Kompas.com - 30/11/2015, 18:11 WIB
Wisatawan menikmati matahari terbit dari kawah I Gunung Batur di Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali beberapa waktu lalu. KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Wisatawan menikmati matahari terbit dari kawah I Gunung Batur di Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali beberapa waktu lalu.
|
EditorNi Luh Made Pertiwi F
JAKARTA, KOMPAS.com - Unsur manusia kerap terlupakan ketika seorang pelancong membuat foto perjalanan wisata. Biasanya, wisatawan hanya menangkap unsur-unsur ruang seperti hutan, laut, gunung, pantai, ataupun langit.

"Biasanya saat foto lupa tambahkan unsur manusia. Foto akan lebih hidup kalau ada manusianya," kata narasumber acara Travel Mate Workshop, Yunaidi Joepoet saat memberikan materi di Jakarta, Sabtu (29/11/2015).

Ia beralasan jika esensi dalam melakukan perjalanan wisata adalah berinteraksi dengan manusia di tempat wisata yang didatangi. Oleh karena itu, unsur manusia menurut Yunaidi sangat penting untuk dimasukkan ke dalam foto.

"Foto yang bagus itu yang berkonsep. Misalnya ya itu ada interaksi manusia di dalam fotonya. Tapi bukan sekedar selfie aja," ungkap laki-laki yang bekerja sebagai fotografer di National Geographic Indonesia ini.

Hal-hal yang berkaitan dengan manusia dalam perjalanan di obyek wisata, lanjut Yunaidi, bisa dieksplorasi dengan melakukan perencanaan sebelum berangkat berlibur. Ia mengatakan walaupun obyek wisata yang dikunjungi telah populer, jika ada unsur manusia yakni aktivitas yang jarang dilakukan, akan menambah makna foto.

"Misalnya di pantai, motret aktivitas nelayan. Sebelum foto kan ada interaksi sama orang lokal, nah itu bisa didokumentasikan," tambah dia.

Untuk menemukan aktivitas manusia yang menarik di obyek wisata yang dikunjungi, Yunaidi, memberikan tips untuk para wisatawan yang ingin memotret.

"Tips-nya, luangkan waktu khusus. Jika nggak punya waktu, coba riset dulu sebelum jalan. Jadi bisa fokus cari kegiatan yang menarik," jelasnya.

Selain itu, jika ingin memotret aktivitas manusia saat berada di obyek wisata, Yunaidi mengatakan wisatawan harus membaur dengan kehidupan masyarakat setempat. Hal itu bertujuan untuk menimbulkan rasa aman dan nyaman masyarakat setempat.

"Jadi nggak tiba-tiba motret. Jangan berpenampilan seperti fotografer. Berpakaiannya biasa aja misalnya celana pendek, kaus," urai Yunaidi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X