Kompas.com - 05/09/2015, 13:52 WIB
Lanskap Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, dilihat dari kawasan Puncak Cemara, Sawahlunto, Kamis (28/5/2015). Kota yang terletak sekitar 90 kilometer dari Padang (ibu kota Sumatera Barat) ini terus menggenjot sektor pariwisata. Kota Sawahlunto menawarkan destinasi berupa kota tua yang berisi bangunan dan fasilitas sisa kegiatan pertambangan batubara yang berjaya sejak 1888 hingga akhir abad ke-20. KOMPAS/ISMAIL ZAKARIALanskap Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, dilihat dari kawasan Puncak Cemara, Sawahlunto, Kamis (28/5/2015). Kota yang terletak sekitar 90 kilometer dari Padang (ibu kota Sumatera Barat) ini terus menggenjot sektor pariwisata. Kota Sawahlunto menawarkan destinasi berupa kota tua yang berisi bangunan dan fasilitas sisa kegiatan pertambangan batubara yang berjaya sejak 1888 hingga akhir abad ke-20.
EditorI Made Asdhiana
SEHABIS beristirahat makan soto silungkang—sekitar 5 kilometer sebelum memasuki Sawahlunto, Sumatera Barat—menjelang pukul setengah delapan malam, dari atas ketinggian kota kuno yang menorehkan kisah kekejaman penjajah Belanda itu, kami terpana.

Lampu—lampu berpendaran di berbagai tempat, berkedap-kedip melingkari menara Masjid Nurul Iman yang dibangun tahun 1952—bekas menara pembangkit tenaga uap yang tingginya 75 meter lebih—jalan turun meliuk-liuk. Setelah melewati jembatan Sungai Lunto, sungai dengan sedikit air pada musim kemarau yang membelah kota—sampailah kami di pintu gerbang Sawahlunto.

Sawahlunto menyimpan sepotong kisah penjajahan Belanda. Menarik perhatian berkat temuan pada tahun 1868 oleh seorang insinyur pertambangan Belanda, Willem Hendrik de Greve, tentang adanya potensi besar kandungan batubara di Sungai Ombilin, salah satu sungai di Sawahlunto. De Greve meninggal terseret arus Sungai Ombilin, tetapi penelitian terus dilanjutkan. Penggalian pertama dilakukan tahun 1890 oleh ribuan orang rantai (orang-orang terpidana yang terus-menerus dirantai kakinya) dan kuli kontrak—keduanya berasal dari berbagai daerah. Produksi pertama tahun 1892 sebesar 40.000 ton dari lapangan Sungai Durian.

Ekspansi berlanjut dengan mengeduk perut bumi pusat kota di Lubang Tambang Soegar, lubang pertama di Sawahlunto yang digali tahun 1898 dan ditutup tahun 1930, dibuka kembali tahun 2007 dan dijadikan obyek terpenting wisata tambang Sawahlunto dengan nama Lubang Tambang Mbah Soero, diambil dari nama Mbah Soero, seorang mandor yang terkenal sakti.

Lubang dengan kedalaman ratusan meter itu, demikian Soedarsono—pemandu wisata di sana, beberapa waktu lalu—ditutup karena besarnya rembesan air. Kedalaman bisa mencapai ratusan meter. Namun, ada yang memperkirakan Belanda sengaja menutupnya sebagai cadangan sebab masih tersisa di sana sebanyak 40 juta ton batubara. Pada saat penggalian kembali untuk keperluan mengubah Sawahlunto dari kota arang menjadi kota wisata, ditemukan banyak kerangka, yang menunjukkan banyak petambang meninggal selagi bekerja dan jenazahnya dikumpulkan begitu saja di salah satu sudut terowongan.

Berkeliling sejak pagi hingga siang hari, di bawah teriknya matahari musim kemarau bulan Agustus, terasa sejuk sebab Sawahlunto berada di antara pegunungan Bukit Barisan yang rimbun sehingga disebut juga ”Kota Kuali”, kehebatan dan kekejaman penjajah Belanda silih berganti berkelibat. Sawahlunto, yang dulu dikenal sebagai kota arang sebab menghasilkan batubara sumber energi, kini terus digali berbagai ornamen dan penanda kejayaan Sawahlunto masa lalu.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Patung orang rantai terpasang di kompleks Museum Tambang Lobang Mbah Soero yang merupakan tambang pertama Belanda di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.
Bukan hanya batubara, melainkan juga kereta api pengangkut batubara dari lubang ke tiga silo—tempat penyimpanan batubara sebelum diangkut ke Pelabuhan Teluk Bayur—dengan kereta uap Mak Itam, pernah selama beberapa tahun sejak 2009 menjadi sarana para turis bernostalgia dengan kereta uap dari Sawahlunto-Padang. Kini kereta dengan dua gerbongnya teronggok di gudang samping stasiun kereta api Sawahlunto.

Sarana akomodasi kurang

Seriusnya pemerintah kota mengembangkan Sawahlunto sebagai kota wisata di antaranya terlihat dari ketersediaan brosur informasi. Informasi yang ringkas memadai mengisahkan obyek-obyek wisata penting, seperti tentang kota Sawahlunto secara umum, tentang menara yang ada di ketinggian, lorong yang dulu dipakai mengangkuti batubara dengan kereta dari lubang penggalian ke tiga silo di bawahnya, Goedang Ransoem, stasiun kereta api, dua gereja Katolik dan gereja Kristen Protestan, masjid agung, Gedung Pusat Kebudayaan, serta tentang kantor pertambangan batubara pada masa kolonial dulu yang sekarang ditempati kantor PT Bukit Asam.

Pada saat yang sama informasi berikut penataan dan pemeliharaan obyek-obyek wisata membuat bulu kuduk berdiri. Hal itu karena, selain bertemunya berbagai suku dan latar belakang dari berbagai pelosok Hindia Belanda sehingga tercipta kosakata yang mempertautkan hubungan mereka dengan bahasa dialek setempat dengan nama bahasa Tamsi, di lokasi ini terjadi kekejaman penjajah atas rakyat jajahan selama bertahun-tahun.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X