Kompas.com - 30/09/2015, 08:32 WIB
EditorI Made Asdhiana
PANAS yang terik membuat warga tak sabar untuk segera menikmati buah belimbing yang terlihat segar kekuningan. Saat tamu dan undangan masih khusyuk memanjatkan doa, puluhan warga pun menghambur ke satu gunungan belimbing yang diletakkan di tanah lapang, lalu berebutan mengambilnya.

Seusai doa, satu gunungan belimbing di panggung pun akhirnya menjadi incaran undangan, termasuk Wakil Bupati Bojonegoro Setyo Hartono. Dua gunungan belimbing tersebut bersama tumpeng yang dibawa warga sebelumnya diarak keliling kampung, dimeriahkan dengan bunyi tetabuhan lesung.

Gunungan belimbing setinggi 2 meter dan 1,5 meter itu adalah sumbangan dari 104 petani untuk menyemarakkan Festival Belimbing pada Minggu (20/9/2015) di Desa Agrowisata Belimbing, Desa Ringinrejo (warga menyebutnya Ngringinrejo), Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Petani menyumbangkan belimbing untuk dibuat gunungan masing- masing orang 5-15 kilogram.

Para pengunjung bisa menikmati sejuknya kebun belimbing milik petani. Mereka bebas memetik, memilih buahnya, dan membawa pulang setelah ditimbang dan membelinya Rp 10.000 per kg. Belimbing Ngringinrejo terasa segar dan banyak kandungan airnya.

Rasa manis bisa menjadi pelepas dahaga di saat matahari sedang panas. Di Ngringinrejo, jika pengunjung takut salah petik belimbing, bisa membeli langsung pada gerai-gerai petani yang mirip gasebo. Harganya Rp 7.000-Rp 9.000 tergantung ukuran dan kualitasnya.

Pengunjung pun bisa sekadar piknik, menikmati makanan yang dibawa dari rumah sambil lesehan di bawah rindangnya pohon belimbing. Mereka juga bisa memanfaatkan gasebo-gasebo yang telah tersedia untuk melepas penat.

Kebun belimbing seluas 20,4 hektar itu juga bisa dimanfaatkan menjadi sarana edukasi, apalagi kini juga tersedia bumi perkemahan. Selain di kawasan agrowisata, ada pula tanaman belimbing yang dikembangkan di pekarangan warga, tetapi jumlahnya paling banyak 10 pohon.

Sejahterakan warga

Kepala Desa Ringinrejo Mochammad Syafii menyebutkan, keberadaan kebun belimbing di desanya berdampak pada penghasilan warga, bukan hanya petani. Setiap hari, minimal ada 100 pengunjung. Bahkan, pada akhir pekan atau hari libur, bisa lebih dari 1.000 pengunjung.

Di kawasan itu ada 36 pedagang kaki lima yang turut kecipratan berkah adanya kebun belimbing. ”Bahkan, pada tahun baru lalu, omzet sehari mencapai Rp 72 juta,” kata Syafii.

Selama dua tahun terakhir, pengunjung yang masuk ke kawasan agrowisata belimbing dikenai retribusi Rp 1.000 per orang. Retribusi itu digunakan untuk pemeliharaan, kebersihan, dan kas desa. Apalagi, kebun belimbing bisa dikatakan tidak pernah sepi.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.