Kompas.com - 06/06/2016, 07:29 WIB
Sueg, Jajanan Kampung di Penglipuran, Bangli, Bali. ARSIP BALITERKINI.COMSueg, Jajanan Kampung di Penglipuran, Bangli, Bali.
EditorI Made Asdhiana

BANGLI, KOMPAS.com - Makanan berbahan umbi yang selalu identik dengan makanan desa karena kerap ditemukan dan disajikan warga pedesaaan sudah tak asing lagi. Biasanya disajikan dalam bentuk peneman kopi atau teh.

Namun ada lagi makanan khas pedesaan yang jarang dikonsumsi oleh kebanyakan orang. Dari berbagai jenis umbi, ada salah satu jenis umbi yang jarang dikonsumsi.

Untuk bisa dikonsumsi sebagai kudapan, dibutuhkan keahlian khusus untuk mengolahnya, sehingga layak menjadi jajanan khas Bali.

Nama tanaman ini adalah Sueg, di mana umbinya bisa diolah menjadi kue khas Bali dan tidak kalah lezat dengan umbi jenis yang lumrah diolah sebagai panganan. Sueg bisa diolah menjadi jajajan setelah melalui beberapa proses.

Jenis umbi satu ini memang berbeda dengan umbi jenis lainnya. Tidak semua jenis umbi Sueg bisa dikonsumsi, bahkan malahan ada yang beracun. Jenis jajanan ini pun hanya bisa kita peroleh dalam setahun sekali di setiap musimnya.

Di Desa Penglipuran, Bangli, yang dikenal dengan memiliki keindahan arsitektur bangunan khas di setiap pintu masuk, ada sosok yang intens tiap tahunnya mengolah umbi Sueg.

Ni Wayan Puspawati adalah perempuan Penglipuran yang belum lama ditemui dengan berkeliling memasuki rumah-rumah tetangganya. Ia bersama anak lelakinya memproses umbi Sueg ini dari sebuah rumah di antara deretan rumah khas tradisional yang memiliki lahan tegalan di bagian belakang rumah.

Ketika ditemui belum lama ini, ia baru saja beranjak dari pintu rumah bergegas di bawah rintik hujan. Ia menempati rumah di kawasan Desa Wisata Penglipuran, tidak jauh dari Karang Memadu di deretan paling selatan.

Dari sini ia menjajakan jajanan Sueg dari rumah ke rumah, seolah sudah akrab dengan para pembelinya. Wisatawan yang kebetulan berkunjung pun dibuat penasaran, dan bahkan turut mencicipinya.

Dalam satu nampan, Ni Wayan Puspawati menata rapi jajanannya yang masih hangat, memiliki ciri khas berupa taburan parutan kelapa di permukaan kue tersebut.

Uang dari hasil jualan lantas diselipkan di bawah jajanan ini. Makin lama melangkah, receh dan uang kertas akan makin banyak terkumpul di bawah jajanan yang tertata.

Menurut dia, Sueg merupakan umbi yang bisa diolah menjadi jajanan enak. Sueg tumbuh liar di kebun dan hanya bisa dipanen setahun sekali.

"Untuk mengetahui bisa dipanen, pohon Sueg itu harus mati dulu dengan sendirinya. Baru bisa diambil umbinya," ujarnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X