"Traveling" dengan Anak Balita, Bawa "Stroller" atau "Baby Carrier"?

Kompas.com - 26/07/2016, 10:06 WIB
Trekking menuju Curug Buluh di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, di Kecamatan Pemijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/8/2013). Kawasan ini menawarkan keindahan alam seperti air terjun dan Kawah Ratu. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESTrekking menuju Curug Buluh di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, di Kecamatan Pemijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/8/2013). Kawasan ini menawarkan keindahan alam seperti air terjun dan Kawah Ratu.
EditorNi Luh Made Pertiwi F

KOMPAS.com — Berliburbersama buah hati tentu sangat menyenangkan. Namun, pertanyaan yang biasanya muncul, apakah perlu membawa stroller (dorongan bayi) atau cukup baby carrier (gendongan bayi)?

Citra dan Adit adalah satu dari sekian pasang yang memiliki cerita terkait hal ini. Mereka merasa tak puas menikmati liburan selama tiga hari di Bali. Pasalnya, Citra kelelahan karena harus terus menggendong buah hati mereka, Dastan, yang baru berusia 2 tahun. Entah karena cuaca yang panas atau belum terbiasa dengan suasana baru, Dastan kerap rewel dan tak mau turun dari gendongan ibunya.

Gara-gara hal sepele ini, kadang Citra dan Adit terlibat pertengkaran kecil lantaran Adit tak mau bergantian menggendong Dastan. Padahal, Citra juga sudah kelelahan menggendong anaknya sepanjang jalan di lokasi wisata.

Kejadian tersebut biasanya terjadi pada suami-istri muda yang melakukan perjalanan bersama anak yang masih berusia di bawah lima tahun (anak balita). Mereka memutuskan untuk tidak membawa stroller karena khawatir kerepotan. Memang, stroller bisa menjadi dewa penyelamat, tetapi bisa juga justru menjadi sumber kerepotan, terutama kalau stroller yang dibawa besar dan berat.

Nah, agar tepat memilih, apakah membawa stroller atau cukup membawa baby carrier, simak tips berikut ini.

Membawa stroller ketika liburan jika:

- Bepergian dengan anak berusia 3 tahun ke atas.
- Kalau anak sudah terlalu berat untuk digendong dan Anda merasa tak sanggup meski bergantian dengan pasangan.
- Liburan lama, lebih dari dua hari dan banyak melibatkan jalan kaki.
- Liburan ke negara maju karena infrastruktur sudah memadai.
- Liburan ke tempat-tempat wisata yang mendukung dan stroller-friendly.
- Stroller dibuat dari material yang enteng dan mudah untuk dilipat.

Membawa baby carrier ketika liburan jika:

- Bepergian dengan bayi newborn atau kurang dari 2 tahun.
- Traveling ke beberapa tempat dan terus berpindah.
- Waktu bepergian tidak terlalu lama, maksimal 2 hari.
- Kondisi atau medan destinasi yang agak berat, misalnya candi, bukit, dan area lainnya yang mengharuskan kita menanjak.

Meski terbilang praktis, baby carrier juga punya kelemahan, yaitu bergantung pada stamina si penggendong. Apalagi jika menggendong dalam waktu cukup lama, pundak pasti akan terasa sangat pegal.

Untuk menyiasatinya, gendonglah buah hati secara bergantian dengan pasangan. Saat ini, banyak baby carrier yang juga didesain dan bermotif unisex. Artinya, ketika pasangan menggunakan baby carrier, dia tak masalah dengan motif atau gambar baby carrier tersebut. (TabloidNova.com/SRI ISNAENI)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X