Kompas.com - 01/04/2016, 16:33 WIB
EditorI Made Asdhiana

Ini sebagai sebuah mimpi yang terus dikejar. Cukup sulit direalisasikan, tetapi dengan semua kemampuan dan berkat leluhur akan terpenuhi. Rumah itu memayungi semua warga Sumba, sekaligus semua kampung adat di pulau itu.

Pada pusat pelataran halaman RBS terdapat huruf C sebagai central (pusat). Pelataran itu menjadi tempat pergelaran tarian tradisional, musik tradisional, dan cerita rakyat. Huruf C bermakna corpus, hati. Huruf yang sama juga ditempatkan di ruang tamu, rumah budaya itu, terletak persis di tengah garis diagonal.

Rato dari kampung adat Kodi Bangodhi, Rama Beka (65), mengatakan, bentuk rumah adat di Sumba sama. Selain empat sudut dengan tiang penyangga masing-masing, rumah itu memiliki dua tiang utama di ruang tamu. Tiang induk pertama berfungsi sebagai ibu dan bapa. Tiang-tiang itu dihiasi ornamen yang menggambarkan sejumlah kearifan dan tradisi Sumba.

Ornamen-ornamen itu menggambarkan buaya dan penyu. Kedua binatang ini sangat dihormati, diakui, dan disayangi di kalangan masyarakat. Buaya merupakan simbol keperkasaan, ketekunan, dan keberanian. Sedangkan penyu memiliki rasa lemah lembut dan rendah hati.

”Penyu betina, sekali bertelur mengeluarkan puluhan butir. Dengan tenang, penyu itu lalu menutupi lubang telur dengan pasir. Dengan linangan air mata, diam, dan hening ia meninggalkan telur-telur itu hingga menetas. Sedangkan ayam, hanya bertelur satu terus berkotek untuk memperkenalkan ke seluruh warga kampung. Ini memiliki filosofi hidup yang sangat dalam bagi masyarakat Sumba,” kata Rama Beka.

Patung binatang dan benda-benda lain yang menghiasi semua ornamen RBS adalah kuda, tenun ikat, dan ayam. Kuda adalah binatang kesayangan orang Sumba.

Dalam sebuah legenda tua diceritakan bahwa kuda Sumba ini menyeberangkan nenek moyang orang Sumba dari satu negeri yang jauh ke Pulau Sumba.

Sementara itu, tenun ikat adalah simbol kehadiran marapu dalam bentuk kelincahan jari-jari kaum wanita. Tenunan Sumba sebagai sebuah karya dari wujud tertinggi, yang kemudian mengambil rupa dalam motif manusia, binatang, dan tumbuhan.

Lilis Warouw (45), salah satu pengunjung dari Manado, Sulawesi Utara, mengatakan, sangat senang menyaksikan RBS tersebut. Banyak arti hidup dalam bentuk simbol yang ada di dalam RBS, terutama seluruh arsitektur dan ornamen di dalam rumah itu dan museum.

”Kalau tamu mendapat penjelasan rinci kita puas, tetapi kalau tidak ada penjelasan dari semua yang ditampilkan di RBS, kita tidak paham apa-apa. Karena itu, harus ada pendamping Pastor Robert sehingga suatu saat jika Pastor Robert pindah tugas, bisa dilanjutkan. Apabila perlu, semua hal yang ada di dalam RBS ini didokumentasikan,” kata Waoruw. (KORNELIS KEWA AMA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.