Kompas.com - 06/06/2016, 16:20 WIB
Wisatawan menikmati pemandangan areal persawahan berundak di Tegallalang, Gianyar, Bali, Jumat (5/12/2014). Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada 2014 ditargetkan 3,5 juta orang. Hingga Agustus 2014, jumlah wisatawan mancanegara ke Bali 2,5 juta orang. KOMPAS/HERU SRI KUMOROWisatawan menikmati pemandangan areal persawahan berundak di Tegallalang, Gianyar, Bali, Jumat (5/12/2014). Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada 2014 ditargetkan 3,5 juta orang. Hingga Agustus 2014, jumlah wisatawan mancanegara ke Bali 2,5 juta orang.
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan data Biro Statistik Australia (Australia Bureau of Statistics) bahwa 105.500 orang Australia berkunjung ke Indonesia per bulan. Ini menunjukkan pariwisata di Indonesia menjadi favorit bagi wisatawan Australia.

Arief Yahya dalam keterangan di Jakarta, Senin (6/6/2016), mengatakan data terbaru dari ABS (Australia Bureau of Statistics) untuk pertama kali menempatkan Indonesia sebagai jawara destinasi dari kunjungan wisatawan Australia. "Jumlah orang Australia yang piknik ke luar negeri paling banyak ke Indonesia," ucapnya.

Sebelumnya wisatawan Australia, menurut data ABS itu, paling banyak berkunjung ke Selandia Baru, yang sejak lama rata-rata 99.400 orang per bulan.

"Pasti ini terkait dengan deregulasi kebijakan bebas visa kunjungan dari Australia," ujar Arief Yahya, menduga.

BARRY KUSUMA Wisatawan berselancar di Pantai Plengkung, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (3/5/2014).
Kampanye bebas visa kunjungan itu dilakukan oleh Kementerian Pariwisata bersama Kementerian Luar Negeri serta KBRI maupun KJRI di seluruh Australia.

Promosi Pesona Indonesia atau "Wonderful Indonesia" melalui berbagai festival atau pameran sudah dilakukan di berbagai wilayah di Australia, selain promosi via beragam media.

Promosi pariwisata dengan tema bebas visa kunjungan, cukup efektif menggaet pasar Australia. Pemerintah sudah menerapkan bebas visa kunjungan dari 169 negara untuk masuk ke Indonesia.

"Keterbukaan internasional ini sudah masuk dalam salah satu pilar yang dilihat oleh 'World Tour and Travel Competitiveness Index' sebagai salah satu nilai ukur," tuturnya.

Arief Yahya meyakini bahwa angka-angka statistik merupakan data akurat dalam pengembangan pariwisata.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Wisatawan asing menaiki becak di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Jumat (15/4/2016).
"Saya selalu menggunakan angka, tanpa angka-angka saya tidak bisa mengukur. Jika tidak bisa mengukur sebenarnya saya tidak bisa mengatur. Karena itu angka adalah hal terpenting dalam managemen. Angka itu juga harus dikeluarkan oleh lembaga kredibel, berstandar dunia," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Sumber ANTARA
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.