Kompas.com - 03/12/2015, 09:32 WIB
Ranu Amilus, berselancar dengan hasrat jiwa. KOMPAS/MEDIANARanu Amilus, berselancar dengan hasrat jiwa.
EditorI Made Asdhiana
Sayangnya, keceriaan itu tidak berlangsung lama. Harga cengkeh di pasaran turun drastis. Situasi perekonomian di Simeulue memburuk. Saat Ranu berusia empat tahun, orangtuanya memboyong dia dan saudaranya merantau ke Medan, Sumatera Utara. Orangtua Ranu beralih jadi pedagang makanan khas Sumatera.

”Tentu hal ini tidak mudah. Kami harus mulai membangun ekonomi keluarga dari nol. Anak dilibatkan penuh dalam usaha ini, misalnya saya yang masih kecil membantu di dapur,” kata Ranu. Dari situlah dia belajar memasak.

Pariwisata

Hasrat menekuni bidang pariwisata tumbuh secara tidak sengaja. Saat duduk di bangku SMP, dia sering melihat pengayuh becak dan becak motor (bentor) mengantar turis asing berkeliling ke berbagai tempat wisata di Medan.

Kemudian, dia berkenalan dengan kelompok tukang becak dan pengemudi bentor wisata. Dari kelompok itu, Ranu mempraktikkan ilmu pengetahuan tentang Medan, bahasa Inggris, dan kepiawaiannya menjalin komunikasi.

”Sepulang sekolah, saya berganti baju seragam ke pakaian biasa. Kemudian, pergi ke motel, losmen, dan hotel populer tempat turis mancanegara biasa menginap. Saya menawarkan diri sebagai pelajar yang ingin belajar berbahasa Inggris dan memandu turis ke tempat wisata di Medan,” katanya sambil tertawa.

Karena hanya berniat belajar, awalnya dia tidak memperoleh upah. Namun, lambat laun ia mulai mendapatkan bayaran seiring meningkatnya jam terbang memandu turis. Uang hasil bekerja digunakan untuk membantu keuangan keluarga.

”Saya memakai sisa uang untuk mengambil kursus bahasa Inggris. Di samping itu, saya juga belajar bahasa Jepang. Saya yakin, bahasa akan sangat berguna bagi pekerja pariwisata,” tutur Ranu.

Lulus SMP pada 1995, dia mantap belajar di SMK pariwisata. Jurusan yang diambil adalah tur dan perjalanan. Profesi pemandu wisata lepas pun masih ia lakoni.

Lapangan memang ”sekolah” terbaik. Dari turis asing, dia mengeksplorasi kemampuan, menimba pengetahuan tren pelesir, dan menjalin relasi. Bali dan Sumbawa (Nusa Tenggara Barat) sempat menjadi daerah perantauannya selama kurun waktu 2000-2003.

”Saya menyukai pantai, ombak, dan selancar. Di kedua destinasi wisata unggulan itu, saya merasakan sulitnya bekerja sebagai pemandu wisata. Kompetisinya cukup sengit sehingga sering menyebabkan keuangan pribadi terganggu,” ujar Ranu.

Dia sempat berpindah-pindah tempat tinggal. Tapi, kondisi tersebut sama sekali tidak menyurutkan semangatnya. Dia bahkan membuka relasi luas dengan koki hotel, kelompok pemandu wisata, dan investor.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.