Dipuji Jokowi, Inilah Dua Perempuan Pendaki Gunung Aconcagua Argentina

Kompas.com - 03/02/2016, 13:29 WIB
Fransiska Dimittri (22) dan Mathilda Dwi Lestari (22) berada di Puncak Gunung Aconcagua, Argentina pada Sabtu (30/1/2016) pukul 17.45 waktu setempat atau Minggu (31/1/2016) pukul 03.45 WIB. Gunung Aconcagua adalah salah satu puncak gunung tertinggi di dunia yang terletak di jajaran Pegunungan Andes dengan ketinggian 6.962 meter di atas permukaan laut (mdpl). Arsip Mahitala UnparFransiska Dimittri (22) dan Mathilda Dwi Lestari (22) berada di Puncak Gunung Aconcagua, Argentina pada Sabtu (30/1/2016) pukul 17.45 waktu setempat atau Minggu (31/1/2016) pukul 03.45 WIB. Gunung Aconcagua adalah salah satu puncak gunung tertinggi di dunia yang terletak di jajaran Pegunungan Andes dengan ketinggian 6.962 meter di atas permukaan laut (mdpl).
|
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia kembali menorehkan prestasi di ajang pendakian gunung bersalju dunia setelah dua pendaki perempuan yang tergabung di Women Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala (WISSEMU) tiba di puncak Gunung Aconcagua pada Sabtu (30/1/2016) pukul 17.45 waktu setempat atau pukul 03.45 WIB, Minggu (31/1/2016) lalu.

Siapakah dua pendaki perempuan yang berhasil mencapai salah satu gunung tertinggi di dunia tersebut?

Dua pendaki perempuan tersebut yakni Fransiska Dmitri Inkiriwang (22) dan Mathilda Dwi Lestari (22). Kedua pendaki perempuan tersebut adalah mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Parahyangan angkatan 2012.

Dua dara kelahiran Jakarta pada tahun 1993 tersebut merupakan anggota muda organisasi pencinta alam Mahitala Unpar. Fransiska lahir bulan Oktober sementara Matilda lahir pada bulan September.

Matilda pertama kali dilantik menjadi anggota Mahitala Unpar pada tahun 2012. Sementara, berselang satu kemudian, Fransiska menyusul dilantik menjadi anggota muda pada tahun 2013.

"Tahun pertama Matilda pernah belajar diving. Di tahun kedua keanggotaan dia belajar mountaineering. Kalau Fransiska dia lebih cenderung ke mountaineering. Lalu sempat coba telusur goa dan arung jeram," kata Ketua Tim Publikasi WISSEMU, Alfons Hartanto saat dihubungi KompasTravel dari Jakarta, Selasa (2/2/2016) malam.

Arsip Mahitala Unpar Tiga pendaki perempuan yang mendaki Gunung Aconcagua yang tergabung dalam Women Indonesia Seven Summit Expedition Mahitala.
"Fransiska itu seangkatan dengan saya. Dia agak manja dan cenderung perempuan tapi hebatnya dia bisa melewati persiapan-persiapan ekspedisi. Dia bisa menunjukkan sisi lain yang tetap semangat," tambah Alfons.

Alfons menceritakan, Matilda adalah sosok yang dikenal periang ketika sedang berinteraksi terhadap teman-teman Mahitala Unpar. Menurut Alfons, mereka berdua adalah sosok perempuan yang tangguh karena berhasil melewati keempat gunung-gunung bersalju di dunia.

"Keseharian saat persiapan ekspedisi mereka sambil kuliah. Setiap sore jam 4 mereka biasanya lari. Kalau Jumat, Sabtu, dan Minggu latihan navigasi dan dokumentasi untuk ekspedisi," jelasnya.

Adapun tim Mahitala Unpar sebenarnya berjumlah tiga orang. Namun, satu anggota lain yakni Dian Indah Carolina (20) diputuskan untuk tidak melanjutkan pendakian karena mengalami gangguan kesehatan dan diharuskan kembali ke camp 3 untuk memulihkan kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan summit attack.

Sebelumnya, ketiga mahasiswi ini mencapai puncak Gunung Kilimanjaro (5.895m) pada 24 Mei 2015, puncak Gunung Elbrus (5.642m) pada 15 Mei 2015, dan Carstensz Pyramid (4.884m) pada 2014. Mahitala Unpar berhasil menempatkan empat pendaki puteranya sebagai tim Indonesia pertama di Tujuh Puncak Dunia pada 2012.

Arsip Mahitala Unpar Perjalanan tim menanjak dengan penuh salju menuju Puncak Gunung Aconcagua
Gunung Aconcagua adalah gunung tertinggi di Benua Amerika Selatan yang terletak di Provinsi Mendoza, Argentina. Gunung Aconcagua terletak di jajaran Pegunungan Andes dan terkenal memiliki cuaca dingin yang ekstrem ditambah badai angin yang sangat berbahaya dan dikenal dengan sebutan el viento blanco.

Pada tahun 1992, dua anggota organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) yang tergabung dalam Ekspedisi Puncak Tujuh Benua yakni Norman Edwin (37) dan Didiek Samsu (28) mengalami musibah ketika mendaki Gunung Aconcagua.

Norman Edwin yang tercatat sebagai wartawan Kompas dan Didiek Syamsu sebagai wartawan Majalah Jakarta Jakarta tersebut meninggal saat mendaki gunung karena cuaca buruk.

Pasca musibah itu pada tahun 1993, dua anggota Mapala UI yakni Ripto Mulyono dan Tantyo Bangun berhasil mencapai puncak Gunung Aconcagua. Catatan tersebut menorehkan Mapala UI sebagai tim Indonesia pertama yang menjejakkan kaki di puncak Aconcagua.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X