Kompas.com - 22/06/2016, 20:22 WIB
Penulis Reza Pahlevi
|
EditorJosephus Primus

Data Kemenpar menunjukkan bahwa pada 2009 ada 34.954 wisatawan mancanegara bertandang ke Labuan Bajo. Jumlah ini meningkat lipat tiga menjadi 54.147 orang pada 2013, atau tumbuh rata-rata 12,2 persen per tahun.

“Wisatawan sangat menyukai apa adanya di bawah laut kita karena indah dan luas. Jadi tetap begitu saja jangan diubah-ubah,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, Kementerian Pariwisata Dadang Rizki Ratman, saat berbincang dengan Kompas.com, Senin (2/5/2016).

Dari data Kemenpar pula, ada jumlah kunjungan wisatawan lokal 9.055 orang dan wisatawan mancanegara 3.315 orang pada 2013 ke Wakatobi.  Angka ini meningkat pada 2014. Rinciannya, wisatawan lokal 9.750 orang dan wisatawan luar negeri 4.520 orang.

Menurut Dadang,  tantangan menjual suatu wisata adalah dukungan akses yang mudah berikut pembangunan infrastuktur memadai seperti hotel, pusat informasi, dan transportasi.

“Destinasi yang hebat dengan alam yang bagus tidak bakal dikunjungi jika tidak didukung oleh banyak pihak dan lintas sektor,” tuturnya.

Kini, Bandara Komodo di Labuan Bajo sudah pula naik kelas menjadi bandara internasional sejak setahun silam. Itu berarti, bandara dengan landas pacu 2.250 meter—dari sebelumnya 1.800 meter—sudah mampu disinggahi pesawat terbang berbadan besar sekelas Boeing 737-800.

Terkini, pada Minggu (8/5/2016), Menteri Perhubungan Ignasius Jonan juga meresmikan Terminal Penumpang Bandara Matahora di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Bandara Matohara sekarang miliki wajah baru lengkap dengan fasilitas yang lebih modern, dengan kucuran dana APBN  2015 sebesar Rp 80 miliar.

Selain itu, rute penerbangan tambahan ke Wakatobi rencananya akan ditambah. Muncul harapan bahwa upaya ini dapat semakin meningkatkan jumlah wisatawan yang akan berkunjung ke Wakatobi.

Tentu saja, dukungan infrastruktur dan akses juga akan menjadi penentu bagi ramai atau tidaknya pengunjung ke Morotai untuk mengunjungi jejak “nafsu” MacArthur. Rencana pengembangan itu sudah berdengung kencang, setidaknya sejak tahun lalu, dan telah masuk dalam RPJM 2015-2019.

"Selain itu, Bandara Leo Watimena di Kabupaten Pulau Morotai akan dikembangkan pemerintah pusat, secara bertahap," kata Kepala Bappeda Maluku Utara, Syamsuddin Banyo di Ternate, seperti dikutip Antara, Rabu (17/5/2015).

Terlebih lagi, sudah ada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 Tahun 2014 yang menetapkan Morotai sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK), merujuk Keputusan Presiden Nomor 45 tahun 2014 tentang Pembentukan Dewan Kawasan KEK Pulau Morotai.

Masih berani bilang negeri ini kekurangan surga bahari?

Bila sudah menyambangi tempat-tempat ini atau lokasi wisata bahari lain di Indonesia yang tak kalah mempesona, coba bagikan juga cerita Anda, melalui Twitter dan Instagram dengan mention @ceritadestinasi di dalamnya atau ke fan page Facebook Cerita Destinasi, sertakan pula tanda pagar (tagar) #ceritadestinasi.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.