Kompas.com - 26/09/2015, 04:16 WIB
EditorJodhi Yudono

Fukushima merupakan prefektur paling selatan wilayah Tohoku, dan merupakan wilayah Tohoku yang paling dekat dengan Tokyo. Prefektur ini terbagi deretan pegunungan menjadi tiga wilayah, yaitu (dari barat ke timur) Aizu, Nakadori, dan Hamadori. Wilayah pantai wilayah Hamadori menghadap ke Samudera Pasifik, dan merupakan daerah yang paling datar dan beriklim sedang. Kota kota Fukushima yang merupakan ibu kota prefektur terletak di wilayah Nakadori yang merupakan pusat produksi pertanian. Wilayah Aizu yang berpegunungan memiliki danau dengan pemandangan yang indah, hutan yang lebat, dan musim dingin yang bersalju.

Maka di tanah yang subur itulah, Tuhan menumbuhkan aneka tanaman. Di antaranya buah-buahan yang lezat rasanya. Di sana tumbuh pohon buah Nashi (Jepang Pear). Meskipun nashi sangat mirip dengan pir Barat, ada sejumlah perbedaan signifikan. Dibandingkan dengan buah pir Barat, nashi lebih besar, crispier dan memiliki rasa yang sama tetapi lebih ringan dan kulit kasar. Selanjutnya, mereka berbentuk bola daripada “berbentuk buah pir”.

Nashi berada di musim selama akhir musim panas dan musim gugur dan biasanya dimakan dengan cara dikupas. Tanaman ini telah dibudidayakan oleh orang Jepang sejak masa pra-sejarah. Pir Barat juga tersedia di dalam negeri, dan dikenal sebagai yonashi (pir Barat).
    
Buah lain yang sangat terkenal adalah Ringo (Apel). Luas budidaya apel di Jepang dimulai pada Periode Meiji (1868-1912). Kini, apel adalah salah satu buah yang paling populer di Jepang, dan salah satu dari beberapa buah yang diekspor ke luar negeri dalam jumlah besar. Di Jepang, apel umumnya dimakan mentah setelah mengelupas. Mereka berada dalam musim selama musim gugur dan awal musim dingin.

Di antara banyak varietas apel adalah apel berwarna merah dan renyah yang terkenal dengan sebutan apel fuji. Bentuknya besar dan paling populer. Sering diyakini sebagai ikon Gunung Fuji. Ada juga buah Kaki (Kesemek Jepang). Kaki mirip dengan nashi dan apel dalam bentuk, ukuran, kerenyahan dan cara mereka dimakan. Kaki paling sering dinikmati mentah setelah dikupas dan dipotong-potong. Awalnya berasal dari Cina, kaki telah dibudidayakan di Jepang sejak abad ke-7 .

Momo atau Peach (Persik) juga tumbuh subur di Fukushima. Persik Jepang umumnya lebih besar, lebih lembut dan lebih mahal dibandingkan persik Barat. Daging persik Jepang biasanya putih dan kuning. Persik biasanya dimakan mentah setelah dikupas. Persik Jepang berbuah selama musim panas. Persik diperkenalkan dari China pada awal Periode Yayoi (300 SM-300 M).
    
Selain buah-buahan di atas, Fukushima juga menghasilkan buah-buahan yang terkenal lainnya.

Beberapa peserta seminar mulai bertanya-tanya dalam keraguan tentang keamanan buah persik dan pear yang siang itu diperkenalkan. Tapi Tadao dengan yakin memastikan, semua produksi buah asal Fukushima sudah diperiksa secara ketat.

Menurut Tadao, pemerintah Jepang telah menetapkan standar ketat atas produk-produk makanan asal Fukushima. Sebelum beredar di pasaran, hasil panen dan produksi setempat wajib melewati pengujian radioaktif.

Dampak Radiasi buah-buahan seperti yang ada di supermarket Stasiun Fukushima, diwajibkan berada pada level radiasi di bawah 100 Becquerel (Bq) per kilogram, sesuai aturan pemerintah yang memperketat level radioaktif dari sebelumnya 500 Bq per kg. Tidak hanya buah-buahan, aturan itu berlaku bagi produk beras, daging, ikan, dan sayuran.

Standar lebih ketat bagi makanan bayi, susu, dan minuman segar. Tingkat radioaktif makanan bayi dan susu dari sebelumnya 200 Bq per kg, kini harus di bawah 50 Bq per kg, bahkan minuman segar harus di bawah 10 Bq per kg.

Kebijakan tersebut menyusul bencana melelehnya inti sel Caesium di PLTN Fukushima, pasca tsunami 2011. Radius 20 kilometer dari PLTN dikosongkan demi menjaga masyarakat dari kontaminasi radioaktif tellarium, iodine-131, caesium-134, dan caesium-137.

Untuk lebih meyakinkan peserta, akhirnya panitia mengarahkan kami ke sebuah ruangan yang berisi susunan buah pear dan persik. Buah-buahan itu ditata sedemikian rupa dan menarik untuk dipandang. Di ruang tersebut, seorang chef sudah bersiap membuat sejumlah menu makanan dari buah pear dan persik.

Maka, setelah menu penutup makanan itu telah siap disantap, para peserta pun sudah tidak mengingat lagi dari mana asal buah-buahan itu. Bentuk dan aroma masakan yang tersaji sungguh telah membuat kami tak sabar untuk mencicipinya.

Para peserta pun, termasuk saya dan pakar kuliner William Wongso, dengan hikmat mencicipi menu penutup makan itu. Rasanya, hmm... sungguh melenakan lidah kami. Pear dan persik yang dipanggang itu segera lumer di mulut. Rasa manis dan rasa asam yang tipis, dengan lembut masuk ke perut. Mak legender...

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.