Kompas.com - 07/02/2016, 09:41 WIB
Siswa sekolah dari TK hingga SMA Kebondalem serta warga Tionghoa mengikuti arak-arakan menyambut Imlek di kawasan pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (4/2/2016). Imlek menjadi momentum mempererat persaudaraan di tengah keberagaman sebagai bangsa Indonesia. KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASASiswa sekolah dari TK hingga SMA Kebondalem serta warga Tionghoa mengikuti arak-arakan menyambut Imlek di kawasan pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (4/2/2016). Imlek menjadi momentum mempererat persaudaraan di tengah keberagaman sebagai bangsa Indonesia.
EditorI Made Asdhiana
TEPAT 8 Februari 2016, Tahun Kambing Kayu yang tenang akan digantikan oleh Tahun Monyet Api yang lincah. Warga Tionghoa di Tanah Air, di Tiongkok, dan di berbagai penjuru dunia bersiap-siap menyambut tahun baru, Tahun Monyet Api yang optimistis.

Monyet diasosiasikan sebagai hewan yang memiliki sifat cerdas, ceria, kreatif, dan aktif bergerak, tetapi terkadang culas dan licik.

Karena itu, monyet sering dianggap sebagai hewan yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan dan dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompok.

Itu sebabnya, ada harapan berbagai masalah politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang dialami bangsa ini bisa diselesaikan pada Tahun Monyet Api ini.

Budaya Tionghoa sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Suasana keriuhan tahun baru Imlek juga mulai terasa di beberapa wilayah di Indonesia.

Di Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (4/2/2016), diselenggarakan Pasar Imlek Semawis. Di pasar ini dimunculkan sajian terkenal di Guangdong, Tiongkok, yakni ayam garam (pesak) dengan tema ”Tuk Panjang, Sedepa Jadi Sehasta”.

”Pada pembukaan Pasar Imlek Semawis ini, kami menggelar makan besar bersama-sama warga, tokoh masyarakat, dan pejabat pemerintah. Sajian makan bersama ini diberi nama Tuk Panjang atau meja panjang,” kata Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) Harjanto Halim di Semarang, Rabu (3/2/2016).

Gelar Tuk Panjang merupakan perluasan dari makna keberagaman. Menurut Harjanto, warga lokal dengan warga Tionghoa di kawasan Pecinan Semarang sudah saling mengenal dan saling membantu selama ini. Kebersamaan itulah yang menjadi roh setiap kali kegiatan menyambut Imlek.

Dengan adanya Gelar Tuk Panjang, makan bersama tiga elemen, yakni warga, tokoh masyarakat, dan pejabat pemerintah, mereka bisa saling mengenal, saling akrab, dan hubungan yang berjarak bisa mencair.

Seperti pepatah, ”Sedepa jadi sehasta”, warga yang kurang dikenal tokoh masyarakat bisa saling berbaur, kemudian pejabat pemerintah yang sulit dikenali warga mau turun untuk makan bersama warganya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.