam, Anda bisa mengambil cabai merah yang disertakan pada sambal goreng krecek.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.