Kompas.com - 14/09/2015, 10:39 WIB
EditorI Made Asdhiana

Perkebunan jeruk Kintamani terletak sekitar 60 kilometer dari Kota Denpasar. Truk-truk pengangkut jeruk biasanya sudah akan berseliweran sejak pagi. Dari pelat nomor di truk, terlihat bahwa jeruk tersebut dikirim ke sejumlah daerah di Tanah Air. Selain dijual di Bali, jeruk-jeruk ini pun menembus pasar hingga ke Pulau Jawa.

Puncak musim panen jeruk di wilayah Kintamani berlangsung cukup panjang, berawal dari Juni dan berakhir pada Desember. Satu kuintal jeruk bisa diperoleh dari memanen 3-4 pohon. Tumbuh di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut dengan penyinaran matahari yang cukup, pohon jeruk cenderung rajin berbuah sepanjang tahun.

Selain memetik sendiri dari pohon jeruk di kebun, banyak petani jeruk yang kemudian meletakkan keranjang-keranjang berisi jeruk siap jual di tepi jalan. Harga jeruk di tangan konsumen pun masih tergolong murah, yaitu Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per kilogram. Bandingkan dengan harga jual di Jakarta yang bisa mencapai Rp 20.000 per kilogram.

Pada malam hari, keranjang-keranjang jeruk itu dibiarkan bergeletakan tanpa penjaga di tepi jalan raya menuju Payangan, Kabupaten Gianyar. Meskipun ramai dilalui aneka kendaraan, jeruk-jeruk tersebut tetap aman.

Petani dan pedagang jeruk, Mariasih, yang terbiasa meletakkan keranjang jeruk di tepi jalan raya, mengatakan tak khawatir jika dagangannya itu dicuri orang. ”Jeruk ini pasti habis dibeli pedagang untuk dibawa ke pasar. Ayo dimakan jeruknya, silakan ambil sesukanya,” ujar Mariasih sembari menunggu truk-truk langganan yang akan membeli jeruk panenannya.

Tahun ini tergolong istimewa karena masih banyak jeruk yang dibiarkan menguning di pohon. Tahun-tahun sebelumnya, jumlah jeruk di pohon sudah mulai habis menjelang Agustus. ”Sekarang harganya anjlok. Harga pupuk tidak sepadan dengan harga jual. Banyak petani yang masih menyimpan jeruk di kebun dengan harapan harga bisa naik,” tambah Ketut Sumadri, petani dan pengepul jeruk.

Untuk menambah penghasilan dari hasil bumi, petani juga menanami tanah di sela pohon jeruk dengan beragam tanaman tumpang sari. Petani lain menanam kopi atau bunga, sedangkan Ketut Darsa memilih menanam cabai sebagai tanaman tumpang sari.

Cinta jeruk

Pertalian petani Kintamani dengan tanaman jeruk sudah dimulai sejak penanaman pertama tahun 1993. Pada 1999, area pertanaman jeruk mati akibat serangan penyakit, kemudian bangkit lagi tahun 2003. Dari awalnya ditanami jagung, ketela, dan singkong, ladang-ladang itu kini menguning oleh tanaman jeruk

Pohon-pohon yang ditanam tahun 2003 dan saat ini sudah berusia belasan tahun itu masih tetap produktif. Pohon jeruk biasanya sudah mulai belajar berbuah sejak usia tiga tahun dan mulai panen setelah umur empat tahun.

KOMPAS/RIZA FATHONI Penyortiran buah jeruk hasil panen di Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, untuk selanjutnya dijual ke pedagang.
Jeruk dari Kintamani termasuk berkualitas. Sejak dipetik, jeruk Kintamani bisa bertahan tetap segar hingga satu pekan. Petani jeruk di Bali juga memiliki keterkaitan mendalam dengan produksi jeruk sebagai sarana sembahyang. Banten atau persembahan biasanya dihiasi dengan keindahan jeruk. Pada perayaan hari raya, seperti Galungan, warga biasa menghiasi banten dengan jeruk yang berukuran kecil. Adapun jeruk dengan ukuran besar umumnya dipakai sebagai banten upacara piodalan di pura.

