Kompas.com - 14/10/2015, 08:34 WIB
Paul Rainbow (45), turis asal Australia, menyapu pantai Nemberala, Rote Ndao, NTT, Jumat (18/5/2013). Kegiatan ini dilakukan setiap sore hari, saat pantai itu kotor. Penduduk lokal tak peduli terhadap kebersihan pantai itu,
KOMPAS/KORNELIS KEWA AMAPaul Rainbow (45), turis asal Australia, menyapu pantai Nemberala, Rote Ndao, NTT, Jumat (18/5/2013). Kegiatan ini dilakukan setiap sore hari, saat pantai itu kotor. Penduduk lokal tak peduli terhadap kebersihan pantai itu,
|
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS.com — Awal November mendatang, Swarna Fest 2015 akan diadakan di Kabupaten Rote Ndao. Lebih meriah lagi karena pada waktu bersamaan diadakan juga Gelar Budaya Dela. Namun, potensi wisata Kabupaten Rote Ndao bukan hanya ini. Kabupaten Rote Ndao adalah wilayah paling selatan Indonesia, merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur dan terdiri dari 96 pulau. Lautnya berbatasan langsung dengan Australia.

Dari sekian banyak pulau yang ada, hanya enam pulau yang berpenghuni, dua di antaranya adalah Pulau Rote dan Pulau Ndao. Pulau Rote terkenal dengan alat musik tradisionalnya, sasando, sebuah alat musik bambu yang dimainkan dengan menggunakan senar seperti memainkan harpa. Hanya saja, senarnya mengitari bambu di bagian tengah.

"Di sana itu pusatnya pembuatan sasando," ujar Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Rote Ndao, Nunuhitu, di Jakarta, Selasa (13/10/2015).

Selain itu, di Pulau Rote, juga ada Pantai Nemberala yang terkenal dengan ombaknya. Ombak pantai ini menjadi pesaing pantai di Hawaii dan digemari untuk berselancar. Bulan November mendatang bahkan akan diadakan festival selancar tingkat internasional pertama yang akan jadi acara tahunan.

Pulau Rote juga memiliki danau air asin dengan dua jenis ikan, ikan air tawar dan ikan laut. "Ini menarik karena dua jenis ikan bertemu di satu titik ini," kata Nunuhitu.

KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA Ivan Pah (kanan) asal Rote Ndao, bersama seorang putri pemain biola asal Jakarta, memainkan alat musik tradisional asal Nusa Tenggara Timur di depan stan produk pariwisata Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia. Pengunjung berjubel menyaksikan alat musik ini, Jumat (4/9/2015).
Jika ingin sedikit mendaki, ada Tangga 300. Pengunjung dapat menaikinya untuk melihat wilayah Pulau Rote hingga ke Australia. Menikmati mentari terbenam di tempat ini juga jadi aktivitas yang ditunggu. "Walau namanya Tangga 300, tetapi ada yang pernah hitung jumlahnya 500 lebih," kisah Nunuhitu.

Sementara itu, Pulau Ndao sangat terkenal dengan hasil tenunnya. Seluruh wanita di tempat ini berprofesi sebagai penenun. Lebih menarik lagi karena belakangan perancang busana Merdi Sihombing mulai membina masyarakat untuk mengolah juga kain hasil tenunnya menjadi busana atau memberi warna dengan pewarna alam.

Merdi akan menampilkan karya kolaborasinya dengan masyarakat kabupaten ini pada Swarna Fest 2015. Untuk datang ke sini, pengunjung bisa menggunakan penerbangan dari Bandara El Tari di Kupang. Setiap hari ada pesawat ke Rote Ndao pada pukul 15.00.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X