Kompas.com - 24/02/2016, 08:24 WIB
Bocah bermain sepeda di Pantai Tanjung Kelayang, Belitung, Bangka Belitung, Selasa (12/4/2011). Pulau Belitung terkenal dengan keindahan wisata pantai pasir putih berbatu granit artistik. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Bocah bermain sepeda di Pantai Tanjung Kelayang, Belitung, Bangka Belitung, Selasa (12/4/2011). Pulau Belitung terkenal dengan keindahan wisata pantai pasir putih berbatu granit artistik.
EditorI Made Asdhiana

Penghematan itu salah satunya diperoleh melalui pembebasan cukai impor barang modal sehingga akan sangat menarik bagi investor.

Untuk mendukung pengembangan Tanjung Kelayang sebagai KEK Pariwisata dibutuhkan investasi sekitar Rp 18 triliun, yang terdiri dari Rp 10 triliun investasi dari pemerintah dan Rp 8 triliun berupa investasi sektor swasta.

”Semua harus jalan bersama-sama, tidak bisa saling mengandalkan atau menunggu investasi pemerintah atau swasta lebih dulu,” ujarnya.

Investasi yang dilakukan pemerintah antara lain dengan menjadikan Bandar Udara HAS Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, sebagai bandara internasional. Untuk itu, landasan pacu pesawat akan diperpanjang dari 2.250 meter menjadi 2.800 meter.

Menurut Arief, pembangunan bandar udara internasional itu penting karena lebih dari 75 persen turis asing datang ke Indonesia melalui moda transportasi udara.

Oleh karena itu, kemudahan akses itu diharapkan memudahkan wisatawan asing, khususnya dari Malaysia, Singapura, dan Tiongkok, ke Belitung.

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Suasana Pantai Tanjung Kelayang, Kecamatan Sijuk, Belitung, Selasa (12/4/2011). Pulau Belitung terkenal dengan keindahan lokasi wisata pantai pasir putih berbatu granit artistik.
Berbagai pembangunan infrastruktur pendukung KEK Pariwisata Tanjung Lesung itu ditargetkan akan mendatangkan devisa sebesar 500 juta dollar AS atau sekitar Rp 8 triliun.

Jumlah itu beberapa kali lebih besar dibandingkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Belitung, lokasi keberadaan KEK Tanjung Kelayang.

”Pariwisata harus jadi ujung tombak industri nasional karena memberi nilai tambah jauh lebih besar secara terus-menerus,” kata Arief.

Terlebih lagi, saat ini sumbangan industri minyak dan gas bumi, batubara, dan kelapa sawit terhadap produk domestik bruto nasional terus menurun seiring anjloknya harga berbagai komoditas di pasar global. (M Zaid Wahyudi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.