Kompas.com - 04/01/2016, 14:35 WIB
Perwakilan dari komunitas masyarakat Ohoivut dan Nufit melakukan sidang adat di Pulau Kei Kecil, tepatnya Ohoi Faan, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku, Rabu (28/10/2015). Dalam sidang itu, mereka sepakat untuk menjadi sedarah. Upacara itu dinamai Tea Bel.
KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERINPerwakilan dari komunitas masyarakat Ohoivut dan Nufit melakukan sidang adat di Pulau Kei Kecil, tepatnya Ohoi Faan, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku, Rabu (28/10/2015). Dalam sidang itu, mereka sepakat untuk menjadi sedarah. Upacara itu dinamai Tea Bel.
EditorI Made Asdhiana
Hubungan Tea Bel memiliki kesamaan dengan hubungan Pela yang berlaku di Pulau Ambon, Pulau-pulau Lease, dan Pulau Seram. Hubungan tersebut diawali dengan suatu peristiwa, bahkan berupa kekerasan.

Tak ingin ada pertumpahan darah lagi, para leluhur mengangkat sumpah untuk menjadi satu darah. Hal tersebut memiliki konsekuensi sebab Tuhan dan leluhur turut menyaksikan sumpah tersebut.

Jika dilanggar, lanjutnya, orang tersebut akan mengalami berbagai kemalangan, seperti meninggal, gila, atau tidak memiliki keturunan.

Bagi muda-mudi yang telanjur menikah atau pemuda yang terlibat perkelahian, secepatnya mendatangi tua adat untuk memohon agar dilakukan upacara permintaan maaf kepada Tuhan dan leluhur. Orang Kei sangat meyakini hal tersebut.

Dengan memegang teguh persaudaraan, kedamaian akan sendirnya tercipta. Jarang terdengar orang Kei bertikai atas dasar perbedaan agama. Keturunan Kei umumnya memeluk agama Islam, Katolik, dan Kristen Protestan.

Peristiwa kekerasan di sana biasanya terjadi karena menyerobot lahan orang lain atau menyakiti perempuan. Masyarakat Kei menempatkan perempuan pada posisi terhormat.

Persaudaraan tanpa melihat agama itu terbukti ketika Maluku dilanda konflik sosial bernuansa agama pada 1999. Konflik yang bermula di Ambon menyebar begitu cepat ke hampir semua daerah di Maluku, termasuk Kepulauan Kei.

Namun, konflik di Kei hanya bertahan selama tiga bulan sebab persaudaraan di Kei sangat kuat, dan itu diakui kebanyakan warga Maluku. Sementara konflik di Ambon baru reda pada tahun 2005.

Pesan perdamaian dalam Tea Bel juga tidak hanya berlaku bagi sesama keturunan Kei, tetapi juga antara warga Kei dan orang suku lain.

Dilarang melukai orang dari suku lain sebab dalam adat Kei, nilai kemanusiaan sangat dijunjung tinggi. Leluhur Kei telah merumuskan hal tersebut dalam hukum yang berisi tujuh pasal, yakni Hukum Larvul Ngabal.

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon S Tiwery mengatakan, Tae Bel berhasil mengelola keberagaman di Kei, dan ini bisa menjadi referensi bagi daerah lain.

Ia pun berharap agar upacara tersebut dimaknai oleh semua warga Ohoivut dan Nufit. Ia yakin, daerah itu bakal aman sebab warganya tidak mungkin digoyang isu perpecahan yang masih terjadi di sejumlah daerah. (FRANSISKUS PATI HERIN)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.