Pacuan Kuda Gayo dan Pesta Rakyat

Kompas.com - 01/09/2015, 13:42 WIB
Aksi Joki dan kudanya dalam Lomba Pacuan Kuda Tradisional Gayo, 17-23 Agustus 2015 guna memeriahkan HUT ke-70 RI di Aceh Tengah, Provinsi Aceh. KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAHAksi Joki dan kudanya dalam Lomba Pacuan Kuda Tradisional Gayo, 17-23 Agustus 2015 guna memeriahkan HUT ke-70 RI di Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
EditorI Made Asdhiana
PULUHAN ribu orang memadati Lapangan Pacuan Kuda Belang Bebangka, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Minggu (23/8/2015) pagi hingga petang. Mereka membaur dalam kemeriahan menyaksikan acara budaya Lomba Pacuan Kuda Tradisional Gayo yang diselenggarakan pada 17-23 Agustus guna memeriahkan HUT ke-70 RI di Aceh Tengah.

Acara budaya itu menjadi wadah pesta rakyat Gayo yang menyatukan masyarakat di dataran tinggi Tanoh Gayo, meliputi Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.

Masyarakat Gayo merupakan salah satu kelompok suku bangsa yang mendiami kawasan pegunungan tengah Provinsi Aceh, sering disebut Tanoh Gayo, meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.

Masyarakat Gayo memiliki bahasa, budaya, dan adat istiadat yang unik ataupun berbeda dengan masyarakat Aceh secara umum, terutama yang hidup di pesisir. Salah satu kegiatan budaya unik dari masyarakat Gayo adalah pacuan kuda tradisional Gayo.

KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH Antusiasme penonton menyaksikan Lomba Pacuan Kuda Tradisional Gayo, 17-23 Agustus 2015 dalam memeriahkan HUT ke-70 RI di Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
Menurut tokoh masyarakat Gayo di Takengon, Win Rudhi Bathin (48), masyarakat Gayo telah menyelenggarakan pacuan kuda tradisional Gayo jauh sebelum penjajah Belanda masuk ke Tanoh Gayo dan kemerdekaan RI.

Dahulu, masyarakat Gayo menyelenggarakan pacuan kuda untuk menyambut ataupun merayakan masa panen padi yang umumnya antara Agustus dan September.

Konon, kegiatan itu pertama kali dilakukan di pinggir Danau Laut Tawar di kawasan Pante Menye, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah. Mereka melakukan pacuan kuda tanpa memiliki fasilitas khusus, seperti perlengkapan joki, kuda, dan lintasan pacuan.

Ketika penjajah Belanda masuk ke Tanoh Gayo awal 1900-an, kegiatan itu dibuat lebih modern. Penjajah menyelenggarakan pacuan kuda untuk menyambut ataupun merayakan HUT Ratu Wilhelmina antara Agustus dan September. Kegiatan itu dipindah dari pinggir Danau Laut Tawar ke lintasan pacuan kuda di pusat Takengon.

KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH Hadiah juara Lomba Pacuan Kuda Tradisional Gayo, 17-23 Agustus 2015 di Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
”Ketika kemerdekaan Indonesia, kegiatan itu terus dilakukan. Pemerintah setempat menyelenggarakan pacuan kuda untuk menyambut ataupun merayakan HUT RI antara Agustus dan September. Kegiatan itu tetap dilaksanakan di lintasan pacuan kuda di sekitar Takengon,” ujarnya.

Pacuan kuda tradisional Gayo mempertandingkan kuda endemik Gayo dan kuda peranakan Australia-Gayo (Astaga). Kegiatan itu tidak menerapkan standar baku perlombaan pacuan kuda skala nasional ataupun internasional.

Kegiatan itu tetap diselenggarakan secara tradisional, antara lain tidak mewajibkan perlengkapan khusus untuk joki dan kuda. Usia joki dan kuda yang bertanding pun bebas. Umumnya, usia joki yang bertanding 15-25 tahun dan kuda 1-5 tahun. Penonton pun bebas memasuki lintasan guna mendukung kuda andalannya.

Di sisi lain, pertandingan hanya berlangsung 1 putaran untuk kuda muda berusia di bawah 5 tahun dan 2 putaran untuk kuda tua berusia di atas 5 tahun.

KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH Berinteraksi dengan kuda.
Para peserta akan berupaya maksimal menjadi juara. Sebab, menjadi juara akan memberikan banyak dampak positif, antara lain mendapatkan sejumlah hadiah, menjadi populer, dan nilai jual kuda akan melambung tinggi.

”Kendati demikian, pacuan kuda tradisional Gayo bukan hanya untuk mengejar prestasi. Kegiatan ini merupakan pesta rakyat sesungguhnya bagi masyarakat Gayo. Kegiatan ini menjadi wadah hiburan dan berkumpul masyarakat Gayo yang berada di Tanoh Gayo ataupun di luar,” ucap Imam (50), warga Takengon. (Adrian Fajriansyah)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X