Kompas.com - 18/03/2016, 15:17 WIB
|
EditorI Made Asdhiana
MINAHASA, KOMPAS - Tak hanya memiliki kuliner yang nikmat, Minahasa, Sulawesi Utara, juga memiliki tempat wisata alam yang menantang, arung jeram. Wisata alam ini dapat dijajal di Sungai Nimanga, tepatnya di Desa Timbukar, Kabupaten Minahasa.

Menuju desa ini akan melalui kawasan perkampungan yang terdiri dari deretan rumah khas Minahasa, rumah panggung maupun rumah berlantai dua dari kayu. Di halaman rumah dihiasi dengan berbagai tanaman bunga yang tumbuh liar.

Selain perkampungan, juga akan melalui areal kebun cengkeh hingga durian. Jika ada yang sedang memuat hasil kebun, kita bisa coba membelinya. Namun tentunya harus tawar-menawar.

(BACA: Menunggang Arus di Kota Batik)

Tiba di area wisata arung jeram akan ditemui beberapa operator wisata alam itu di tepian Sungai Nimanga. Salah satunya adalah Rafting Karapi yang dikelola oleh Hengky Langi (41). Nimanga adalah salah satu sungai yang memiliki jeram lumayan banyak di Minahasa.

Bahkan di musim kemarau pun masih dapat berarung jeram di sungai itu. Sulawesi Utara yang sudah dua pekan ini tak diguyur hujan pun tak memengaruhi aliran air Nimanga.

"Nimanga ini berasal dari banyak mata air sehingga aliran airnya tak pernah surut. Hanya di musim hujan, kita perlu berhati-hati karena volume airnya akan bertambah banyak," jelas Hengky.

(BACA: Turis Asing Menyukai Arung Jeram di Sungai Ayung)

Seperti umumnya arung jeram, persiapan berarung jeram di Nimanga pun memperoleh pengarahan terlebih dahulu dari instruktur terkait keamanan mendayung. Setiap peserta arung jeram juga dilengkapi rompi pelampung dan helm.

Hengky pun menggali keahliannya berarung jeram dari Citarik, Jawa Barat, yang dikenal sebagai tempatnya wisata arung jeram. Sensasi mendayung dan jeram sudah pasti dinanti setiap wisatawan saat berwisata alam ini.

Namun di Nimanga, ada suguhan lain yang disajikan oleh sungai ini, yakni keaslian alam di sepanjang aliran sungai itu. Rimbun pepohonan di areal hutan dan kebun menaungi Nimanga, dan nyaris tak ditemukan pertanian maupun perkebunan semusim di sepanjang aliran sungai itu.

Belum lagi kawanan burung yang sengaja singgah di sungai itu untuk minum maupun bertengger di pepohonan. Tak ayal, ular pun masih dapat dijumpai di dahan-dahan pohon.

Namun biasanya instruktur arung jeram sudah dapat mengenali keberadaan ular itu sebelum perahu karet melintas di bawah dahan yang dililit ular. "Seperti itu, ada ularnya. Tetapi jangan takut, cukup kita hindari," jelas Hengky sambil menunjukkan ular yang melilit di dahan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.