Tiga Hambatan Pengembangan Wisata Halal di Indonesia

Kompas.com - 06/08/2016, 17:04 WIB
Pengunjung menikmati jernihnya Sungai Brayeun, Leupung, Kabupaten Aceh Besar, Minggu (3/1/2016). Sungai Brayeun menjadi obyek wisata alternatif bagi wisatawan saat berkunjung ke Aceh Besar. Minat wisatawan berkunjung ke Sungai Brayeun pun meningkat. KOMPAS/ZULKARNAINIPengunjung menikmati jernihnya Sungai Brayeun, Leupung, Kabupaten Aceh Besar, Minggu (3/1/2016). Sungai Brayeun menjadi obyek wisata alternatif bagi wisatawan saat berkunjung ke Aceh Besar. Minat wisatawan berkunjung ke Sungai Brayeun pun meningkat.
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan tiga hambatan yang dihadapi Indonesia dalam mengembangkan wisata halal. Tiga hal itu terkait dengan persepsi masyarakat dan sertifikasi halal.

"Ini kelemahan umumnya bangsa Indonesia apalagi Aceh. Saya rasa di Aceh ini lebih parah. Satu, karena satu kita sudah merasa halal. Kalau saya merasa halal, aneh misalnya di rumah sendiri saya tulisi makanan ini halal," kata Arief saat membuka acara Aceh International Rapa'i Festival di Balairung Soesilo Soedarman Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Jakarta, Kamis (7/8/2016) malam.

Ia mengatakan, hal tersebut muncul karena masyarakat Indonesia merasa sebagai hal yang biasa ditemukan. Menurut Arief, persepsi itu adalah yang paling berbahaya dalam mengembangkan wisata halal.

"Mereka (restoran, hotel, atraksi wisata, dan sumber daya manusia) perlu disertifikasi," jelasnya.

Hal lain yang menghambat pengembangan wisata halal di Indonesia adalah persepsi tentang negara Muslim terbesar. Menurut Arief, dengan persepsi itu lalu muncul anggapan turis mancanegara Muslim akan berkunjung ke Indonesia seperti Aceh.

"Itu (pemikiran) yang salah. Turis itu akan datang ke pelayanan terbaik. Siapa yang melayani lebih bagus akan. Itu yang akan mendapatkan lebih," lanjutnya.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Berwisata di Taman Bunga Nusantara, Jawa Barat.
Hal terakhir yang menghambat pengembangan wisata halal, lanjut Arief adalah tidak ingin disertifikasi wisata halal. Menurutnya, penolakan tersebut karena sudah merasa telah menerapkan standar halal dan sudah berasal dari negara Islam.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata, Riyanto Sofyan menyebutkan, promosi wisata halal tidak dapat dilakukan dengan bermodalkan persepsi keunggulan yang telah dimiliki. Menurutnya, setiap pemain industri pariwisata harus memiliki standar yang diakui oleh dunia pariwisata internasional.

"Makanya ada sertifikasi itu hal yang mutlak. Padahal kehalalan, syariat, dan gaya hidup halal di Indonesia paling top sedunia. Pihak tim percepatan pariwisata halal sudah diajak OIC (Organization of Islamic Cooperation) dari negara-negara OKI untuk bisa membantu mereka halal hospitality itu seperti apa. Bahkan dari Malaysia berkunjung ke kita, halal hospitality itu apa," kata Riyanto setelah jumpa pers.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi menanggapi hambatan yang juga juga menjadi tantangan bagi Aceh. Ia mengaku terkejut dengan tantangan yang dihadapkan untuk Aceh.

SERAMBI/M ANSHAR Turis dari kapal pesiar MV Clipper Odyssey mengenakan pakaian khusus saat memasuki kompleks Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (10/1/2013). Kapal yang mengangkut 150 penumpang dari berbagai negara dalam tour wisata Zegrahm Expedition tersebut melego jangkar selama enam jam di lepas pantai Banda Aceh untuk membawa para turis melakukan city tour ke beberapa situs sejarah dan tsunami Aceh.
"Kami akan bekerja keras dalam segi promosi dan penyiapan destinasi. Hal-hal yang berkaitan dengan sumber daya manusia untuk berfokus kepada wisata halal. Insya Allah kita akan siapkan," ujar Reza setelah jumpa pers.

Saat ini potensi kunjungan wisata halal dari Timur Tengah bisa tercermin dari banyaknya maskapai penerbangan yang terbang dari Timur Tengah menuju Indonesia, mulai dari Emirates, Qatar, Etihad, reguler masuk ke Tanah Air. Turis Timur Tengah sendiri  menyukai wisata alam dan taman hiburan.

Dikutip dari Antara, terdapat sekitar 140 juta perjalanan wisata dari penduduk Timur Tengah tiap tahunnya dan sebagian besar ke Eropa. Untuk kawasan ASEAN, pilihan pertama mereka adalah ke Thailand, Singapura, Malaysia dan Indonesia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X