Pariwisata Sumbar, Pesona Alam Saja Belum Cukup...

Kompas.com - 14/10/2015, 14:02 WIB
Wisatawan menikmati keindahan pantai pasir putih di Pulau Cingkuak, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Jumat (15/5/2015). Pulau Cingkuak yang berdekatan dengan Pantai Carocok menyediakan wahana air seperti banana boat dan flying fish. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOWisatawan menikmati keindahan pantai pasir putih di Pulau Cingkuak, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Jumat (15/5/2015). Pulau Cingkuak yang berdekatan dengan Pantai Carocok menyediakan wahana air seperti banana boat dan flying fish.
EditorI Made Asdhiana
PADANG, KOMPAS.com - "Alam Sumatera Barat diciptakan saat Tuhan tersenyum....," seloroh mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar memuji keelokan alam Minangkabau.

Apa yang disampaikan Sapta, tokoh di balik Tour de Singkarak, agenda campuran pariwisata dan olahraga balap sepeda yang sudah menjadi ikon wisata Sumatera Barat (Sumbar) itu tidaklah berlebihan.

Obyek wisata alam jenis apa pun tersedia di Sumatera Barat, mulai dari pantai indah yang berpasir putih, pantai berombak tinggi untuk surfing, pegunungan dengan udara segar, perbukitan, air terjun, goa, danau, sungai, ngarai dan tentu saja wisata kuliner.

Mereka yang suka surfing, silakan datang ke Mentawai yang disebut-sebut sebagai salah satu lokasi terbaik di dunia. Mau olahraga terbang layang, silahkan coba sensasi bukit Langkisau di Painan (Pesisir Selatan) atau Puncak Lawang di Kabupaten Agam sambil menikmati pesona Danau Maninjau dari ketinggian.

ARSIP KOMPAS TV Anggota Langkisau Paralayang Club dari Bukit Langkisau menuju pendaratan di Pantai Salido, Sumatera Barat.
Wisata bahari juga menyediakan lokasi terbaik untuk snorkeling atau diving di Pulau Cubadak yang berlokasi di kawasan wisata terpadu Mandeh di Pesisir Selatan.

Tidak ketinggalan tentu saja wisata kuliner, dengan pilihan yang sangat beragam. Selain rendang daging sapi yang dinobatkan oleh CNN sebagai makanan paling enak di dunia, wisatawan bisa menikmati gulai itik lado hijau, aneka samba lado, tambunsu (usus), gajeboh (jeroan), ampiah dadiah (sejenis yogurt), minuman khas kawa daun dan teh telur, serta masih banyak lagi.

Tapi dengan segudang potensi alam, kuliner dan sejarah, mengapa pariwisata Sumbar sulit berkembang dan jauh tertinggal dengan daerah lain seperti Bali, Yogyakarta, Bandung, Batam dan Sumatera Utara?

Pada 10 Febuari 1989, pada masa Orde Baru, sosiolog Muchtar Naim menyampaikan makalah dengan topik "Kendala Sosial Budaya dalam Pengembangan Pariwisata di Sumatera Barat" di Bukittinggi.

TULUS MULIAWAN/JUARA.NET Keceriaan muda-mudi Payakumbuh, Sumatera Barat, saat menampilkan tarian tradisional menyambut peserta Tour de Singkarak (TdS) 2015.
Kendala sosial-budaya, menurut Muchtar, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, yang untuk itu perlu ada solusi dan perlu didudukkan masalahnya secara tuntas dan menyeluruh agar program pariwisata ini bisa berkembang di bumi Minangkabau.

Pada 12 Oktober 2015, mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago menyampaikan presentasi dalam sebuah diskusi tentang pariwisata di kampus Universitas Andalas Padang dengan topik yang sama, yaitu perilaku dan sikap masyarakat yang menghalangi perkembangan pariwisata.

Halaman:


Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X