Kompas.com - 04/06/2016, 07:36 WIB
Ranny Damayani pegawai di Pemkot Prabumulih, Sumatera Selatan memilih dan memetik sendiri buah melon di kebun Pak Samidi, Rannny mengaku sering datang ke kebun Pak Samidi sepulang kerja untuk membeli buah melon. KOMPAS.COM/AMRIZA NURSATRIARanny Damayani pegawai di Pemkot Prabumulih, Sumatera Selatan memilih dan memetik sendiri buah melon di kebun Pak Samidi, Rannny mengaku sering datang ke kebun Pak Samidi sepulang kerja untuk membeli buah melon.
|
EditorI Made Asdhiana

PRABUMULIH, KOMPAS.com - Ada yang menarik di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Di Kelurahan Gunung Ibul, Kecamatan Prabumulih Timur, ada kebun buah melon yang ditanam dan ditata secara menarik sehingga membuat orang yang melihatnya tertarik untuk singgah.

Kebun buah melon itu milik Samidi (40 tahun), petani buah asal Solo, Jawa Tengah yang merantau ke Kota Prabumulih.

Kebun melon Samidi sebenarnya tidak terlalu luas hanya seperempat hektar. Namun Samidi menanamnya dengan cara yang benar. Buahnya juga ditata teratur dengan cara digantung dengan tali.

Akibatnya orang yang melihat kebun Samidi pasti singgah dan tertarik untuk membeli buah melonnya yang tergantung rapi dan bersih tidak terkena tanah.

KOMPAS.COM/AMRIZA NURSATRIA Buah melon bergelantungan di kebun Pak Samidi di Kelurahan Gunung Ibul, Kecamatan Prabumuih Timur, Kota Prabumulih, Sumatera Selatan.
Samidi memulai usaha pertanian buah melon sejak tahun 2010. Awalnya suami dari Merry Satia Dharma ini mendapat pelatihan cara budi daya buah melon langsung ke negara Jepang, dikirim sebuah lembaga pertanian di Indonesia.

Di Jepang, Samidi mempelajari cara dan mengolah tanah, menaman hingga pemupukan serta pemberian air dengan cara yang benar. Supaya tanaman buah melon tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang besar dan manis.

Hasil dari pelatihan di Jepang itu lalu ia terapkan di Kota Prabumulih. Dengan modal uang Rp 10 juta dan tanah tumpangan, bapak tiga anak ini mulai mengolah tanah dan menanam bibit melon di kebunnya itu. Tanah seperempat hektar itu ia tanami sebanyak 3.000 bibit melon.

Dari tanam hingga bisa dipanen memakan waktu dua bulan. Agar buah yang dipanen tidak kotor dan busuk, Pak Samidi mengantung buah melon itu dengan tali. Ternyata selain buahnya tidak kotor terkena tanah hal itu membuat orang yang melihatnya jadi tertarik untuk singgah.

KOMPAS.COM/AMRIZA NURSATRIA Buah melon yang sudah dipetik bisa dibelah dan dimakan langsung di kebun Pak Samidi, di Prabumulih, Sumsel. Rasa buah melon dari kebun pak Samidi manis dan segar.
Sekarang bayangkan, jika satu tanaman melon buahnya mencapai berat 2 kilogram, maka jika dikalikan 3.000 batang, akan didapat angka 6.000 kilogram atau 6 ton buah melon.

Dengan harga jual Rp 10.000 per kilogram maka Samidi bisa mendapat Rp 60 juta dalam dua bulan, sementara modalnya hanya Rp 10 juta. Sungguh angka keuntungan yang cukup besar.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Puncak Argapura Ketep Pass, Wisata Kuliner dengan Panorama 5 Gunung

Puncak Argapura Ketep Pass, Wisata Kuliner dengan Panorama 5 Gunung

Jalan Jalan
Harga Tiket Masuk TMII Dijanjikan Tidak Naik Setelah Revitalisasi

Harga Tiket Masuk TMII Dijanjikan Tidak Naik Setelah Revitalisasi

Travel Update
Unggah Foto Perayaan Imlek di Grand Indonesia Bisa Dapat Promo, Ini Caranya

Unggah Foto Perayaan Imlek di Grand Indonesia Bisa Dapat Promo, Ini Caranya

Travel Promo
Jelang MotoGP, 226 Hotel di Gili Matra NTB Belum Dapat Pesanan

Jelang MotoGP, 226 Hotel di Gili Matra NTB Belum Dapat Pesanan

Travel Update
Panduan Cara Bikin Paspor dengan M-Paspor, Simak agar Tidak Bingung

Panduan Cara Bikin Paspor dengan M-Paspor, Simak agar Tidak Bingung

Travel Tips
5 Penginapan Dekat Nepal van Java, Bisa Ditempuh dengan Jalan Kaki

5 Penginapan Dekat Nepal van Java, Bisa Ditempuh dengan Jalan Kaki

Travel Tips
Cerita di Balik Menu Bubur Ayam Hotel Indonesia Kempinski Jakarta

Cerita di Balik Menu Bubur Ayam Hotel Indonesia Kempinski Jakarta

Jalan Jalan
Pemandian Alam Selokambang di Lumajang, Segarnya Mata Air Gunung Semeru

Pemandian Alam Selokambang di Lumajang, Segarnya Mata Air Gunung Semeru

Jalan Jalan
Jangan Letakkan Ponsel di Tempat Ini di Pesawat, Bisa Picu Kebakaran

Jangan Letakkan Ponsel di Tempat Ini di Pesawat, Bisa Picu Kebakaran

Travel Tips
Kenapa Tidak Ada Guling di Kamar Hotel, Ini Alasannya

Kenapa Tidak Ada Guling di Kamar Hotel, Ini Alasannya

Travel Tips
10 Kota Paling Ramah untuk Turis, Ada Nusa Lembongan di Bali

10 Kota Paling Ramah untuk Turis, Ada Nusa Lembongan di Bali

Jalan Jalan
Kapal Viking Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Kapal Viking Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Travel Update
Sulit Tidur Saat Menginap di Hotel? Pahami Alasan Ilmiah dan Solusinya

Sulit Tidur Saat Menginap di Hotel? Pahami Alasan Ilmiah dan Solusinya

Travel Tips
MotoGP Bisa Jadi Momen Kopi Robusta Lombok Gaet Pasar Internasional

MotoGP Bisa Jadi Momen Kopi Robusta Lombok Gaet Pasar Internasional

Travel Update
Banyuwangi Festival 2022 Sajikan 99 Atraksi Selama Setahun ke Depan

Banyuwangi Festival 2022 Sajikan 99 Atraksi Selama Setahun ke Depan

Travel Promo
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.