Kompas.com - 09/01/2016, 08:47 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

Pengelola sengaja menjaga pepohonan tersebut dan menanamnya untuk mempertahankan kelestarian alam. Dengan demikian, walau menguras tenaga, kesejukan tetap dirasakan.

Kami beberapa kali beristirahat sembari meneguk air mineral yang dibawa. Beberapa tangga yang terbuat dari kayu juga disiapkan untuk pendakian vertikal.

Sensasi lainnya adalah melewati celah sempit di antara dinding batu sebelum mencapai Pos 1. Celah sempit pendakian ini, hanya bisa dilewati satu orang saja. "Kalau ada yang turun, kita harus menunggu dulu, karena kalau dua orang tidak muat," jelas Ade.

Keluar dari celah cempit itu, sebuah batu raksasa di sisi kiri menjadi pilihan untuk berselfie ria, sementara dinding tebing batu di sebelah kanan seakan menjadi benteng alam yang kokoh.

Ke atas sedikit, lokasi pandang di Pos 1 menyajikan pemandangan yang luar biasa. Kota Yogyakarta terlihat di kejauhan sementara sawah-sawah warga di sekitar Gunung Kidul menyajikan pemandangan hijau yang tak kalah indahnya.

"Jika malam, dari sini terlihat hamparan lampu-lampu Yogyakarta," ujar Ade sembari kami beristirahat di Pos 1.

Jutaan Tahun

Gunung Api Purba Nglanggeran terletak di zona Pengunungan Selatan Jawa Tengah-Jawa Timur atau di sub zona Pengunungan Baturagung dengan ketinggian 700 meter dari permukaan laut. Beberapa lerengnya cukup curam dan terjal, bahkan beberapa membentuk dinding batu.

Gunung ini secara geologi merupakan endapan vulkanik tua berjenis andesit, yang diperkirakan berumur antara 60 hingga 70 juta tahun yang lalu. Batu-batu raksasanya membentang sekitar 800 meter dan setinggi 300 meter.

Selain potensi gunung api purbanya, di kawasan ekowisata Nglanggeran juga dijumpai fauna dan flora langka seperti tanaman tremas dan kera ekor panjang. Di sekitar lokasi itu juga masih berkembang kegiatan seni dan budaya lokal seperti bersih desa.

KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL Batu-batu raksasa yang membentuk dinding khas di kawasan wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunungkidul, DI Yogyakarta.
Dari kejauhan, kawasan gunung api purba ini menyajikan pemandangan yang ekstotis dengan berbagai gunung kecil lainnya yang dinamai warga sesuai dengan bentuknya, seperti Gunung Lima Jari, Gunung Kelir, Gunung Wayang dan sebagainya.

Keunikan lainnya adalah di puncak Nglarenggang terdapat Dusun Tlogo Mardidho yang hanya boleh dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Warga di sana percaya jika kepala keluarga yang tinggal di dusun ini kurang atau lebih, maka akan terjadi hal-hal buruk yang tidak diinginkan.

Hingga saat ini, dusun itu tetap dipertahankan dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Jika ada anak-anak mereka membentuk keluarga baru, maka keluarga tersebut harus meninggalkan dusun Tlogo Mardhido.

Tak hanya trekking ke Gunung Api Purba, di kawasan ekowisata Nglanggeran terdapat juga beberapa obyek wisata seperti Embung Nglanggeran dan Air Terjun Kedung Kandang serta aktifitas bercocok tanam warga di sana.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.