Kompas.com - 12/03/2016, 20:19 WIB
Karyawan Warkop Milenium sedang meracik kopi terlaris di warung kopi mereka. KOMPAS.com/Muhammad Irzal AdiakurniaKaryawan Warkop Milenium sedang meracik kopi terlaris di warung kopi mereka.
|
EditorI Made Asdhiana

Cukup dengan harga Rp. 6 000 untuk kopi O, dan Rp. 7 000 untuk kopi susu hingga Rp. 15.000 untuk jus. Dan harga camilan, pisang, roti dan singkong sekitar Rp. 10.000.

Markus mengakui pihaknya bekerja sama dengan beberapa tour agent, dan hotel serta pemandu-pemandu wisata lain. Dengan menjalin komunikasi dengan baik, alhasil mereka selalu menyempatkan untuk ngopi di sini. Baik ketika membawa rombongan, teman, karyawan ataupun sendiri.

Markus menceritakan bahwa dahulu warkop-warkop di sana ramai oleh para penambang kopi yang gemar beristirahat dan bersosialisasi mengenai pekerjaan sembari memesan kopi. Seiring semakin majunya perusahaan penambang timah dahulu, semakin terkenal pula budaya minum kopi di Belitung Timur.

Sedangkan kini sejak pabrik timah sudah bangkrut, Markus merasa diuntungkan dengan wisatawan-wisatawan yang berdatangan ke Belitung. Selain itu meski berubah mata pencaharian, tradisi tersebut tetap ada di keseharian masyarakat sebagai nelayan.

“Sampai sekarang, masyarakat sebelum nambang atau nelayan pasti ngopi. Tiap zaman pecinta kopi tidak pernah sepi, masa-masa PT PN Timah berjaya kedai kedai kopi ramai, hingga sekarang pun tetap ramai walau bukan dari karyawan timah, tapi wisatawan, nelayan, dan masyarakat,” ujar Markus.

Menurut Markus, warkopnya merasa terbantu setelah Belitung mulai membangun kembali pariwisatanya. Seperti peresmian Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang dan pembangunan bandara dan hotel.

Dia mengakui pernah menambahkan menu-menu modern seperti pisang keju, tapi justru kurang diminati wisatawan. Menurutnya, wisatawan terutama yang dari Jakarta justru menginginkan yang asli sini dan sederhana.

Sampai saat ini biji kopi sendiri masih berasal dari Lampung. Diolah oleh pengusaha kopi Belitung, baru disajikan di tiap-tiap warung kopi.

Namun Markus sangat menginginkan Belitung tidak hanya terkenal dengan warung kopinya saja, tapi juga memiliki tanaman kopi yang ditanam sendiri. Sehingga bisa semakin mengokohkan Belitung khususnya Kota Manggar dengan 1001 warung kopi beserta kopi aslinya.


Sejarah Budaya Minum Kopi

Markus menambahkan, jauh sebelum itu, budaya minum kopi telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Mereka membawa kopi dari Lampung dan kerap bercengkrama sembari meminum kopi.

Kebiasaan ini dilanjutkan warga Tionghoa di Belitung Timur yang mayoritas menjadi penambang Timah. Mereka memiliki kebiasaan ngopi sebelum, saat, dan sesudah bekerja. Mereka pula menyebarkan informasi pekerjaan, dan jika membutuhkan bantuan lewat obrolan-obrolan di warkop.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.