Kompas.com - 14/09/2015, 14:39 WIB
EditorI Made Asdhiana
Tak hanya kain endek, pemerintah setempat menginventarisasi sekitar 90 makanan khas Buleleng. Makanan khas tersebut seperti belayag, sudang lepet, dan bubur mengguh. Dan jangan salah, menjelang petang hingga malam, saat festival ratusan masyarakat berdatangan dan berburu kulinernya. Seru.

Stan-stan pameran pun diminati. Ruang pamer kerajinan disediakan gratis oleh penyelenggara. Begitu pula banyaknya peminat menggelar makanan tradisional. Semuanya gratis disediakan penyelenggara.

Tahun pertama penyelenggaraan masih diisi 46 stan pameran. Selanjutnya animo masyarakat membuka gerai bertambah. Tahun ini menjadi 120 stan dari 80 stan di tahun kedua.

Hasilnya, festival yang tak diduga diminati masyarakat ini mampu membukukan sekitar Rp 1,5 miliar selama empat hari. Angka ini meningkat selama tiga tahun berturut-turut.

Pada festival perdana, Buleleng Festival membukukan sekitar Rp 500 juta. Selanjutnya Buleleng Festival kedua mencatat kisaran Rp 1,1 miliar.

Ketua Panitia Buleleng Festival yang juga Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Buleleng Gede Suyasa mengatakan, Buleleng Festival ini memang dibangun untuk menghidupkan suasana dan perekonomian Buleleng.

Jumlah kesenian yang tampil pun bertambah, dari 23 kelompok seni menjadi 82 kelompok seni. Meski memprioritaskan kesenian-kesenian tradisional, lanjut Suyasa, kesenian modern tetap mendapat tempat.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.