Sejarah Perang di Balik Gubuk Muhlis Eso

Kompas.com - 03/08/2016, 21:37 WIB
Muhlis Eso dan barang peninggalan Perang Dunia II di gubuk museum miliknya di Kecamatan Morotai Selatan, Kepulauan Morotai, Maluku Utara, Senin (18/7/2016). KOMPAS/LUCKY PRANSISKAMuhlis Eso dan barang peninggalan Perang Dunia II di gubuk museum miliknya di Kecamatan Morotai Selatan, Kepulauan Morotai, Maluku Utara, Senin (18/7/2016).
EditorI Made Asdhiana

CERITA Perang Dunia II yang dituturkan sang kakek membekas dalam ingatan Muhlis Eso.

Muhlis yang kala itu masih berusia sepuluh tahun tergerak untuk mencari jejak peperangan tentara Amerika Serikat dan Jepang di bumi Moro.

Kini, 26 tahun sudah Muhlis mengelilingi Pulau Morotai, masuk dan keluar hutan mencari barang peninggalan perang untuk membuktikan cerita kakeknya.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Rumah gubuk dan gubuk museum Muhlis Eso di Morotai, Maluku Utara.
Satu per satu barang yang dia temukan dikumpulkan dalam museum yang dia bangun di samping rumah gubuknya.

Benda-benda bersejarah bernilai tinggi itu semestinya bisa membuatnya kaya. Tapi, Muhlis memilih hidup penuh keterbatasan demi menyelamatkan sejarah penting dunia di Morotai.

Semangatnya berapi-api ketika bertutur tentang Morotai dalam peta Perang Dunia II. Hampir semua jenis senapan ia hafal, lengkap dengan tahun pembuatan dan penggunanya.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Muhlis Eso menyusuri tempat persembunyian prajurit Jepang, Teruo Nakamura, di Air Terjun Nakamura di Desa Dehegila, Morotai, Maluku Utara, Minggu (17/7/2016). Tempat ini dinamakan Air Terjun Nakamura sesuai nama prajurit Jepang yang bersembunyi dari tentara Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II.
Untuk mencari barang peninggalan perang yang tertimbun tanah, Muhlis hanya menggunakan besi lot yang ia tusuk-tusukkan ke dalam tanah.

Dari setiap benturan dan bekas goresan di besi, ia segera tahu benda yang terkubur di dalamnya.

Raut murung tergores di wajah Muhlis tatkala ia menceritakan benda-benda peninggalan perang di Pulau Morotai tiba-tiba diambil dan dihancurkan untuk dilebur.

Pesawat tempur, tank amfibi, dan mobil perang yang masih bisa ia lihat saat kecil kini hanya tersisa dua unit amfibi.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Botol bekas minuman lemon dan soda tentara Amerika Serikat sisa peninggalan Perang Dunia II di Morotai, Maluku Utara.
Aksi Muhlis ialah upaya kecil membuka Morotai sebagai gerbang Pasifik. Posisi Morotai yang strategis dalam Perang Dunia II menjadikannya sebagai bagian dari strategi lompat katak panglima perang Jenderal Douglas MacArthur untuk merebut kembali Filipina dari Jepang. (Lucky Pransiska)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Juli 2016, di halaman 32 dengan judul "Sejarah Perang di Balik Gubuk Muhlis Eso".



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X