Panen Menurun, Festival Durian di Jogja Diganti Festival Makanan Tradisional Sompil

Kompas.com - 16/04/2016, 07:44 WIB
Para wisatawan menaiki anak tangga menuju Embung Nglanggeran yang berlokasi di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta, Minggu (23/8/2015). Wisatawan harus menaiki anak tangga selama hampir 10 waktu ntuk dapat mencapai Embung Nglanggeran. KOMPAS.com / Wahyu Adityo ProdjoPara wisatawan menaiki anak tangga menuju Embung Nglanggeran yang berlokasi di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta, Minggu (23/8/2015). Wisatawan harus menaiki anak tangga selama hampir 10 waktu ntuk dapat mencapai Embung Nglanggeran.
EditorNi Luh Made Pertiwi F

GUNUNG KIDUL, KOMPAS.com - Pemerintah Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan menggelar festival makanan tradisional sompil pada 24 April untuk memperkenalkan makanan tradisional masyarakat setempat.

Camat Patuk Haryo Ambar Suwardi di Gunung Kidul, Rabu (13/4/2016), mengatakan festival durian sudah dilakukan sejak 2013 tidak bisa digelar tahun ini karena produksi durian petani tahun ini menurun derastis.

"Biasanya festival durian dilakukan di Dusun Ngasemayu, Salam, Patuk. Tahun ini, panen jauh menurun, jadi tidak bisa menyelenggarakan festival durian. Sebagai gantinya, kami menyelenggarakan festival makananan tradisional," kata Haryo.

Haryo mengatakan festival durian akan diganti dengan makanan tradisional Patuk yakni sompil. Festival sompil akan dilakukan pada 24 April di Desa Ngasemayu. Sompil berjumlah 1001 buah ini akan diolah masyarakat Desa Ngasemayu, dan sayur yang disajikan bahannya juga lokal.

"Kami ingin memperkenalkan makanan tradisional Patuk, agar semakin dikenal masyarakat luas," katanya.

Dengan membayar Rp 5.000, wisatawan akan diberikan seporsi sompil dicampur kuah sayuran. Nantinya juga ada kesenian tradisional masyarakat setempat untuk memeriahkan acara. Sompil merupakan makanan tradisional sejenis lontong yang disajikan dengan lauk sayur berkuah.

"Harapannya untuk menarik wisatawan di Patuk, sekaligus memperkenalkan destinasi wisata di sini, seperti Gunung Api Purba Nglanggeran, Kampung Emas Plumbungan, dan masih banyak yang lainnya," ucapnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Gunung Kidul mengapresiasi sejumlah upaya desa untuk menarik wisatawan. Namun demikian perlu adanya penguatan sumber daya manusia.

Kepala Bidang Pengembangann Produk Wisata Disbudpar Gunung Kidul Hary Sukmono mengatakan saat ini desa wisata tersebar di seluruh wilayah Gunung Kidul. Hampir semua kecamatan memiliki desa wisata. Namun demikian, beberapa diantaranya tidak berkembang.

"Sejumlah desa wisata sempat dibuka namun sekarang mati suri. Namun secara kepengurusan masih ada," kata Hary.

Menurut dia, ada berbagai faktor yang menyebabkan desa wisata menjadi tidak berkembang, salah satunya karena pengelola salah dalam memanagemen. Euforia wisata disambut antusias oleh warga.

"Itu bagus, namun dalam menjalankan harus secara profesional juga. Tidak cukup dengan mengandalkan potensi alam saja," katanya.

Hary mengungkapkan membangun pariwisata harus sejalan membangun citra. Citra postif bisa dbangun dengan kearifan lokal masyarakat setempat. Dengan kata lain jika kekayaan sudah dimiliki harus didukung dengan kearifan lokal.

"Wisata itu tidak hanya bicara bisnis namun juga mempertimbangkan aspek lain, misalnya  potensi sumber daya manusianya," katanya. (Antara/Sutarmi)



Sumber ANTARA
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Paseo del Prado dan Buen Retiro di Spanyol, Warisan Dunia UNESCO Terbaru

Mengenal Paseo del Prado dan Buen Retiro di Spanyol, Warisan Dunia UNESCO Terbaru

Jalan Jalan
Gili Lawa di TN Komodo Akan Sambut Wisatawan Mulai 1 Agustus 2021

Gili Lawa di TN Komodo Akan Sambut Wisatawan Mulai 1 Agustus 2021

Travel Update
Tingkat Okupansi Hotel di NTB Tinggal Satu Digit akibat PPKM Darurat

Tingkat Okupansi Hotel di NTB Tinggal Satu Digit akibat PPKM Darurat

Travel Update
Kemah Mewah Bersama Keluarga, Ini 3 Tempat Glamping di Tawangmangu

Kemah Mewah Bersama Keluarga, Ini 3 Tempat Glamping di Tawangmangu

Jalan Jalan
Semua Tempat Wisata di Bukittinggi Tutup hingga Agustus

Semua Tempat Wisata di Bukittinggi Tutup hingga Agustus

Travel Update
Fiji Sediakan Program Wisata Mewah untuk Turis VIP

Fiji Sediakan Program Wisata Mewah untuk Turis VIP

Travel Update
Usulan Bupati Kabupaten Bandung, Wisatawan Bawa Kartu Vaksin ke Tempat Wisata

Usulan Bupati Kabupaten Bandung, Wisatawan Bawa Kartu Vaksin ke Tempat Wisata

Travel Update
122 Tempat Wisata di Kabupaten Bandung Siap Jadi Sentra Vaksinasi Covid-19

122 Tempat Wisata di Kabupaten Bandung Siap Jadi Sentra Vaksinasi Covid-19

Travel Update
Legenda Asal-usul Rawa Pening Semarang

Legenda Asal-usul Rawa Pening Semarang

Jalan Jalan
Cicalengka Dreamland, Tempat Wisata di Bandung yang Jadi Sentra Vaksinasi Covid-19

Cicalengka Dreamland, Tempat Wisata di Bandung yang Jadi Sentra Vaksinasi Covid-19

Travel Update
Dinas Pariwisata Yogyakarta Ingin Vaksinasi Pelaku Wisata Selesai Bulan Agustus

Dinas Pariwisata Yogyakarta Ingin Vaksinasi Pelaku Wisata Selesai Bulan Agustus

Travel Update
Daftar 20 Hotel di Zona Hijau Bali untuk Karantina WNA dan WNI

Daftar 20 Hotel di Zona Hijau Bali untuk Karantina WNA dan WNI

Travel Update
Mulai dari Batik Betawi hingga Boneka Ondel-ondel, Andalan Produk Ekraf Khas Betawi

Mulai dari Batik Betawi hingga Boneka Ondel-ondel, Andalan Produk Ekraf Khas Betawi

BrandzView
Perbedaan Aturan Perjalanan Orang pada SE Satgas Covid-19 Nomor 16 dan Nomor 14

Perbedaan Aturan Perjalanan Orang pada SE Satgas Covid-19 Nomor 16 dan Nomor 14

Travel Update
Pelaku Wisata Gunungkidul Jalani Vaksinasi di Geosite Ngingrong

Pelaku Wisata Gunungkidul Jalani Vaksinasi di Geosite Ngingrong

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X