Kompas.com - 28/01/2016, 09:02 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com - Pantai Pemuteran di Kecamatan Gerogak, Kabupaten Buleleng, Bali kini semakin mendunia. United Nation World Tourism Organization (UNWTO/Organisasi Pariwisata Dunia PBB) baru-baru ini memberikan predikat juara kedua untuk kategori "Innovation in Non Govermental Organizations" di United Nation World Tourism Organization (UNWTO/Organisasi Pariwisata Dunia PBB) dengan program "Coral Reef Reborn Pemuteran, Bali".

Bukan tanpa perjuangan untuk mendapatkan penghargaan tersebut hingga dikenal di ajang internasional. Perlu konsistensi ketat untuk mendapatkan tersebut. Titik balik tersebut hadir ketika menjadikan alam tanpa eksploitasi yang merusak.

"Pada awal 1989 kegiatan mereka, para nelayan menangkap ikan dengan bom dan potas. Mereka tidak ada pilihan lain untuk menjalani mata pencaharian," kata Ketua Yayasan Karang Lestari, I Gusti Agung Prana (64) kepada KompasTravel di sela-sela acara Rapat Koordinasi Nasional Kementerian Pariwisata di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Selasa (26/1/2016).

Agung melihat pada tahun tersebut Pantai Pemuteran memiliki potensi tersembunyi di balik kehancuran karang-karang laut. Ia mulai memikirkan awal pengembangan destinasi wisata Desa Pemuteran yang terletak di tanjung. Ia mulai mencoba merehabilitasi sumber daya manusia di Desa Pemuteran untuk tidak lagi merusak alam.

"Saya minta untuk tidak menangkap ikan dengan bom dan ikan. Itu tidak langsung otomatis langsung berhasil tetapi itu jadi tantangan," jelas ayah dari tiga anak tersebut.

KOMPAS.com/Ni Luh Made Pertiwi F. I Gusti Agung Prana, Ketua Yayasan Karang Lestari, di Desa Pemuteran, Bali
Tantangan menghadapi orang-orang putus asa adalah itulah yang dirasakan oleh Agung. Salah satu cara yang dilakukan adalah mengajak para nelayan pergi ke destinasi wisata di Bali yang sudah maju. Proses doktrinasi kepada nelayan Agung ia lakukan.

"Kalau yang mereka jaga desa, maka desa akan seperti ini (destinasi yang sudah maju). Kalau desa sudah seperti ini, akan maju perekonomian," kata dia.

Usaha tersebut mulai berbuah manis. Ikan-ikan mulai mencium kehadiran terumbu karang. Setelah itu, Agung mulai membangun faktor amenitas di Desa Pemuteran yang ketika pada tahun 1989 ditinggali oleh 1.756 kepala keluarga.

"Setelah itu, saya mulai membangun amenitas pariwisata. itulah homestay pertama. Tahun 1990 belum ada homestay," ungkapnya.

Pada tahun 1992, I Gusti Agung Prana mendirikan hotel yang pertama kali di Desa Pemuteran, yakni Hotel Pondok Sari. Ia mengungkapkan masyarakat nelayan yang melakukan penangkapan ikan yang merusak terumbu karang mulai beralih profesi menjadi tenaga pembangunan sementara.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.