Kompas.com - 14/06/2016, 16:15 WIB
Penyelam bersama hiu paus (whale shark) di Teluk Cendrawasih, Papua Barat, Senin (17/8/2015). SURJATUN WIDJAJAPenyelam bersama hiu paus (whale shark) di Teluk Cendrawasih, Papua Barat, Senin (17/8/2015).
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com - Bolehlah Anda mengelus kucing, anjing, atau hewan peliharaan lainnya yang tidak terancam punah. Tapi hiu paus (whale shark) adalah hewan liar. Jangankan mengelus, berenang di sampingnya pun ada aturannya.

Baru-baru ini, netizen dihebohkan oleh postingan foto akun Instagram sebuah operator tur di Berau, Kalimantan Timur. Tampak salah satu peserta tur - yang asyik tengkurap di atas floatie alias pelampung besar - mengelus kepala hiu paus.

Tak hanya itu, muncul beberapa foto lainnya yang menunjukkan interaksi tak wajar antara manusia dengan hiu paus. Ada yang tampak mengelus bagian bawah kepala hiu paus, memegang sirip hiu paus, sampai menunggangi hiu paus.

(BACA: Menyelam Bersama Hiu Paus di Teluk Cendrawasih)

Hiu paus (Rhincodon typus) adalah jenis hiu terbesar di dunia, dengan panjang tubuh mencapai 20 meter saat dewasa. Indonesia punya beberapa spot hiu paus antara lain Talisayan (Berau, Kaltim), Teluk Kwatisore (Taman Nasional Cendrawasih, Papua), serta Botubarani (Bone Belango, Gorontalo).

Di Indonesia, hiu paus adalah hewan yang dilindungi penuh. Hal ini berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 18/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Hiu Paus (Rhincodon typus).

Namun, hiu paus yang tampak "jinak" serta sering menampakkan diri di permukaan laut membuat wisatawan ingin berinteraksi lebih. Padahal, wisata hiu paus punya aturan sendiri.

"Tidak bisa dipungkiri, menyentuh hiu paus masih sering dilakukan oleh wisatawan. Hal itu dapat mencelakakan baik pada hiu paus maupun turis itu sendiri," tutur Project Leader Whale Shark Indonesia, Mahardika Rizki kepada KompasTravel, Selasa (14/6/2016).

Sedikitnya ada dua risiko saat turis menyentuh atau menunggangi hiu paus. Pertama, kibasan ekor hiu paus cukup kuat dan berisiko tinggi saat menghantam tubuh wisatawan. Kedua, sisik plakoid dari hiu paus bertekstur tajam sehingga bisa melukai tubuh wisatawan. 

Bagaimana dengan si hiu paus? Mungkin interaksi jarak dekat tidak terlihat memiliki dampak buruk jika dilihat secara langsung.

"Namun kontak dekat ini akan mengubah perilaku hiu paus dengan tidak takut dekat dengan manusia. Terlebih jika diberi makan, mereka akan mendekat. Hal ini akan berbahaya jika ada manusia yang memiliki niat untuk memburu hiu paus," papar Mahardika.

Maraknya mass tourism menimbulkan kekhawatiran bagi banyak penggiat konservasi. Nesha Ichida, Co-Founder & Director of Sustainability and Development Divers Clean Action adalah salah satunya.

"Mass tourism memang tak bisa dihindari. Meski begitu tetap harus ada petunjuk atau pedoman khusus wisata hiu paus. Misal, berenang minimal tiga meter dari tubuhnya dan empat meter dari ekornya," tutur Nesha kepada KompasTravel.

SURJATUN WIDJAJA Lilie Chow dan hiu paus (whale shark) di Teluk Cendrawasih, Papua Barat, Senin (17/8/2015).
Peneliti aktivitas hiu paus di Gorontalo itu juga menekankan soal jumlah kapasitas tiap rombongan turis.

"Kapasitas juga harus diatur agar wisatanya berkelanjutan," tambahnya.

Kasus operator tur di Berau yang baru-baru ini viral juga menggelitik Satya Winnie. Di postingan Instagram, travel blogger itu bahkan sempat adu mulut dengan pemilik operator tur tersebut.

"Sebenarnya kan sudah banyak yang tahu, biota laut itu tidak boleh disentuh.  Aku berharap turis mengingat hal itu. Operator tur juga harus sosialisasi code of conduct wisata hiu paus," tuturnya kepada KompasTravel.

Terkait code of conduct, pemerintah serta organisasi lingkungan seperti WWF telah membuat panduan wisata hiu paus. Code of conduct inilah yang harus dipatuhi baik oleh wisatawan maupun operator tur.

Mahardika mengatakan, pemerintah sudah cukup baik dengan membuat peraturan dan Keputusan Menteri soal perlindungan hiu paus.

"Memang perlu dilakukan penyebaran informasi dan edukasi lanjutan baik untuk pengelola wisata dan turis," tuturnya.

Untuk pengelola wisata, lanjut Mahardika, perlu memerhatikan nilai-nilai konservasi dan pemanfaatan alam melalui aktivitas wisata. Ini dilakukan agar wisata bisa berkelanjutan, serta memberi kesan yang baik bagi wisatawan yang datang. 

"Mungkin ditambah edukasi seperti briefing singkat tentang hiu paus sebelum berinteraksi. Perlu ikut serta dari banyak pihak untuk menjadikan Indonesia destinasi wisata yang 'ramah'," tuturnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.