Lariti, Laut "Terbelah Dua" di Selatan Bima

Kompas.com - 22/06/2016, 13:33 WIB
Pantai Lariti di Desa Soro, Kecamatan Lambu, Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, mulai didatangi wisatawan. Perairan teluk ini terbelah menjadi dua ketika airnya surut dan tampak terumbu karang yang menjadi arena bermain bagi para pengunjung.
KOMPAS/KHAERUL ANWARPantai Lariti di Desa Soro, Kecamatan Lambu, Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, mulai didatangi wisatawan. Perairan teluk ini terbelah menjadi dua ketika airnya surut dan tampak terumbu karang yang menjadi arena bermain bagi para pengunjung.
EditorI Made Asdhiana

APABILA mengunjungi Pantai Lariti, Anda bisa melihat laut terbelah dua, mirip kisah Nabi Musa ketika dikejar bala tentara Firaun. Anda juga akan merasakan sensasi berjalan di atas air laut,” kata Ikram, petugas salah satu hotel di Kota Bima, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Minggu (22/5/2016).

Pantai Lariti terletak di wilayah selatan Kabupaten Bima, tepatnya Desa Soro, Kecamatan Lambu Sape. Lokasi pantai tidak jauh dari Pelabuhan Sape, gerbang laut yang menghubungkan Pulau Sumbawa dan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dari Kota Bima, pantai ini bisa ditempuh satu jam perjalanan mengendarai mobil.

Bagi mereka yang tidak membawa kendaraan sendiri, tersedia mobil sewaan Rp 500.000 per hari atau sepeda motor sewaan Rp 150.000 per hari.

Memasuki wilayah selatan kabupaten seluas 4.374,65 kilometer persegi itu, akan terlihat warna asli kawasan yang bergunung-gunung dan hanya mendapat musim hujan kurang dari tiga bulan dalam satu tahun.

Seperti kelakar Wakil Bupati Bima Dahlan M Noor saat pembukaan operasi katarak yang diselenggarakan Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas (DKK). ”Kabupaten Bima punya dua warna, hijau dan coklat,” katanya.

Karakter daerah itu tergambar dari jalan beraspal hotmix berkelok-kelok naik-turun, yang separuhnya diapit kawasan hutan dan bukit terjal. Pada musim hujan, kawasan itu tampak hijau oleh pepohonan. Namun, tegakan pohon dan semak belukar meranggas dan coklat saat dibakar terik matahari kemarau. Bebatuan pun menyembul melalui lereng-lereng lahan bukit bertekstur batu bertanah.

Sekitar 14 kilometer perjalanan, kami singgah di kompleks rumah tradisional Desa Maria, Kecamatan Wawo, melihat Uma Lengge (rumah mengerucut) dan Uma Jompa. Rumah itu di jadikan lumbung padi dan hasil bumi lain.

Letak kompleks rumah-rumah itu agak jauh dari permukiman warga agar aman dari kebakaran yang kerap terjadi saat musim kemarau sehingga stok pangan aman dari jilatan api sampai menjelang panen.

Kegersangan berlanjut ke Desa Soro, jalan menuju Pantai Lariti. Putaran roda mobil melamban menyusuri bukit gersang, melindas jalan datar berbatu- berdebu yang baru diuruk, dan mengitari petak-petak kolam usaha tambak yang sedang dalam proses pembangunan.

Dari atas bukit terlihat beberapa pulau kecil disertai warna air laut, yang seakan tersambung dari Pantai Lariti ke Samudra Indonesia.

Sore itu air di teluk tengah surut. Dari kejauhan terlihat panorama Pantai Lariti berupa terumbu karang bagai jalan membentang membelah laut sepanjang 100 meter dari bibir pantai hingga Nisa Lampa Jaram, pulau persinggahan alias ladang ternak kuda merumput.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X