Arab Empang, Menapaki Perjalanan Si Rumah Panggung Halaman all - Kompas.com

Arab Empang, Menapaki Perjalanan Si Rumah Panggung

Kompas.com - 19/05/2016, 22:09 WIB
KOMPAS/RATIH P SUDARSONO Bentuk asli Masjid An Nur masih dipertahankan hingga saat ini. Masjid ini dibangun pada 1815 oleh komunitas Arab atau Alaydrus. Di kawasan Empang, Bogor, Masjid An Nur merupakan satu dari dua masjid tua yang masih bertahan hingga kini.

JALAN-jalan ke Kota Bogor barangkali sudah biasa. Namun, buku Panduan Jelajah yang diterbitkan Yayasan Roemah Kahoeripan bisa mengantarkan kita menuju tempat-tempat bersejarah di ”Kota Hujan” ini. Salah satunya kawasan permukiman Arab di Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan.

Lokasi ini mudah dijangkau. Dari bundaran Bogor Trade Mall, kita menuju Jalan Raden Saleh. Ujung jalan ini adalah persimpangan alun-alun Empang yang ditandai dengan pohon karet kebo yang besar dan rindang.

Ketika memasuki Jalan Raden Saleh, di kanan kiri jalan itu terdapat banyak toko milik warga keturunan Arab. Toko itu menyediakan barang khas Timur Tengah atau India, seperti parfum, wewangian aroma terapi, kurma, dan perlengkapan atau oleh-oleh khas berhaji.

Di beberapa toko, ada peralatan ritual tertentu atau keparanormalan. Kalau pembicaraan dengan pedagang ”klik”, terungkaplah cerita-cerita unik akan barang-barang itu.

Di sini juga dijual kulit kambing atau sapi yang sudah siap dijadikan beduk, median kaligrafi, atau berbagai alat musik pukul. Satu set alat musik marawis juga tersedia.

Dari alun-alun, kita menuju Jalan Lolongok di sisi barat. Tepat di sebelah kiri, ada rumah yang diperkirakan dibuat ketika masa kolonial Belanda. Rumah yang masih terawat itu milik pribadi sehingga kita tidak bisa melihat bagian dalam rumah.

Masuk ke Jalan Lolongok, kita bisa menemukan rumah tua bergaya Betawi milik keluarga Assegaf.

”Rumah ini rumah warisan kakek-nenek kami. Saya tidak tahu kapan dibangunnya. Ini rumah panggung. Seluruhnya terbuat dari papan atau kayu. Sekarang kolongnya sudah ditutup dan lantai kayu dilapisi karpet agar kotoran dari bawah tidak masuk rumah,” kata Novel Assegaf, tuan rumah.

Assegaf menuturkan, dulu semua rumah di Jalan Lolongok adalah rumah panggung, baik dari kayu maupun batu. Rumahnya besar dengan halaman luas. Sekarang tidak ada rumah panggung, bahkan banyak yang berubah sama sekali.

Jika Assegaf sedang berdagang CD/DVD lagu dan kegiatan keagamaan di depan rumahnya, ia dengan senang hati membuka pintu rumah, memperbolehkan kita melihat ke dalam.

”Kami kurang ada dana untuk merawat rumah ini karena biayanya mahal. Namun, akan kami rawat sebisanya, agar rumah ini lestari,” ujarnya.

Betawi-kolonial

Rumah tua juga ada di Jalan Sedane, yang muara jalannya di alun-alun sisi utara. Rumah bergaya campuran Betawi dan kolonial itu milik keluarga Sehun Atuai. Di rumah itu tertera tanggal 1 Januari 1938, menandai tahun pembuatan rumah.

Rumah besar itu memiliki enam kamar tidur, ditambah ruang keluarga, dapur, dan paviliun. Kamar mandi terpisah di bagian belakang sehingga tamu laki-laki yang hendak ke toilet tidak perlu masuk ke dalam rumah, tetapi lewat halaman samping rumah. Ini salah satu ciri rumah keturunan Arab dan Betawi masa lampau.

Jika tidak repot, Ny Sehun membuka pintu rumah untuk dikunjungi. Banyak perabot lawas, termasuk tempat tidur dan mebel.

”Menurut orangtua kami, kayu-kayu rumah ini direndam dulu selama satu tahun agar keras tidak dimakan rayap,” kata Ny Sehun yang juga mengaku kesulitan mempertahankan dan merawat rumah ini karena tidak ada dana.

Menurut Dewi Djukardi, penggiat Yayasan Roemah Kahoeripan, rumah-rumah tua di kawasan permukiman Arab Empang harusnya menjadi bangunan cagar budaya.

Bangunan atau rumah tua di Jalan Lolongok dan Jalan Sadane, rata-rata bercirikan arsitektur indisch dan tropis dengan atap genteng, jendela bovenlight, dan ventilasi udara panas.

KOMPAS/RATIH P SUDARSONO Rumah tua juga menjadi daya tarik di kawasan Empang, Bogor. Salah satunya adalah rumah milik keluarga Sehun Atuai. Tahun pembangunan rumah tertera di dinding rumah ini
”Sekarang bangunan seperti itu nyaris punah karena perkembangan tata kota dan kurangnya keberpihakan melestarikan bangunan-bangunan tua,” katanya.

Wisata religi

Kawasan Empang juga terkenal dengan wisata religi. Ada dua masjid tua di sana, yaitu Masjid An Nur Tauhid di Jalan Lolongok dan Masjid Atthohiriyyah di sisi barat alun-alun.

Masjid An Nur dibangun tahun 1815 oleh komunitas Arab atau Alaydrus. Masjid Attohiriyyah dibangun sekitar 1817 oleh Raden Muhammad Thohir dari Cikunduk, Cianjur.

