Kompas.com - 11/05/2016, 19:14 WIB
Warga Kampung Tugu bersama tim Jakarta Food Adventure menari diiringi musik khas Kroncong Cafrinho Tugu.
KOMPAS.com/Muhammad Irzal AdiakurniaWarga Kampung Tugu bersama tim Jakarta Food Adventure menari diiringi musik khas Kroncong Cafrinho Tugu.
|
EditorI Made Asdhiana

Setiap rumah yang didatangi wajib melantunkan tiga lagu untuk tamu yang datang. Selain itu ada "mandi-mandi", tradisi mengoleskan bedak ke pipi warga lain dengan artian meminta maaf dan saling membersihkan diri.

Beranjaklah sekitar 400 meter dari rumah Erni, di Gang Bineka nomor 28, sebuah rumah dengan gazebo kayu, tempat yang paling tersohor bagi penikmat musik Keroncong Cafrinho Tugu. Keroncong Cafrinho Tugu sendiri merupakan seni musik akulturasi dari budaya Portugis, Melayu, Arab dan Betawi.

Tak lama wisatawan datang, berdirilah tujuh orang personel memegang biola, bass, gitar, dan ukulele. Mereka memainkan lagu Keroncong Tugu berjudul bater a porta (ketuk pintu), sebagai lagu pembukaan.

Selain musik, yang tak kalah menarik juga di sini wisatawan akan disuguhkan camilan khas Kampung Tugu. Yaitu ketan unti, pisang udang dan apem kinca. Ketiganya merupakan camilan warisan nenek moyang mereka, dan mempunyai waktu tersendiri untuk menikmatinya.

Lelah menari-nari ala folk keroncong cafrinho, pemandu mengajak wisatawan beranjak ke suatu rumah tertua di Kampung Tugu. Ternyata sang pemilik ialah Andre Van Mardijkers. Menurut Andre, rumah tersebut berusia lebih dari 250 tahun.

Dengan masih mempertahankan atap, tiang-tiangnya, bangunan tersebut seperti ditelan bumi secara perlahan. Dari pengamatan KompasTravel, tinggi tanah diluar rumah lebih tinggi sekitar 50 centimeter dari permukaan lantai dalam rumah.

KOMPAS.com/Muhammad Irzal Adiakurnia Walaupun banyak tersebar di benua Asia egg tart khas Portugis yang asli memiliki beberapa ciri tersendiri.
Keluarga besar Van Mardijkers pun menyambut wisatawan dengan permainan keroncong yang hampir sama dengan bahasa Portugis, tapi ada beberapa lagu yang diadopsi dari keroncong masa kini, seperti lagu gambang Semarang.

Di sinilah salah seorang keluarganya masih sangat fasih berbahasa Portugis. Frederico dan Debora, wisatawan asing asal Portugis dan Brazil itu pun berinteraksi dengan asyiknya.
Di sini, para wisatawan dijelaskan silsilah keluarga Van Mardijkers mulai nenek moyangnya yang mendiami rumah tersebut sejak zaman penjajahan.

Lelah bercerita, santap siang khas Kampung Tugu pun sudah tersedia, di antaranya ada pindang serani, gado-gado tugu, hingga kue khas egg tart.

Penasaran dengan resep dan cara memasaknya? Rosalia, istri Andre Van Mardijkers pun dengan ramah memperagakan demo memasak hidangan khas tersebut di depan wisatawan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.