”Kalau tanahnya subur, enggak berhenti buahnya. Tiap kali ke ladang, saya pasti memetik buah terbaik. Ada yang kelihatannya enak, pasti kami ambil. Yang paling enak justru yang kulitnya jelek,” kata Ketut Sumadri. Biar jelek, asal manis, karena sudah telanjur cinta jeruk. (Mawar Kusuma)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 September 2015, di halaman 25 dengan judul "Damai Ladang Jeruk Kintamani".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kosakata Bahasa Jawa untuk Tawar-menawar, Wisatawan Perlu Tahu

Kosakata Bahasa Jawa untuk Tawar-menawar, Wisatawan Perlu Tahu

Travel Tips
Kenang 16 Tahun Gempa Yogya, Bisa Kunjungi Monumen Gempa di Bantul

Kenang 16 Tahun Gempa Yogya, Bisa Kunjungi Monumen Gempa di Bantul

Jalan Jalan
5 Cara Menolong Orang yang Terseret Arus Sungai

5 Cara Menolong Orang yang Terseret Arus Sungai

Travel Update
5 Persiapan Sebelum Berenang di Sungai, Sedia Perlengkapan

5 Persiapan Sebelum Berenang di Sungai, Sedia Perlengkapan

Travel Tips
Pantai Sukamade Banyuwangi, Bisa Lihat Penyu Bertelur pada Malam HariĀ 

Pantai Sukamade Banyuwangi, Bisa Lihat Penyu Bertelur pada Malam HariĀ 

Jalan Jalan
Liburan Dekat dan Mudah, Ini 6 Negara di Asia Tenggara yang Bebas PCR

Liburan Dekat dan Mudah, Ini 6 Negara di Asia Tenggara yang Bebas PCR

Travel Update
Patung Yesus Tertinggi Ketiga di Dunia Ada di Brasil, Buka Tahun 2023

Patung Yesus Tertinggi Ketiga di Dunia Ada di Brasil, Buka Tahun 2023

Travel Update
Jepang Buka Pintu Masuk untuk Grup Turis, Mulai 10 Juni

Jepang Buka Pintu Masuk untuk Grup Turis, Mulai 10 Juni

Travel Update
Daya Tarik Baru Air Terjun Cunca Wulang Labuan Bajo, Ada Sungai Bawah Tanah

Daya Tarik Baru Air Terjun Cunca Wulang Labuan Bajo, Ada Sungai Bawah Tanah

Jalan Jalan
Mengenal Sungai Aare, Sungai Terpanjang di Swiss dari Pegunungan Alpen

Mengenal Sungai Aare, Sungai Terpanjang di Swiss dari Pegunungan Alpen

Travel Update
Camping di Bukit Golo Nawang, Manggarai NTT, Lihat Indahnya Sunrise

Camping di Bukit Golo Nawang, Manggarai NTT, Lihat Indahnya Sunrise

Jalan Jalan
Cara Selamatkan Diri Saat Hanyut di Sungai, Jangan Lawan Arus

Cara Selamatkan Diri Saat Hanyut di Sungai, Jangan Lawan Arus

Travel Tips
7 Kafe di Trawas Mojokerto yang Buka Malam Hari, Bisa buat Nongkrong dan Ngopi

7 Kafe di Trawas Mojokerto yang Buka Malam Hari, Bisa buat Nongkrong dan Ngopi

Travel Promo
Yogyakarta Maksimalkan Wisata Kotabaru, Jalur Skuter Listrik hingga Perawatan Wajah

Yogyakarta Maksimalkan Wisata Kotabaru, Jalur Skuter Listrik hingga Perawatan Wajah

Travel Update
Jalan Raya di Jepang Ini Tak Bisa Dilewati Kendaraan, Ini Sebabnya

Jalan Raya di Jepang Ini Tak Bisa Dilewati Kendaraan, Ini Sebabnya

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.