Kendi Maling di Lombok Dikenal sampai Eropa

Kompas.com - 11/02/2016, 11:42 WIB
Kendi Maling yang diproduksi oleh masyarakat Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATIKendi Maling yang diproduksi oleh masyarakat Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
|
EditorI Made Asdhiana
MATARAM, KOMPAS.com - Jika berkunjung ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, anda harus memasukkan kendi maling sebagai salah satu oleh-oleh yang wajib dibawa dari "Pulau Seribu Masjid" ini.

Bentuknya seperti kendi kebanyakan, hanya saja bagian lehernya lebih panjang dan anda akan kesulitan mencari tempat untuk memasukkan air di bagian atas kendi.

"Di sebut maling karena memasukkan airnya dari bagian bawah. Setelah diisi ya didudukkan seperti biasa, airnya tidak akan tumpah. Menuangkannya ya biasa seperti kendi lainnya lewat bagian atas. Itu alasannya disebut maling. Masuk lewat bawah keluar lewat atas," jelas Haeniatun, pemilik toko gerabah di Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat kepada KompasTravel, Minggu (7/2/2016).

Menurut Haeniatun, kendi maling adalah salah satu jenis gerabah yang paling banyak dicari oleh wisatawan. Harganya mulai Rp 100.000 hingga Rp 125.000 sesuai dengan motifnya.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Toko gerabah Haeniatun di Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Minggu (7/2/2016). Toko gerabah ini sering dikunjungi oleh wisatawan untuk mendapatkan oleh-oleh khas Lombok.
Berbeda dengan gerabah jenis lainnya, kendi maling membutuhkan ketrampilan khusus dalam membuatnya. "Jika tidak pas ya airnya nanti akan keluar dari bagian bawah. Kan di bawahnya ini tidak ada tutupnya," kata perempuan berkerudung tersebut sambil memperagakan cara menggunakan kendi maling.

Kendi maling dan gerabah yang ia jual sudah diekspor hingga ke Eropa, Italia dan Australia. Selain kendi maling, wisatawan banyak yang memesan gerabah tempat air yang dihias dengan kulit telur.

Di tempat tersebut juga tersedia hiasan ataupun peralatan rumah tangga yang terbuat dari tanah liat. Untuk harga dibanderol paling murah Rp 15.000 hingga Rp 2 juta. "Tanah liatnya khusus kami ambil dari Gunung Sasak lalu dicampur dengan pasir. Perajinnya adalah warga sekitar," ujar Haeniatun.

Untuk para wisatawan yang ingin mempraktikkan membuat gerabah, Haeniatun menyediakan lahan di bagian belakang. "Di sana bisa praktik bikin kura-kura, angsa atau pun asbak," katanya.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Bukan hanya sekadar membeli, wisatawan juga bisa belajar membuat gerabah di Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Minggu (7/2/2016).
Sementara itu, Hauriyah, salah satu perajin gerabah kepada KompasTravel menjelaskan wisatawan cukup membayar Rp 20.000 untuk belajar membuat gerabah.

"Kami bantu mereka membuat gerabah dengan model yang mereka pilih sendiri termasuk menghiasnya. Nanti tinggal dijemur dikasih nama dan bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh," jelas hauriyah yang merupakan generasi ketiga perajin gerabah di Desa Banyumulek.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dampak Corona, Citilink Hengkang dari Bandara Malikussaleh

Dampak Corona, Citilink Hengkang dari Bandara Malikussaleh

Whats Hot
Libur Panjang, Tamu Hotel di Kabupaten Malang Mayoritas dari Surabaya

Libur Panjang, Tamu Hotel di Kabupaten Malang Mayoritas dari Surabaya

Whats Hot
Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Buka Meski Nepal Van Java Tutup

Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Buka Meski Nepal Van Java Tutup

Whats Hot
Okupansi Hotel Bintang di Banyuwangi Diprediksi Naik Saat Libur Panjang

Okupansi Hotel Bintang di Banyuwangi Diprediksi Naik Saat Libur Panjang

Whats Hot
Libur Panjang, Ketua PHRI Malang Pastikan Tiap Hotel Punya Kamar Isolasi

Libur Panjang, Ketua PHRI Malang Pastikan Tiap Hotel Punya Kamar Isolasi

Whats Hot
Napak Tilas Sumpah Pemuda, Ada Museum W.R Soepratman di Surabaya

Napak Tilas Sumpah Pemuda, Ada Museum W.R Soepratman di Surabaya

Jalan Jalan
Libur Panjang, Hari Ini Tingkat Okupansi Hotel di Kabupaten Malang Capai 60-70 Persen

Libur Panjang, Hari Ini Tingkat Okupansi Hotel di Kabupaten Malang Capai 60-70 Persen

Whats Hot
Liburan ke Gunungkidul, Saatnya Berfoto di Kebun Bunga Amarilis

Liburan ke Gunungkidul, Saatnya Berfoto di Kebun Bunga Amarilis

Whats Hot
PHRI Bali: Okupansi Hotel Diharap Naik Selama Libur Panjang

PHRI Bali: Okupansi Hotel Diharap Naik Selama Libur Panjang

Whats Hot
Libur Panjang, Lama Inap Tamu di Hotel Bogor Rata-rata 2 Hari 1 Malam

Libur Panjang, Lama Inap Tamu di Hotel Bogor Rata-rata 2 Hari 1 Malam

Whats Hot
Mendaki Gunung Prau Jalur Patak Banteng? Kuotanya 1.200 Orang Per Hari

Mendaki Gunung Prau Jalur Patak Banteng? Kuotanya 1.200 Orang Per Hari

Travel Tips
Libur Panjang, Tidak Ada Pembatasan Kuota Pendakian Gunung Lawu

Libur Panjang, Tidak Ada Pembatasan Kuota Pendakian Gunung Lawu

Travel Tips
 Kuota Pendakian Gunung Semeru Sudah Penuh Sampai 31 Oktober 2020

Kuota Pendakian Gunung Semeru Sudah Penuh Sampai 31 Oktober 2020

Whats Hot
Libur Panjang, Kuota Pendakian Gunung Gede Pangrango Diprediksi Aman

Libur Panjang, Kuota Pendakian Gunung Gede Pangrango Diprediksi Aman

Whats Hot
Wisata Virtual, 3 Museum Napak Tilas Sumpah Pemuda di Jakarta

Wisata Virtual, 3 Museum Napak Tilas Sumpah Pemuda di Jakarta

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X