Nasi Kropokhan, Kuliner Raja Demak yang Terlupakan - Kompas.com

Nasi Kropokhan, Kuliner Raja Demak yang Terlupakan

Kompas.com - 14/12/2015, 09:24 WIB
KOMPAS.COM/ARI WIDODO Nasi kropokhan konon merupakan menu kesukaan Raja Demak. Kuliner dengan olahan daging kerbau dan labu putih itu disajikan di Rumah Makan Pawon Wolu, Jalan Sultan Hadiwijaya nomor 40, Kelurahan Mangunjiwan, Demak Kota, Jawa Tengah.
DEMAK, KOMPAS.com - Kabupaten Demak, di Jawa Tengah, tidak hanya memiliki Masjid Agung Demak dan Makam Sunan Kalijaga saja, ternyata juga menyimpan berbagai kuliner khas, salah satunya adalah nasi kropokhan.

Konon Nasi Kropokan merupakan menu kesukaan Raja Demak, namun tidak banyak yang tahu akan hal itu. Kuliner warisan leluhur yang mengandalkan olahan daging kerbau dan labu putih itu mulai hilang tergerus zaman.

Tapi jangan khawatir, bagi anda yang penasaran dan ingin mencicipi kuliner para bangsawan dan Raja Demak itu, datang saja ke Rumah Makan Pawon Wolu di Jalan Sultan Hadiwijaya nomor 40, Kelurahan Mangunjiwan, Demak Kota.

Makanan berkuah santan warna kuning itu akan terlihat menggoda selera apabila disantap saat masih panas dengan ditemani nasi putih. Empuknya iga kerbau dalam sayur itu akan terasa lembut di lidah.

Anda pun tak perlu khawatir dengan ancaman kolesterol, karena makanan tersebut juga dilengkapi sayuran labu putih.

Selain menggunakan bumbu-bumbu rempah, kropokhan menjadi lebih sedap dengan penyertaan beberapa helai daun kedondong. Tak hanya menimbulkan rasa asam, daun kedondong juga dipercaya bisa menggerus kolesterol dari daging dan santan.

Sementara tingkat kepedasannya bisa ditentukan oleh pecinta kuliner sendiri, karena cabai yang digunakan masih utuh.

“Rasanya pas, cocok di lidah. Dagingnya empuk dan gurih. Ada rasa asam dan asin. Cabainya juga masih utuh, bisa ngatur pedasnya. Pokoknya aku banget,” kata Magdalena (20), salah satu pelanggan, saat ditemui di Demak, Minggu (13/12/2015) sore.

Mahasiswi kedokteran di Semarang itu, mengaku saat pulang ke Demak selalu menyempatkan diri mampir untuk menikmati nasi kropokhan yang menjadi menu favoritnya. Sayangnya, tidak semua warung atau gerai makanan di Demak menyajikan makanan langka tersebut sehingga tidak semua orang bisa menikmatinya.

“Ternyata kuliner Raja Demak itu enak juga. Ada sensasi tersendiri saat menikmati nasi kropokhan. Oh kayak gini ya, masakan Raja Demak itu,” kata Magdalena.

Menurut sang pemilik rumah makan, Tatik Sulistijani (43), nasi kropokhan merupakan menu andalan di tempatnya. Makanan khas berbahan dasar iga daging kerbau dan labu putih memang sengaja dipilih menjadi menu utama.

Tatik menuturkan, nasi kropokhan semakin langka dan bisa jadi generasi muda tidak akan lagi bisa menikmati sajian khas ini jika tidak ada yang nguri uri atau melestarikan resepnya.

Bumbu nasi kropokhan terdiri dari, bawang merah dan bawang putih, kunyit, kemiri, ketumbar, jintan, daun jeruk, serta daun salam dan laos. Kemudian ada pula, garam, gula pasir, kunir, kelapa serta daun kedondong.

KOMPAS.COM/ARI WIDODO Pengunjung menikmati nasi kropokhan, di Rumah Makan Pawon Wolu, Jalan Sultan Hadiwijaya nomor 40, Kelurahan Mangunjiwan, Demak Kota, Jawa Tengah, Minggu (13/12/2015).
"Iga kerbau kita rebus sampai empuk. Pada saat merebus, masukkan semua bumbu rempah yang telah dihaluskan agar meresap ke daging. Kemudian masukkan labu putih, daun kedondong, cabai utuh dan santan. Untuk memperkuat rasa, tambahkan sedikit gula pasir. Tunggu sekitar 30 menit dengan api sedang dan menu kropokhan siap dihidangkan,” kata Tatik.

"Ada aroma kecut itu dari daun buah kedondong, gunanya untuk menetralisir kolesterol. Pokoknya aman," sambung wanita cantik yang juga Anggota DPRD Demak itu.

Selain disukai oleh raja-raja Demak, nasi kropokhan juga sering disajikan untuk acara-acara kerajaan. Menikmati sensasi makanan Raja Demak itu, akan terasa sempurna apabila ditemani dengan wedang pekak.

Minuman rempah berwarna merah itu terbuat dari bahan kayu secang, jahe bakar serai dan pekak. Minuman yang dipercaya dapat meningkatkan vitalitas kaum laki-laki itu, akan terasa pas apabila disajikan hangat dan ditambah dengan gula batu.

“Seporsi nasi kropokhan hanya Rp 15.000 saja. Untuk wedang pekak Rp 3.500. Harga itu tidak mahal. Kami sengaja membidik kalangan menengah ke bawah. Cocok untuk kantong mahasiswa lho,” tambah Tatik berpromosi.


EditorI Made Asdhiana

Close Ads X