Masjid An Nur memiliki pemakaman keramat di bagian samping. Karena itu, tempat ini populer juga dengan sebutan masjid keramat. ”Arsitektur masjid ini sama dengan masjid yang ada di Kampung Arab di Surabaya,” kata Bagdja Nugraha, dari Bogor Heritage.

Menurut H Usep, pengurus Masjid An Nur, bagian paling asli dan tua dari masjid tersebut seluas 10 x 10 meter dengan dua menara yang dulunya terpisah dengan bangunan induk masjid.

”Bagian asli ini disebut potongan Masjid An Nur yang ada di kota Tharim di Yaman Selatan. Habib-habib di sini berasal atau turunan dari Yaman selatan. Karena bertambahnya umat yang datang dan berziarah, masjid diperluas. Namun bagian yang 10 x 10 meter itu, termasuk mimbar dan jendela-jendela patrinya, masih tetap asli. Tidak ada yang diubah. Begitu juga rumah tinggal habib pemimpin yang ada di belakang masjid,” tuturnya.

Di kompleks makam di samping barat masjid, ada makam Habib Abdullah bin Muchsin Allatas yang dikenal sebagai Habib Keramat Empang Bogor. Ada enam makam lain yang juga turunan atau kerabat Habib Abdullah.

”Habib Abdullah bin Muchsin Allatas adalah habib pertama yang memimpin di sini. Penziarah makamnya dari sejumlah daerah dan kota, termasuk dari luar negeri. Mereka berziarah karena meyakini akan mendapat berkah,” kata Usep.

Camat Bogor Tengah Usman TZ mengatakan, kawasan permukiman Arab Empang memang banyak yang menarik, kulinernya pun beragam.

”Kehidupan masyarakat di sini semakin ramai menjelang dan selama Ramadhan atau Maulid Nabi Muhammad SAW. Ketika masa itu, penziarah atau wisatawan religi membeludak,” kata Usman yang lahir dan besar kawasan pemukiman arab itu.

Menurut dia, orang Arab datang ke Bogor berbarengan dengan datangnya tentara Banten yang ingin menyerang dan mengislamkan Kerajaan Padjadjaran.

Lima kawasan

Kawasan Empang yang termasuk kawasan permukiman Arab ini merupakan satu dari lima kawasan pusaka yang tertera dalam Panduan Jelajah Kota Bogor. Setiap kawasan memiliki obyek sejarah, budaya, dan wisata kuliner.

Empat kawasan lainnya adalah kawasan Kebun Raya (KRB) dan Istana Kepresidenan Bogor, kawasan permukiman Tionghoa, kawasan permukiman Eropa, dan kawasan situs Padjadjaran.

Sayangnya, sejak tahun lalu, Istana Bogor tidak lagi dibuka untuk umum lantaran keluarga Presiden menjadikan istana itu sebagai kediaman resmi.

Sejak tahun 1999, menjelang perayaan hari jadi Bogor pada 3 Juni, Istana Bogor dibuka untuk umum meski dengan jumlah tamu terbatas. Saat itulah masyarakat bisa melihat ruangan berikut koleksi bersejarah istana. Sekarang, masyarakat hanya bisa melihat Museum Kitri di kompleks Istana Bogor.

Kuliner dan oleh-oleh

Kini waktunya untuk menikmati kuliner dan membeli oleh-oleh dari kawasan permukiman Arab. Di alun-alun, terdapat beragam kuliner.

KOMPAS/RATIH P SUDARSONO Roti konde Ka Nung merupakan produk asli peranakan Arab Bogor. Toko roti berada di sekitar Alun-alun Empang, Kota Bogor, Jawa Barat.
Mampirlah ke warung Sate Gate. Restoran ini menyediakan hidangan berbahan utama kambing atau ayam, seperti sate, nasi kabsah, nasi kebuli, nasi goreng, marag, gulai, dan sup. Harga mulai Rp 25.000 hingga Rp 45.000 per porsi.

Warung lainnya adalah warung sate Pak Rebing. Namun, Anda harus datang sebelum pukul 11.00 untuk menikmati racikan sate di sini.

Ada pula warung kopi Pak Sipit yang menyediakan hidangan kopi khas Bogor. Ada sensasi unik ketika menikmati hidangan sate atau menyeruput kopi di kawasan Empang. Harganya terjangkau dan memuaskan.

Jika ingin membawa oleh-oleh, selain parfum, aroma terapi, dan kurma, bisa juga membeli roti konde Ka Nung yang asli peranakan Arab Bogor. Tokonya ada di sekitar alun-alun. Jika ingin membeli di rumah produksinya, bisa berjalan kaki ke Jalan Sadane.

Di jalan tersebut juga bisa ditemukan rumah tangga keturunan arab yang memproduksi kue, seperti kue pepe, samosa, dan roti cane.

Roti konde, yang juga menjadi oleh-oleh khas Kota Bogor sebagaimana roti unyil, sebetulnya mirip roti cane atau roti maryam.

Roti konde Ka Nung ini rasanya gurih sehingga bisa dimakan langsung tanpa harus dicelupkan ke kuah kari atau gulai, sebagaimana roti cane.

Harganya relatif terjangkau mulai Rp 19.000 per lima buah hingga puluhan ribu, bergantung pada variasi isi roti dan ukurannya. Di toko Ka Nung, tersedia juga dodol khas Arab yang manis gurih dan beraroma rempah.

Jika ingin membawa oleh-oleh camilan khas Bogor lainnya, belilah dodongkal, penganan dari tepung ketan yang dikukus dengan gula merah dan diberi parutan kasar kelapa muda. Tersedia juga dodongkol isi keju. Harganya mulai Rp 5.000 per buah. (Ratih Prahesti Sudarsono)


Page:
EditorI Made Asdhiana

Close Ads X