Kompas.com - 09/01/2016, 13:43 WIB
EditorI Made Asdhiana
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Kota wisata bersejarah termasuk Yogyakarta perlu menyeimbangkan pengaruh industri pariwisata dengan strategi pembangunan berkelanjutan karena kota ini telah berkembang sebagai kota wisata.

"Hal itu menjadi tantangan pemerintah dan masyarakat karena konsentrasi turis dan pembangunan industri pariwisata di kota bersejarah berpotensi membawa berbagai permasalahan," kata peneliti dari Kyoto Prefectural University, Jepang, Yoshifumi Muneta di Yogyakarta, Jumat (8/1/2016).

Pada "Tourism Heritage Seminar 2016", Yoshifumi mengatakan salah satu contohnya adalah Kyoto.

Menurut Yoshifumi, seiring dengan pergeseran industri Jepang dari perekonomian berbasis bisnis manufaktur ke perekonomian berbasis perdagangan dan jasa, industri pariwisata menjadi perhatian utama pemerintah.

"Meskipun memiliki potensi yang besar sebagai penggerak ekonomi nasional, pertumbuhan industri pariwisata menimbulkan ancaman terhadap kelestarian situs-situs yang menjadi aset budaya dan sejarah," katanya.

Dalam membangun industri pariwisata, kebijakan yang diambil pemerintah Jepang berfokus pada tiga hal. Pertama, memindahkan pusat pariwisata dari situs bersejarah ke fasilitas-fasilitas komersial.

Kedua, mengubah gaya wisata tamasya menjadi kegiatan yang lebih partisipatif dengan pengenalan terhadap etika dan filsafat budaya Jepang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Gelaran pawai budaya Festival Kuno lan Kini Sari Melati menyemarakkan suasana di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (19/1/2013). Festival yang dipusatkan di Benteng Vredeburg tersebut turut dimeriahkan dengan acara temu sapa bersama anggota keluarga Keraton Yogyakarta dan sajian berbagai permainan tradisional.
Ketiga, melibatkan wisatawan ke dalam kehidupan sehari-hari warga lokal agar mereka dapat mendapatkan pengalaman yang lebih dekat, dan di saat yang sama mereka turut memajukan kehidupan warga lokal.

"Melalui kebijakan tersebut pemerintah dapat melindungi situs-situs bersejarah namun tetap mendorong komersialisasi kota melalui alternatif wisata yang lebih modern," katanya.

Kepala Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) Djoko Wijono mengatakan apa yang disampaikan Yoshifumi itu dapat menjadi pelajaran bagi pembuatan kebijakan pembangunan pariwisata di Indonesia khususnya di Yogyakarta.

"Kyoto dan Yogyakarta sebagai 'sister city' diharapkan dapat terus menjalin hubungan yang baik dan bekerja sama," katanya.

"Tourism Heritage Seminar 2016" itu diadakan Pusat Studi Pariwisata UGM bekerja sama dengan Jogja Heritage Society.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Antara


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.