Kompas.com - 07/10/2015, 16:29 WIB
Bandara Internasional Ngurah Rai di Kabupaten Badung, Bali, masih menjadi andalan pintu masuk pariwisata Bali. Puluhan ribu wisatawan asing datang setiap bulan. Namun, pemerintah setempat khawatir pintu masuk Bali ini ternoda kasus pemerasan terhadap wisatawan, seperti yang menimpa turis Tiongkok pada September lalu. Kenyamanan dan keamanan pun dipertaruhkan. KOMPAS/AYU SULISTYOWATIBandara Internasional Ngurah Rai di Kabupaten Badung, Bali, masih menjadi andalan pintu masuk pariwisata Bali. Puluhan ribu wisatawan asing datang setiap bulan. Namun, pemerintah setempat khawatir pintu masuk Bali ini ternoda kasus pemerasan terhadap wisatawan, seperti yang menimpa turis Tiongkok pada September lalu. Kenyamanan dan keamanan pun dipertaruhkan.
EditorI Made Asdhiana
SEJAK Agustus lalu, dua institusi negara, Kepolisian Sektor Kuta dan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Ngurah Rai, Bali, menjadi bulan-bulanan wisatawan asal Australia dan Tiongkok yang datang berlibur. Tudingan pemerasan oknum anggota kedua institusi tersebut seakan melukai pariwisata dan lembaga hukum di Tanah Air.

Agustus lalu beredar di media Australia mengenai keluhan 16 turis asal ”Negeri Kanguru” yang mengaku diperas 25.000 dollar AS atau sekitar Rp 356 juta. Peristiwa itu terjadi setelah belasan turis ditangkap anggota Polsek Kuta karena menggelar pesta tanpa busana di Seminyak, Bali, Februari lalu.

Sebanyak 12 anggota Polsek Kuta bersama Kepala Polsek Kuta Komisaris Ida Bagus Dedy Januartha pun diperiksa Propam Polda Bali. Bahkan, mereka sempat mendapat hukuman dari Wakil Kepala Polda Bali Brigjen (Pol) I Nyoman Suryastra dengan berjemur berjam-jam di bawah terik matahari di halaman Polda Bali. Wakil Kepala Polda Bali gerah dan geregetan dengan pemberitaan tersebut.

Bagaimana tidak, bagaikan memutar cerita lalu yang hampir serupa menimpa polisi Bali. Bulan April 2013, seorang oknum polisi menilang turis asal Belanda di Kerobokan karena tak memakai helm. Namun, bukan surat tilang yang diberikan kepada sang turis. Polisi itu justru memeras Rp 200.000 dan mendapatkan beberapa botol minuman rendah alkohol.

Hal senada dialami Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Ngurah Rai, juga pada April 2013. Oknum imigrasi meminta paksa telepon genggam bermerek milik turis asal Amerika Serikat.

Belum lama ini, dalam waktu hampir bersamaan dengan hangatnya pembicaraan turis Australia yang diperas anggota Polsek Kuta, dua oknum imigrasi Ngurah Rai, H dan W, masuk bui Kepolisian Resor Kota Denpasar. Keduanya mengakui melakukan pemerasan 200 yuan atau sekitar Rp 500.000 terhadap Zhang Tao, turis asal Tiongkok. Hingga Selasa (22/9/2015), polisi masih mencari tahu apa motif dan berapa kali keduanya pernah memeras turis di terminal kedatangan internasional Bandara Ngurah Rai.

Tak hanya dugaan pemerasan 200 yuan, oknum imigrasi juga diduga merampas uang 2.200 dollar AS atau sekitar Rp 31 juta dari tas selempang Zhang. Perampasan itu dilakukan di tempat parkir lantai 1 terminal kedatangan internasional. Selain itu, aksi pemerasan terekam kamera CCTV yang mengarah ke meja pemeriksaan dokumen kedatangan penumpang asing di terminal kedatangan internasional Bandara Ngurah Rai.

Namun, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Ngurah Rai Yohanes HA Renung Widodo tetap ngotot bahwa petugasnya difitnah. ”Saya akan tuntut turis Tiongkok itu. Dia yang suap,” kata Widodo dengan nada
tinggi.

Meski berkeyakinan tidak salah, Widodo belum bisa membuktikan dengan jelas mengapa oknumnya tetap menerima uang yuan tersebut. Bahkan, oknum tertangkap kamera menggiring Zhang dengan paksa saat menunggu teman-temannya. Menurut Widodo, Zhang pura-pura menjadi turis untuk melakukan kriminal siber di Bali seperti beberapa kasus warga Tiongkok sebelumnya yang ditangkap imigrasi.

Disayangkan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X