Kabupaten Gianyar, Denyut Wisata Budaya di Bali

Kompas.com - 11/08/2016, 10:14 WIB
Umat Hindu dan wisatawan mengantre untuk menikmati kesegaran air pancuran di obyek wisata pemandian suci Tirta Empul yang menjadi satu kompleks dengan Istana Tampaksiring di Ubud, Bali, Minggu (7/8/2016). Potensi wisata alam dan adat menjadi andalan pariwisata Gianyar. KOMPAS/RIZA FATHONIUmat Hindu dan wisatawan mengantre untuk menikmati kesegaran air pancuran di obyek wisata pemandian suci Tirta Empul yang menjadi satu kompleks dengan Istana Tampaksiring di Ubud, Bali, Minggu (7/8/2016). Potensi wisata alam dan adat menjadi andalan pariwisata Gianyar.
EditorI Made Asdhiana

AKTIVITAS berkesenian seakan hidup di setiap pelosok wilayah Kabupaten Gianyar, Bali. Melintasi ruas Jalan Raya Batubulan-Jalan Singapadu, Kecamatan Sukawati, menuju kawasan Ubud, di kiri-kanan jalan berderet patung dan relief bercorak Bali yang dipajang di depan rumah warga. Hasil kerajinan warga itu bukan sekadar pajangan penghias, melainkan juga barang yang dijual.

Tidak hanya lelaki, perempuan di wilayah Singapadu juga menghidupkan seni ukir patung berbahan padas atau campuran serbuk padas dan semen. Kamis (28/7/2016) pagi, Ni Made Murdiasih (43) tengah menatah patung berbahan padas. Murdiasih berada di antara jajaran patung yang dipajang di depan rumahnya.

”Sekarang sedang sepi. Tetapi, satu-dua pembeli masih ada yang membeli patung,” katanya dengan ramah.

Pagi itu, Murdiasih menyelesaikan patung berbentuk mahkota. Ia mengatakan, patung itu untuk dijual.

Suasana di kawasan Sukawati tersebut seolah mengantarkan wisatawan menuju Ubud, ikon wisata Gianyar, bahkan Bali. Ubud merupakan desa wisata internasional yang memiliki vibrasi spiritual dan seni, budaya, serta alam yang memesona.

Dari Ubud-lah kepariwisataan Gianyar berawal. Dalam situs Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar disebutkan, ini bermula pada 1920-an saat Walter Spies, pelukis kelahiran Jerman, menetap di Ubud.

Setelah Spies, sejumlah seniman asing lain, seperti Rudolf Bonnet dan Arie Smit dari Belanda, juga datang ke Ubud untuk menemukan inspirasi kreasi mereka. Pendiri Neka Art Museum, Pande Wayan Suteja Neka, mengatakan, seniman-seniman menebarkan pengaruh seni modern kepada masyarakat setempat yang di nadi mereka sudah mengalir darah seni.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X