Ritual Penjamasan Keris Bisa Dijadikan Paket Wisata

Kompas.com - 29/09/2015, 09:48 WIB
Berbagai jenis keris dipamerkan dalam Pameran Batu dan Benda Pusaka Nusantara di Kalibata City, Jakarta, Sabtu (28/3/2015). Sekitar 50 keris yang berasal dari berbagai masa tersebut, keris tertua berasal dari sekitar abad 9, dapat dinikmati keindahannya oleh pengunjung hingga 5 April 2015. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTOBerbagai jenis keris dipamerkan dalam Pameran Batu dan Benda Pusaka Nusantara di Kalibata City, Jakarta, Sabtu (28/3/2015). Sekitar 50 keris yang berasal dari berbagai masa tersebut, keris tertua berasal dari sekitar abad 9, dapat dinikmati keindahannya oleh pengunjung hingga 5 April 2015.
EditorI Made Asdhiana
KUDUS, KOMPAS.com - Ritual penjamasan keris Sunan Kudus di kompleks Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, Jawa Tengah, memungkinkan dijadikan paket wisata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Hal itu dikemukakan Kabid Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Sancaka Dwi Supani, di Kudus, Senin (28/9/2015).

"Nilai sejarahnya memang cukup menarik untuk diketahui sehingga prosesi penjamasan keris peninggalan Sunan Kudus yang dilaksanakan setelah hari Tasrikh layak menjadi salah satu paket wisata untuk ditawarkan," ujarnya.

Di kompleks Makam Sunan Kudus, menurut Dwi, juga banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi wisatawan, mulai dari bangunan Menara Kudus, makam serta masjid. Bahkan kompleks Menara Kudus juga dilengkapi pula bangunan museum yang nantinya menjadi pusat informasi seputar perjuangan Sunan Kudus maupun benda-benda bersejarah lainnya.

Hanya saja, lanjut Dwi, untuk mempromosikannya perlu koordinasi dengan pihak pengelola Menara Kudus apakah hal itu diperbolehkan atau tidak.

Menurut dia, banyak tradisi di Kudus yang bisa dijadikan atraksi budaya sehingga bisa menjadi salah satu daya tarik wisata di Kudus. Beberapa desa yang memiliki tradisi unik sudah banyak yang mulai mengembangkan menjadi atraksi budaya sehingga wisatawan dari luar daerah mulai mengenal, salah satunya di Masjid Wali Loram Kulon. Masyarakat desa setempat memiliki kebiasaan unik terkait dengan tradisi manten di masjid setempat.

Terkait dengan jamas keris, menurut Dwi, memungkinkan pula digelar tradisi jamas keris secara massal mengingat di Kudus juga banyak masyarakat yang mengoleksi keris. "Jika banyak pihak yang mendukung untuk menggelar kegiatan tersebut, tentunya bisa dikemas menjadi daya tarik wisata," ujarnya.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Keindahan arsitektur Menara Kudus di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah yang telah menjadi sebuah monumen peradaban masa lalu dan pusat spiritualisme Islam hingga kini, Senin (18/7/2011). Masjid Al-Aqsa atau dikenal Masjid Menara Kudus yang didirikan tahun 1549 ini tidak terlepas dari Sunan Kudus yang menyebarkan Islam melalui alkulturasi budaya.
Sementara itu, proses jamas keris peninggalan Sunan Kudus yang digelar Senin (28/9/2015) dipusatkan di bangunan Tajug depan pintu masuk kompleks makam Sunan Kudus.

Proses penjamasan keris yang dikenal dengan nama keris Kiai Cinthaka diawali dengan ritual keagamaan dan doa bersama, kemudian keris disiram "banyu landa" atau air rendaman merang ketan hitam.

Kemudian, dibersihkan menggunakan air jeruk nipis dan dikeringkan dengan cara dijemur di atas sekam ketan hitam oleh ahli penjamasan. Penjamasan berikutnya, yakni dua mata tombak peninggalan Sunan Kudus.

Usai prosesi tersebut, dilanjutkan dengan acara makan bersama dengan menu khas "jajan pasar" dan nasi opor ayam. Hidangan nasi opor ayam sendiri baru berjalan sekitar belasan tahun yang lalu, guna menghormati salah satu menu kesukaan Sunan Kudus.



Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X