Senja Kemilau di Danau Bulat - Kompas.com

Senja Kemilau di Danau Bulat

Kompas.com - 31/03/2016, 13:14 WIB
KOMPAS/SRI REJEKI Danau Bulat di Desa Jahanjang, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah.

DI Danau Bulat, senja tampak jingga dan senyap. Air hitam menemani seluncur sampan dan tubuh yang ingin segera dibasuh cuaca segar. Segala penat pun menguap bersama horizon yang menggelap.

Kami tiba di Danau Bulat menjelang senja singgah setelah sebelumnya bertemu dengan ibu-ibu dan anak-anak gadis yang tengah membuat pupur atau bedak dingin. Pupur ini dibuat dari campuran beras, daun melati, ambin boa, dan seponggol yang ditumbuk halus.

Setelah dijemur hingga kering, bubuk dapat dipakai sebagai bedak setelah dicampur sedikit air. Pupur yang disebut bekasai ini berkhasiat menghilangkan flek hitam dan jerawat. Bekasai kemudian menjadi modal kami bermandi matahari sore di Danau Bulat agar kulit wajah tak mudah terbakar.

Danau Bulat terletak di Desa Jahanjang, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah. Danau yang luasnya mencapai 500 meter persegi ini merupakan salah satu danau alam yang terdapat di desa itu. Ada kira-kira 13 danau lainnya di kawasan tersebut, baik besar maupun kecil.

Danau Bulat merupakan kawasan penyangga yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Sebangau dan dikembangkan sebagai salah satu obyek dalam simpul ekowisata Kamipang.

Danau ini juga dikembangkan sebagai sumber perikanan tangkap nelayan dan tempat penelitian. Sebagian besar warga mencari nafkah sebagai nelayan dan buruh perkebunan sawit.

KOMPAS/SRI REJEKI Ibu-ibu dan anak-anak gadis di Desa Jahanjang, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah, tengah membuat pupur atau bedak dingin.
”Danau ini dikembangkan sebagai ekowisata dan perikanan agar masyarakat sibuk di danau dan tidak merambah hutan,” kata Nina Nuraisyah, Koordinator Komunikasi World Wildlife Fund Program Kalimantan Tengah, yang mendampingi pengembangan ekowisata.

Di danau ini terdapat bermacam ikan yang bisa dikonsumsi, seperti ikan gabus, toman, kapar, sepat, puyu, lele, dan biawan. Nama danau yang tidak jauh dari alur Sungai Katingan ini dipercaya warga berasal dari kata ”bunter” atau ”bunder”.

Menurut Kepala Desa Jahanjang Jonneidi, pendiri Desa Jahanjang, yakni Mat Saleh Engkan, yang berasal dari Singapura, memiliki istri seorang Dayak Ngajo bernama Bunter.

Ketika melihat danau, Mat Saleh memberi nama danau dengan nama istrinya, yakni bunter atau bunder yang dalam bahasa Indonesia artinya bulat walaupun tepian danau sesungguhnya tidak membentuk bulatan.

”Pada bulan Juni hingga Agustus, ribuan belibis berada di atas danau. Tampaknya mereka singgah dalam perjalanan migrasinya dari arah barat ke timur,” kata Jonneidi.

Bersampan

Permukaan air tampak mulai berkilauan seiring mentari yang turun menuju peraduan. Mula-mula warnanya kuning keemasan hingga berpendaran jadi jingga. Beberapa rekan kemudian bersiap untuk bersampan.

KOMPAS/SRI REJEKI Bekas kebakaran hutan yang terlihat saat melintas di Sungai Bulan, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah.
Dibantu seorang nelayan yang duduk di bagian belakang, sampan kami melaju menuju horizon yang merah membara, lantas mengelilingi sebagian lintasan danau. Suasananya begitu sepi tetapi damai.

Riuh orang yang menunggu di saung tepi danau semakin sayup. Hanya tersisa bunyi serangga dan kecipak air tersibak laju sampan.

Selepas bersampan, sebagian mencoba berenang di danau air hitam ini. Air hitam yang jika didekati berwarna coklat kemerahan ini merupakan air gambut yang berasal dari pelapukan bagian-bagian tanaman selama jutaan tahun.

Ketika menyentuh kulit, air terasa dingin dan segar. Warga setempat percaya, air gambut bisa menyembuhkan luka pada kulit.

Acara berenang harus diakhiri setelah gelap menyungkup bumi. Tetapi tak apa karena telah menanti di meja-meja gazebo sepiring sop udang. Kuahnya yang berbumbu bawang merah, bawang putih, jahe, dan kemiri itu terasa segar dan gurih.

Hari belum berakhir karena telah menanti sepak bola api di lapangan desa. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun di Katingan.

KOMPAS/SRI REJEKI Sepak bola api di Desa Jahanjang, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah.
Ketika ada warga meninggal dunia, selama tiga malam jenazahnya akan disemayamkan di rumah duka. Sebagai ”pengisi waktu”, para pelayat memainkan sepak bola api di dalam rumah duka.

Bola terbuat dari kelapa utuh yang sebelumnya direndam di dalam minyak tanah selama setengah hari. Agar tidak terluka bakar, di sekujur tubuh pemain dilulurkan minyak kelapa yang sebelumnya diberi mantra. Para pemain berdoa sebelum memulai pertandingan.

”Ada satu lagi rahasianya, pemain pantang mengeluh. Tidak boleh mengatakan ’aduh’ atau ’aku terbakar’. Nanti dia akan merasa sakit betulan,” kata Yanto (45), pelatih tim sepak bola api.

Di Katingan sudah jarang sepak bola api dimainkan. Hanya tinggal di Desa Jahanjang yang dipertunjukkan. Itu pun di saat khusus, seperti peringatan Hari Kemerdekaan atau Hari Pahlawan. ”Terakhir saya lihat dimainkan di Baun Bango tahun 1985,” ujar Yanto.

Baun Bango adalah desa yang menjadi ibu kota Kecamatan Kamipang dan salah satu desa dalam simpul ekowisata Kamipang. Jaraknya 30 menit dengan speed boat dari Jahanjang. Di Baun Bango yang ditonjolkan adalah seni budaya.

Misalnya, tamu yang datang akan disambut dengan tradisi potong pantan. Baun Bango menjadi pintu gerbang simpul ekowisata yang juga meliputi desa lainnya, seperti Desa Tumbang Bulan dengan Sungai Bulan yang dipenuhi kera bekantan pada sore hari, Desa Karuing dengan wisata orangutan, serta Desa Jahanjang.

Tradisi potong pantan dikenal di lingkungan suku Dayak. Tamu sebelumnya diolesi bedak di pipi kanan dan diminta meminum arak yang kali ini diganti sirup leci.

KOMPAS/SRI REJEKI Tradisi potong pantan di Desa Baun Bango, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah.
Tamu harus memotong kayu pohon nyamu yang diletakkan melintang pada semacam gapura yang dihias janur kelapa. Ini sebagai simbol persyaratan tamu diizinkan masuk.

Setelah itu, tamu akan mengikuti ritual tumpang tawar sebagai tolak bala. Air daun pandan dicipratkan ke wajah dengan bantuan daun lanjuang.

Sementara bulu burung enggang digunakan sebagai alat untuk menyaputkan minyak dan telur ke dahi. Lantas semua menari dalam lingkaran.

Nantinya, pulang pun akan melewati Baun Bango dan jangan lupakan untuk membeli buah tangan berupa amplang, kerupuk bulat yang terbuat dari olahan daging ikan pipih, gabus, atau toman. (Sri Rejeki)


EditorI Made Asdhiana

Close Ads X