Merayu Wisatawan China Pelesir ke Indonesia

Kompas.com - 25/09/2015, 14:53 WIB
Wisatawan usai mengunjungi Pulau Penyu, di Tanjung Benoa, Bali. EKA JUNI ARTAWANWisatawan usai mengunjungi Pulau Penyu, di Tanjung Benoa, Bali.
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah kunjungan wisatawan China ke Indonesia pada beberapa tahun terakhir ini terbilang cukup besar, dan terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik mencata bahwa hingga semester pertama tahun 2015 ini, jumlah wisatawan China meningkat sekitar 20 persen dibanding tahun lalu.

Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa Indonesia akan terus menggenjot jumlah wisatawan China yang saat ini rata-rata per tahun masih di bawah satu juta orang.

"Jumlah turis China yang bepergian ke luar negeri rata-rata 100 juta orang per tahun, tapi yang ke Indonesia belum sampai satu juta orang," ungkap Arief Yahya.

Tahun 2014 lalu total jumlah wisatawan Tiongkok yang ke Indonesia sekitar 950.000 orang, atau urutan keempat di bawah wisatawan asal Singapura, Malaysia dan Australia. Jumlah tersebut masih jauh dibandingkan yang ke negara ASEAN lainnya, terutama Thailand dan Singapura yang mampu menggaet wisatawan Tiongkok hampir 10 juta orang per tahun.

Oleh sebab itulah, tahun ini Kementerian Pariwisata menargetkan kunjungan wisatawan Tiongkok hingga 2 juta orang.

Kebijakan bebas visa bagi turis asal negeri "Tirai Bambu" itu mulai diberlakukan sejak Agustus lalu untuk menggenjot tingkat kedatangan. Target tersebut tentunya harus didukung oleh berbagai pihak, termasuk oleh kalangan operator pariwisata.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Kota Shanghai, China.
Menurut Nurdin Purnomo, pimpinan perusahaan biro perjalanan Setia Group, target tersebut bisa tercapai jika Indonesia sendiri melakukan inovasi-inovasi untuk menarik wisatawan Tiongkok dan juga meningkatkan layanan terhadap mereka.

"Kebijakan bebas visa bagi turis Tiongkok tidak cukup untuk mendukung peningkatkan jumlah turis yang datang ke Indonesia, jika tidak disertai layanan yang baik," ucap Nurdin yang juga anggota dewan kehormatan Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia itu.

"Yang lebih penting lagi adalah mutu layanan terhadap kedatangan turis asing, termasuk dari Tiongkok, khusunya saat mereka melewati imigrasi," ujarnya.

Nurdin mengungkapkan bahwa ia sering mendapat keluhan dari rekan-rekannya dari China yang mengalami pemerasan oleh oknum-oknum di imigrasi. "Pengalaman buruk mereka saat ke Indonesia tentu bisa berpengaruh negatif bagi citra bangsa kita. Sehingga mereka lebih memilih negara lain untuk destinasi wisatanya," katanya.

"Umumnya mereka senang ke daerah yang punya kedekatan dengan negara asalnya, misalnya, ada sisa-sisa budaya China di daerah tujuan. Selain itu, juga mereka mereka mengharapkan kemudahan dalam komunikasi dan kuliner, serta tentunya jaminan keamanan," tambah Nurdin.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Antara
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X