Kompas.com - 20/06/2016, 17:21 WIB
EditorI Made Asdhiana

BIAN Lian bukan hanya tarian khas Tiongkok, melainkan juga menjadi rahasia negara. Tarian itu tak boleh diajarkan dan dipentaskan sembarangan. Namun, untuk pertama kali tarian Bian Lian berkolaborasi dengan tari topeng Cirebon. Seni dan budaya tak terikat batas negara.

Terik matahari perlahan meredup saat musik khas Tiongkok mengiringi langkah Defanya Aprechita (21) dan Charlene (20) di lantai Bangsal Pagelaran Keraton Kasepuhan Cirebon, Kota Cirebon, Jawa Barat, Selasa (7/6/2016). Defanya memakai kostum khas Tiongkok berwarna kuning, sedangkan Charlene berjubah merah dengan motif batik Megamendung, khas Cirebon.

Mereka menggunakan topeng Cirebon jenis panji, samba, rumyang, tumenggung, dan klana yang telah dimodifikasi. Tempo musik yang lambat menjadi saat tangan mereka mulai mengganti topeng yang menyembunyikan wajah ayu keduanya.

Dalam hitungan detik mereka berganti topeng. Bahkan, saat tangan Defanya menjabat tangan Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan XIV, Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, topeng di wajah Defanya sontak berganti. Dalam tarian berdurasi lebih dari lima menit itu, sembilan topeng silih berganti dengan cepat.

Lebih dari 50 orang yang kebanyakan keturunan Tiongkok terperangah. Kostum seberat hampir 10 kilogram seakan tak mengganggu tarian Bian Lian yang diperankan dua mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan Bandung itu.

Siang itu, tarian khas Tiongkok, Bian Lian, berkolaborasi dengan tari topeng khas Cirebon yang berumur ratusan tahun. ”Ini sejarah. Baru kali ini Bian Lian dipadukan dengan kesenian tradisional di Indonesia, bahkan mungkin di dunia,” ujar Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Bahasa Mandarin (YPBM) Jabar Louis Lauw.

Pentas itu diinisiasi oleh YPBM dengan Keraton Kasepuhan Cirebon. Dua tahun lalu, Bian Lian juga dipentaskan di keraton. Namun, kali ini, Bian Lian berpadu dengan tari topeng Cirebon.

Padahal, lanjut Lauw, tari Bian Lian dianggap rahasia negara di Tiongkok karena mengandung unsur sulap ketika topeng berganti dalam hitungan detik. Budaya yang diwariskan turun-temurun itu bahkan harus mendapatkan izin dari otoritas Tiongkok jika ingin dipelajari dan dipentaskan di luar negara.

”Selama dua tahun, murid kami belajar tarian Bian Lian di Tiongkok. Untuk berkolaborasi dengan tari topeng Cirebon, kami sudah mendapat izin. Kostum dan topeng pun dibuat di Tiongkok setelah melihat topeng Cirebon,” kata Lauw.

Rasa Cirebon pun seakan menyatu dengan tarian Bian Lian. Topeng samba yang menyimbolkan masa remaja manusia, misalnya, tergambar dengan topeng putih dengan riasan merah di pipi. Meskipun gerakan tari murni dari Bian Lian, rasa topeng Cirebon masih kental.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.