Tradisi Pantang dan Puasa sebelum Membersihkan Patung Dewi Samudera

Kompas.com - 04/02/2016, 20:27 WIB
Sejumlah orang terlihat sedang berbenah di dalam Vihara Dewi Samudera, Pontianak, Kalimantan Barat. KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWANSejumlah orang terlihat sedang berbenah di dalam Vihara Dewi Samudera, Pontianak, Kalimantan Barat.
|
EditorI Made Asdhiana
PONTIANAK, KOMPAS.com - Perayaan Imlek sudah semakin dekat. Setiap sudut kota pun sudah terlihat kemeriahan menyambut pergantian tahun penanggalan negeri China tersebut, tak terkecuali tempat ibadah.

Salah satunya terlihat di Vihara Dewi Samudera yang terletak di komplek Kapuas Indah, persis di pinggir Sungai Kapuas.

Bangunan yang posisinya menghadap ke Sungai Kapuas tersebut diklaim sebagai yang tertua di Kota Pontianak. Kesibukan terlihat ketika KompasTravel berkunjung ke rumah ibadah tersebut pada Rabu (3/2/2016) siang.

Beberapa pria terlihat menggotong dan memindahkan lilin berukuran raksasa. Sementara di sudut lain terlihat pengurus wihara membersihkan patung dewa-dewi yang berada di altar.

Ketika KompasTravel hendak mengabadikan momen seorang ibu sedang membersihkan patung Dewi Samudra, tiba-tiba seorang pria paruh baya melarang aktivitas tersebut. "Maaf, tidak boleh difoto, pantang," ujar pria tersebut.

Sang ibu yang sedang membersihkan patung pun sontak menoleh ke arah KompasTravel. Hal senada diucapkan ibu tersebut, dan mengatakan jika dirinya sedang menjalani "pantang" dan "puasa" saat melakukan aktivitas tersebut.

"Saya gak boleh banyak bicara, pantang. Ini berkaitan dengan perekonomian di Pontianak," ujar ibu tersebut sembari berulang kali mengucapkan kata maaf.

"Maaf ya pak, maaf...," katanya.

Penasaran dengan larangan tersebut, KompasTravel berusaha menemui Gunawan alias Lim Kuang Hie, nama yang disebut kedua orang tadi yang bisa menjelaskan alasan tersebut.

Persis di pojok ruangan bagian kanan depan bangunan tersebut, Gunawan terlihat sedang menuliskan kalimat dalam aksara mandarin di atas secarik kertas berwarna merah menggunakan kuas dengan tinta berwarna hitam.

"Ini saya sedang menuliskan nama-nama penyumbang atau donatur. Nanti kertas ini ditempel di lampion dan lilin, supaya orang bisa baca siapa yang menyumbang," ujar pria berusia 74 tahun tersebut.

Gunawan dengan ramah melayani dan menjawab pertanyaan demi pertanyaan untuk mengungkap penasaran saat itu.

KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWAN Gunawan (74) terlihat sedang menulis di atas secarik kertas berwarna merah di salah satu sudut ruangan Vihara Samudera di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (3/2/2016).
"Patung-patung itu sudah mulai kusam, menandakan kota juga kusam. Patung itu dibersihkan, supaya terang dan usaha serta perekonomian di Pontianak bisa maju," jelas Gunawan.

Secara sederhana, Gunawan mencontohkan pakaian yang dikenakan. Misalnya baju yang dikenakan sudah rusak dan kusam, itu artinya harus dibersihkan supaya bersih kembali. Dalam hal berpuasa, itu bukan berarti tidak boleh makan atau minum seharian. Puasa di sini berarti tidak makan daging.

Sebelum membersihkan patung para Dewa Dewi, pengurus wajib menjalankan "pantang" dan "puasa" selama satu bulan. "Puasa tidak boleh makan daging, karena kita mau bersihkan patung. Kalau kita ndak pantang, ndak boleh. Hanya boleh makan jenis sayur-sayuran dan buah-buahan," kata Gunawan.

Dengan menjalankan pantang dan puasa, diharapkan perekonomian di Kota Pontianak di tahun yang akan datang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

KOMPAS.COM/YOHANES KURNIA IRAWAN Suasana Vihara Dewi Samudera, di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (3/2/2016).
Vihara Dewi Samudera merupakan banguan yang didirikan pada tahun 1906. Tiga patung Dewi yang ada di dalam wihara tersebut merupakan patung asli yang dibawa dari Tiongkok lebih dari 100 tahun yang lalu.

Sebelum wihara tersebut berdiri, diklaim pada tahun 1673 pot atau wadah dupa (gaharu) sudah ada di Pontianak. Kemudian, lonceng yang berada di dalam komplek wihara tersebut diklaim sudah ada sejak tahun 1789.

Sejak dibangun pada tahun 1906 dengan menggabungkan tiga kelenteng, wihara tersebut baru direhab pada tahun 1990. Hampir sebagian kayu, ornamen, dan pelengkap yang ada di dalam wihara tersebut masih seperti aslinya sebelum dipugar.

Dalam kepercayaan, setiap tanggal 24 bulan 12 imlek, Dewa-Dewi yang berada di vihara tersebut kembali ke langit. Selama sepuluh hari berada di langit, Dewa-Dewi tersebut dipercaya kembali ke bumi pada tanggal 4 bulan 1 Imlek.

"Pada saat Imlek, semua datang merayakan Imlek dan berdoa. Dewa masih berada di langit. Meski tidak berada di bumi, namun Dewa melihat semua doa dan permohonan dari atas langit," jelas Gunawan.

Tahun Monyet Api diharapkan lebih baik daripada tahun Kambing sebelumnya. Dalam perspektif Gunawan, tahun Monyet diprediksi lebih baik daripada Kambing.

"Tahun Monyet mungkin ada kemajuan, dibanding kambing. Monyet bisa naik pohon, loncat-loncat, sedangkan kambing kan hanya di bawah, di atas tanah," kata Gunawan mengakhiri ceritanya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X