Gombyang Manyung Tiada Tara

Kompas.com - 23/05/2016, 17:05 WIB
Proses pemasakan menu Gombyang Manyung milik Warto di Desa Tambak, Kabupaten Indramayu. KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQProses pemasakan menu Gombyang Manyung milik Warto di Desa Tambak, Kabupaten Indramayu.
EditorI Made Asdhiana

Mereka banyak memasak kepala ikan manyung terutama di musim paceklik ketika penghasilan laut menurun. Kepala-kepala manyung yang dipandang remeh itu menyelamatkan banyak warga dari kelaparan. Kepala manyung seolah menjadi penolong ketika daya beli berada di titik nadir.

Kata gombyang mengacu pada kuah yang melimpah karena ikan ini dimasak seperti sup dengan kuah merendam ikan. ”Yang perlu diperhatikan itu jangan sampai masakan berbau amis atau anyir. Kuncinya ada di angsang,” kata Diding Fahrudin (59), Manajer Rumah Makan Panorama.

Pada kepala ikan terdapat sekumpulan lendir yang menempel pada ingsang. Jika tidak dibersihkan dengan benar, lendir itu akan memengaruhi rasa ikan secara keseluruhan.

Setelah dibelah dua dan dibersihkan, ikan direbus selama dua jam dengan ketentuan airnya diganti dua kali untuk menghilangkan aroma amisnya.

Setelah itu baru dicampur dengan bumbu seperti daun salam, sereh, kunyit, bawang merah, bawang putih, cabai rawit, dan garam. Ikan direbus hingga kulit dan daging terlepas dari tulangnya.

Kepala ikan seukuran kelapa itu disajikan di dalam mangkuk jumbo dengan kuah melimpah hampir tumpah. Dipuncaki irisan tomat dan irisan daun bawang, aroma ikan langsung merangsang selera makan.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ Proses pemasakan menu Gombyang Manyung milik Warto di Desa Tambak, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Rasa gurih kaldu ikan dipadu dengan bumbu dan rempah menjanjikan kelezatan khas. Ada sedikit rasa manis. Yang juga menantang ialah saat penikmat gombyang manyung terdorong untuk mengelupas daging-daging yang tersembunyi di antara tulang-tulang tengkorak ikan yang strukturnya demikian rumit itu.

Ada yang mencukilnya menggunakan garpu, ada juga yang memasukkan kelingkingnya. Belum juga berhasil, mereka menyedot dan mengisap tulang-tulang itu. sluurrrp… ah!

Menjaga kesegaran

Sensasi itulah yang memancing orang berbondong-bondong datang ke Panorama. Dalam sehari, Warto menghabiskan 2-3 kuintal kepala ikan manyung. Jumlah itu bertambah ketika libur hari besar seperti Tahun Baru atau Lebaran.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X