Tradisi "Bau Nyale", Ribuan Warga Lombok Banjiri Pantai Seger

Kompas.com - 29/02/2016, 08:04 WIB
Ribuan warga membanjiri Pantai Seger di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, Minggu (28/2/2016), untuk merayakan tradisi 'Bau Nyale'. KOMPAS.COM/KARNIA SEPTIARibuan warga membanjiri Pantai Seger di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, Minggu (28/2/2016), untuk merayakan tradisi 'Bau Nyale'.
|
EditorI Made Asdhiana
MATARAM, KOMPAS.com - Memperingati tradisi 'Bau Nyale', ribuan warga Lombok membanjiri Pantai Seger, di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (28/2/2016).

Mereka datang setiap tahun untuk menangkap cacing laut yang dipercaya warga sebagai jelmaan seorang putri raja dalam Legenda Putri Mandalika. Warga pun rela menginap di tepi pantai sejak Sabtu malam, karena cacing laut tersebut muncul sekitar pukul 03.00-07.00 Wita.

Cacing laut berwarna hijau, coklat dan merah yang berhasil ditangkap warga, dipercaya warga sebagai berkah. Cacing laut yang kaya protein ini nantinya akan dimasak dan dikonsumsi. "Biasanya dipepes untuk dimakan, rasanya enak kayak jamur," kata Wandi salah satu warga.

Andi, warga lainnya mengaku setiap tahun selalu datang menghadiri Festival 'Bau Nyale'. "Namanya adat kita sendiri masak nggak datang," ungkapnya.

Selain warga Lombok, beberapa turis mancanegara pun tertarik ikut berburu cacing laut. Meski baru kali pertama, mereka mengaku senang bisa menangkap langsung cacing laut dalam tradisi 'Bau Nyale'.

'Bau Nyale' diselenggarakan setiap tahun oleh masyarakat Lombok, biasanya sekitar hari ke-20 bulan ke-10 menurut penanggalan tradisional Sasak.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, HL Mohammad Faozal beberapa waktu lalu, Festival 'Bau Nyale' merupakan festival tertua di Lombok. Ritual ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat Lombok yang dituangkan dalam sebuah pesta rakyat.

'Bau Nyale' erat kaitannya dengan Legenda Putri Mandalika. Putri Mandalika adalah seorang putri raja yang memiliki paras cantik dan budi pekerti baik.

Karena kecantikannya, Putri Mandalika diperebutkan oleh pangeran-pangeran kerajaan di sekitarnya. Mereka semua ingin mempersunting Putri Mandalika.

Namun karena tidak ingin terjadi pertumpahan darah, Putri Mandalika memilih mengorbankan dirinya dengan terjun ke laut.

Masyarakat Suku Sasak Lombok percaya bahwa cacing laut yang muncul setiap 'Bau Nyale' merupakan jelmaan dari Putri Mandalika.

"Setiap tahun masyarakat akan hadir di pantai untuk menangkap cacing laut yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika," kata Faozal.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X